Banten

Jalan Putus Memaksa Petani Aceh Tengah Pikul Cabai Demi Jangkau Pasar Lhokseumawe

Moehamad Dheny Permana | 14 Desember 2025, 09:40 WIB
Jalan Putus Memaksa Petani Aceh Tengah Pikul Cabai Demi Jangkau Pasar Lhokseumawe

Akurat Banten - Jalur penghubung antara Aceh Tengah dan Lhokseumawe yang lumpuh akibat banjir bandang dan longsor dua pekan lalu membuat para petani di Kecamatan Ketol terpaksa menempuh perjalanan panjang dengan memanggul cabai hanya untuk bisa menjual hasil panen mereka.

“Karena akses tidak bisa dilalui motor, kami terpaksa berjalan di lumpur setinggi lutut selama berjam-jam,” kata Riza Alpiandi, salah satu petani yang ditemui di kawasan Lhokseumawe.

Ia berangkat bersama ayah, paman, dan iparnya menggunakan jalur KKA menuju kota tujuan.

Dari kampung halaman, mereka masih bisa menunggangi sepeda motor, tetapi perjalanan itu hanya bertahan sampai Kampung Buntul, Kecamatan Permata, Bener Meriah.

Selebihnya, mereka harus berjalan kaki menyusuri jalanan yang terputus dan tertimbun material longsor.

“Dari kampung sampai Buntul masih bisa naik motor, setelah itu jalan kaki sekitar 20 kilometer menuju Kampung Kem,” ujarnya.

Perjalanan mereka memakan waktu hingga empat jam, dengan medan yang licin, berlumpur, dan beberapa titik hampir tak bisa dilewati.

Baca Juga: Gelombang EV Terancam Melambat, BYD Desak Pemerintah Perpanjang Insentif Hingga 2026

Setiap orang memanggul cabai antara 25 hingga 33 kilogram, yang mereka panen sehari sebelumnya agar tetap segar saat tiba di pasar.

Sesampainya di Kampung Kem, barulah mereka bisa melanjutkan dengan ojek menuju Lhokseumawe.

“Untung ada ojek yang mau antar kami, harganya Rp50 ribu per orang, sangat membantu di kondisi seperti ini,” kata Riza.

Nekatnya para petani menembus jalur ekstrem ini bukan tanpa alasan kuat.

Harga bahan pokok di kampung melonjak tajam pasca-bencana.

Beras yang biasanya dijual sekitar Rp230 ribu per karung kini melambung menjadi Rp400 ribu hingga Rp500 ribu.

Sementara harga cabai di Aceh Tengah justru anjlok hingga Rp10 ribu per kilogram.

Petani lain, Muslim, mengaku tak punya pilihan selain menjual hasil panennya ke Lhokseumawe, di mana cabai dihargai lebih baik, yakni sekitar Rp40 ribu per kilogram.

“Harga di kampung terlalu murah, sementara kebutuhan di rumah meningkat,” ujar Muslim.

Baca Juga: Jungle Wonderland with deHakims Ajak Anak-anak Kenal Satwa di Mal Ciputra Tangerang

Ia berharap dagangannya cepat laku agar bisa segera membawa pulang beras untuk keluarganya.

“Saya harus pulang bawa beras, anak-anak menunggu,” katanya.

Para petani kini berharap pemerintah segera memperbaiki jalan yang tertutup longsor agar jalur distribusi kembali normal dan mereka tidak lagi harus mempertaruhkan fisik untuk menjual hasil panen.

Selama akses belum pulih, memikul cabai menembus lumpur tetap menjadi perjuangan sehari-hari petani Aceh Tengah.***

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.