Banten

Ancaman Baru Trump ke Iran Menguat di Tengah Temuan Intelijen yang Dinilai Tidak Mendesak

Moehamad Dheny Permana | 31 Januari 2026, 11:42 WIB
Ancaman Baru Trump ke Iran Menguat di Tengah Temuan Intelijen yang Dinilai Tidak Mendesak

Akurat Banten - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menegaskan sikap kerasnya terhadap Iran dengan membuka opsi serangan militer, meski laporan intelijen terbaru menyebut program nuklir Teheran belum menunjukkan ancaman langsung bagi Washington saat ini.

Sikap tersebut muncul di tengah penilaian aparat intelijen Amerika Serikat dan Israel yang menyimpulkan bahwa aktivitas nuklir Iran masih berada pada level terkendali dan belum mengarah pada pengembangan senjata nuklir dalam waktu dekat.

Laporan khusus The New York Times mengungkapkan bahwa hingga enam bulan setelah serangan militer AS pada Juni tahun lalu, tidak ditemukan bukti kuat Iran kembali mengaktifkan pengayaan uranium tingkat tinggi atau mempercepat produksi rudal balistik baru.

Temuan itu justru memicu pertanyaan di kalangan pejabat AS dan Eropa mengenai urgensi serta dasar waktu ancaman baru yang kini kembali dilontarkan pemerintahan Trump terhadap Iran.

Pada Juni 2025, Trump secara terbuka memperingatkan Teheran agar segera berdamai dengan AS, seraya menegaskan bahwa serangan lanjutan di masa depan akan “semakin parah dan semakin mudah” jika Iran menolak.

Nada ancaman serupa kembali disampaikan pekan ini ketika Trump mendorong Iran untuk kembali ke meja perundingan terkait isu nuklir yang telah lama buntu.

Juru Bicara Gedung Putih Anna Kelly menegaskan bahwa posisi Trump tidak berubah dan menyebut Iran sebagai “negara pendukung terorisme nomor wahid sedunia yang tidak boleh dibiarkan memiliki senjata nuklir”.

Sejalan dengan pernyataan tersebut, Departemen Pertahanan AS meningkatkan kehadiran militernya di Timur Tengah melalui pengerahan besar-besaran kekuatan tempur.

Baca Juga: Kejutan di Bangkok! Duet Baru Rian/Rahmat Tembus Semifinal Thailand Masters 2026, Rian Ardianto: ‘Kami Makin Percaya Diri!’

Langkah itu mencakup pengiriman kapal induk USS Abraham Lincoln, skuadron pesawat tempur, sistem pertahanan rudal, serta puluhan ribu personel militer ke kawasan strategis tersebut.

Namun di balik sikap terbuka yang agresif, sejumlah pejabat senior AS secara tertutup mengakui bahwa arah eskalasi konflik dan dampak lanjutan dari konfrontasi militer masih penuh ketidakpastian.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bahkan menyampaikan keraguan serupa dalam rapat dengar pendapat dengan Senat AS.

“Itu adalah pertanyaan terbuka,” kata Rubio saat ditanya mengenai konsekuensi yang mungkin muncul jika kepemimpinan Iran runtuh akibat tekanan eksternal.

Rubio juga menekankan bahwa struktur kekuasaan di Iran tidak terpusat sepenuhnya, melainkan terbagi antara Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC.

Sementara itu, kalangan intelijen menilai cadangan uranium yang sempat terdampak serangan AS tahun lalu masih terkubur di bawah tanah dan belum dapat diakses.

Kondisi tersebut membuat pemulihan cepat produksi senjata nuklir Iran dinilai kecil kemungkinannya dalam waktu dekat.

Meski demikian, Iran disebut terus menggali lebih dalam fasilitas nuklirnya di sekitar Natanz dan Isfahan, yang menandakan upaya perlindungan jangka panjang terhadap infrastruktur strategisnya.

Di dalam negeri AS, pendekatan keras pemerintahan Trump menuai kritik dari sejumlah legislator Partai Demokrat.

Baca Juga: Bukan Jakarta, Ternyata Ini Alasan Menyentuh Denada Pilih Banyuwangi untuk Tempat Tinggal Ressa Rizky Rossano

Anggota DPR AS Jason Crow dari Colorado menyatakan bahwa strategi berbasis ancaman militer justru berisiko memperburuk situasi keamanan regional.

“Yang dibutuhkan saat ini bukan unjuk kekuatan, melainkan kesepakatan permanen dan dapat diverifikasi untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir,” ujar Crow.

Perdebatan ini menunjukkan bahwa di tengah minimnya bukti ancaman langsung, kebijakan AS terhadap Iran masih diwarnai tarik-menarik antara tekanan militer dan jalur diplomasi.***

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.