Banten

20.980 Prajurit TNI AL Disiagakan di Jakarta, Dokumen Pengerahan Ini Bikin Publik Bertanya-tanya!

Aullia Rachma Puteri | 3 November 2026, 21:11 WIB
20.980 Prajurit TNI AL Disiagakan di Jakarta, Dokumen Pengerahan Ini Bikin Publik Bertanya-tanya!
TNI dikerahkan untuk cegarh kerusuhan usai listyo sigit ditangkap

AKURAT BANTEN – Rencana penyiagaan 20.980 personel TNI Angkatan Laut (TNI AL) di wilayah DKI Jakarta menjadi perhatian publik.

Informasi tersebut mencuat ketika situasi politik dan keamanan nasional tengah menjadi sorotan menyusul penetapan mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo sebagai tersangka dalam perkara dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto.

Rencana pengerahan pasukan itu tertuang dalam sebuah dokumen yang beredar pada 3 November 2026.

Di dalamnya tercantum skema penguatan pengamanan ibu kota melalui empat tahapan, dengan melibatkan personel dari berbagai satuan TNI AL.

Baca Juga: Tiga Tersangka Penyadapan Ilegal Masuk Rutan Mabes Polri, Nama Listyo Sigit Jadi Sorotan!

Jumlah yang disiapkan terbilang besar karena mencapai hampir 21 ribu prajurit.

Sebagian personel telah berada di Jakarta, sementara lainnya direncanakan didatangkan dari sejumlah wilayah di Indonesia.

Ada pula ribuan prajurit yang ditempatkan dalam status siaga sambil menunggu instruksi pergerakan.

Tahap awal rencana tersebut dimulai pada 2 November 2026.

Baca Juga: Dari Kapolda Banten hingga Kepala KSP, Perjalanan Listyo Sigit Kini Jadi Sorotan

Sebanyak 2.100 personel yang sudah berada di Jakarta disiapkan untuk memperkuat pengamanan.

Mereka berasal dari Korps Marinir, Koarmada I, Kodaeral III, dan Kolinlamil.

Dalam skema tersebut, pasukan ditempatkan melalui mekanisme bantuan kendali operasi atau BKO.

Penempatan ini dimaksudkan untuk mendukung kebutuhan pengamanan di wilayah ibu kota.

Baca Juga: Geger! Listyo Sigit dan Dua Jenderal Polri Jadi Tersangka, Penyadapan Prabowo Terbongkar

Berikutnya, sebanyak 3.500 prajurit dari satuan luar Jakarta masuk dalam tahap kedua.

Pergerakan sebagian pasukan dijadwalkan berlangsung pada 3 hingga 4 November 2026 dengan memanfaatkan kapal perang KRI Makassar dan KRI dr. Soeharso.

Personel yang masuk dalam gelombang tersebut berasal dari sejumlah satuan, antara lain Koarmada II, Kodaeral V, Pasmar 2, serta beberapa pangkalan dan unsur TNI AL lainnya.

Tahap ketiga mencakup 2.240 prajurit yang direncanakan menuju Jakarta melalui jalur darat.

Baca Juga: Nama Listyo Sigit Terseret Kasus Penyadapan Presiden Prabowo, Ada Apa di Mabes Polri?

Perjalanan mereka menggunakan bus dan truk dengan melibatkan personel dari Koarmada II, Pasmar 2, Puspenerbal, Akademi Angkatan Laut, Kodiklatal, serta sejumlah satuan lainnya.

Sementara itu, jumlah terbesar berada pada tahap keempat.

Sebanyak 13.140 personel disiapkan dalam posisi siaga dan belum diperintahkan untuk bergerak.

Mereka terdiri atas 4.430 personel Mabesal di Cilangkap, 4.410 prajurit Korps Marinir, serta anggota dari berbagai satuan TNI AL lainnya.

Baca Juga: Mahfud MD Bongkar Rencana Pergantian Listyo Sigit yang Sempat Tertunda, Nama Gibran Ikut Muncul

Jika seluruh tahapan dijalankan, total kekuatan yang tercantum dalam dokumen mencapai 20.980 personel.

Selain jumlah pasukan, dokumen tersebut juga memuat rincian kebutuhan biaya pergeseran personel non-Marinir sebesar Rp520,5 juta.

Anggaran itu mencakup kebutuhan makan selama perjalanan melalui jalur laut dan darat, serta penyewaan 15 bus untuk rute Surabaya-Jakarta.

Rencana tersebut dikaitkan dengan Surat Telegram Panglima TNI Nomor STR/96/2026 tertanggal 2 November 2026 mengenai pengerahan pasukan untuk pengamanan situasi dan kondisi keamanan.

Baca Juga: Bukan Jabatan Biasa! Listyo Sigit dan Dedi Prasetyo Dapat Bintang Mahaputera dari Prabowo

Meski demikian, dokumen yang beredar tidak secara tegas menyebut penetapan Listyo Sigit sebagai alasan pengerahan pasukan.

Belum dapat dipastikan pula apakah rencana tersebut secara khusus ditujukan untuk mengantisipasi kerusuhan atau aksi massa.

Karena itu, masyarakat perlu menunggu penjelasan resmi TNI mengenai tujuan, pelaksanaan, serta kondisi yang melatarbelakangi penyiagaan personel dalam jumlah besar tersebut.

Kepastian informasi menjadi penting agar rencana pengamanan tidak berkembang menjadi spekulasi di tengah situasi nasional yang sensitif.

Baca Juga: 'Lebih Baik Jadi Petani!': Kapolri Listyo Sigit Meledak, Tolak Mentah-Mentah Wacana Polri di Bawah Kementerian

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.