Banten

9 Jam Bertaruh Nyawa demi Sesuap Nasi: Kisah Ibu di Tapanuli Tengah Tembus Medan Banjir Sambil Memanggul Sembako

Saeful Anwar | 21 Desember 2025, 10:39 WIB
9 Jam Bertaruh Nyawa demi Sesuap Nasi: Kisah Ibu di Tapanuli Tengah Tembus Medan Banjir Sambil Memanggul Sembako

  • Kisah haru seorang ibu di Tapanuli Tengah yang rela berjalan kaki 9 jam menembus medan banjir demi membawa bantuan sembako. Simak perjuangan heroiknya di sini.

AKURAT BANTEN– Di balik hamparan lumpur dan puing sisa banjir yang menerjang Sumatera, sebuah video amatir mendadak viral dan menggetarkan hati netizen.

Bukan tentang kemarahan atau keluhan, melainkan tentang ketangguhan luar biasa seorang ibu yang rela berjalan kaki selama sembilan jam demi membawa pulang bantuan logistik untuk keluarganya.

Kisah yang memicu haru ini diunggah oleh akun TikTok @apa aja pada Sabtu (20/12/2024).

Video tersebut merekam potret nyata perjuangan rakyat kecil di tengah lumpuhnya akses transportasi akibat bencana alam.

Baca Juga: GUCI BERDUKA: Detik-detik Banjir Bandang 'Menelan' Pancuran 13, Wisata Legendaris Tegal Kini Lumpuh

Perjalanan 9 Jam: Antara Peluh dan Harapan

Bagi warga perkotaan, waktu sembilan jam mungkin setara dengan perjalanan lintas provinsi menggunakan kendaraan nyaman.

Namun, bagi wanita tangguh asal Tapanuli Tengah ini, sembilan jam adalah durasi taruhan fisik dan mental untuk menyusuri jalanan yang hancur.

Dalam rekaman tersebut, tampak sang ibu memanggul beban berat di pundaknya. Napasnya terdengar terengah-engah, namun sorot matanya tetap memancarkan ketegaran.

"Terima kasih buat sembakonya. Ini kami sudah perjalanan pulang, semoga tidak hujan ya," ucapnya dengan nada syukur yang tulus, meski keletihan tak mampu disembunyikan dari wajahnya.

Baca Juga: Rakor Rp900 Juta Pemkab Tangerang dan Konser Repvblik di Bandung: Saat Pejabat Berpesta, Rakyat Tangerang Menjerit Soal Jalan Rusak!

Menantang Maut di Jalur Terisolasi

Putusnya akses jalan utama memaksa warga harus mengandalkan kekuatan kaki.

Tidak ada pilihan lain; menunggu bantuan datang ke depan pintu adalah kemewahan yang tidak mereka miliki saat ini.

Medan yang licin dan ancaman longsor susulan membayangi setiap langkahnya.

Tanpa alas kaki yang memadai atau peralatan canggih, modal utamanya hanyalah tekad. "Kami butuh tenaga, untuk perjalanan kami butuh waktu sembilan jam.

Semangat!" serunya, seolah sedang menyemangati dirinya sendiri agar kaki itu tidak berhenti melangkah sebelum sampai ke pelukan keluarga.

Baca Juga: GILA! Indosiar Raup Rp5,3 Miliar dari Koin ‘Dangdut Academy 7’ dalam Semalam, Netizen: Ajang Cari Bakat atau Cari Duit?

Doa di Tengah Ketidakpastian

Di akhir video, wanita tersebut menitipkan sebuah permohonan sederhana namun menyayat hati bagi siapa saja yang menonton.

Ia tidak meminta harta, ia hanya meminta doa agar perjalanannya tidak dihadang bahaya.

"Doakan semoga perjalanan kami aman-aman, tidak ada bahaya," pungkasnya lirih.

Baca Juga: ‘Bersih-Bersih Rumah’: Kejagung Sikat 3 Jaksa Banten dalam Skandal Pemerasan WN Korea

Refleksi: Mahalnya Harga Sebuah Bantuan

Kisah ibu dari Tapanuli Tengah ini adalah tamparan sekaligus pengingat nyata betapa timpangnya distribusi logistik di wilayah terpencil pascabencana.

Di saat kita dengan mudah memesan makanan lewat aplikasi, di sudut lain negeri ini, ada seorang ibu yang harus menukar sembilan jam keringatnya hanya untuk sekantong beras dan mie instan.

Video ini kini menjadi simbol resiliensi masyarakat lokal sekaligus panggilan bagi pihak berwenang untuk mempercepat pemulihan akses infrastruktur agar tak ada lagi "perjalanan sembilan jam" hanya untuk menyambung hidup (**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
Abdurahman