Listrik Naik, Harga Ikut Melambung: Inflasi Jakarta April 2025 Tembus 1,44 Persen, Lampaui Nasional

Akurat Banten - Jakarta mencatatkan laju inflasi bulanan yang cukup signifikan pada April 2025.
Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta, inflasi bulanan (month-to-month) terhadap Maret 2025 mencapai 1,44 persen, melampaui inflasi nasional yang tercatat 1,17 persen.
Kepala BPS DKI Jakarta, Nurul Hasanudin, menyatakan bahwa berakhirnya diskon tarif listrik menjadi salah satu penyebab utama lonjakan inflasi.
"Inflasi pada bulan April tahun 2025 ini tercatat sebesar 1,44 persen, lebih tinggi dibandingkan angka nasional di 1,17 persen. Tarif listrik menjadi komoditas penyumbang inflasi yang cukup dominan," ungkapnya.
Baca Juga: Revisi Mutasi Anak Try Sutrisno, TNI Bantah Terkait Isu Politik
Berdasarkan catatan BPS, tarif listrik memberikan andil inflasi sebesar 1,30 persen, menjadikannya sebagai kontributor tertinggi.
Pemerintah sebelumnya memberikan diskon tarif listrik selama Januari dan Februari 2025, yang masih berpengaruh pada inflasi di bulan Maret dan April.
Namun, dengan berakhirnya diskon tersebut, masyarakat kembali menghadapi tarif normal yang turut memicu kenaikan harga-harga lainnya.
Selain listrik, emas perhiasan turut menyumbang inflasi sebesar 0,12 persen.
Hal ini dipengaruhi oleh fluktuasi harga emas global dan emas Antam yang berdampak langsung terhadap harga emas di toko-toko lokal yang disurvei BPS.
Baca Juga: Larang TNI jadi Alat Politik Kekuasaan, Hendardi Tegaskan Alasan Batalnya Mutasi 7 Pati
Beberapa komoditas pangan seperti bawang merah (0,06 persen), bawang putih (0,04 persen), dan tomat (0,03 persen) juga ikut menyumbang inflasi.
Harga-harga bahan pangan tersebut dipengaruhi oleh pasokan dan distribusi menjelang bulan-bulan sibuk.
Namun demikian, tidak semua harga mengalami kenaikan.
Baca Juga: Air Mata Perpisahan Warnai Akhir Kisah Kompas Sport Pagi: Lebih dari Sekadar Berita Olahraga
Beberapa komoditas justru menyumbang deflasi, seperti cabai rawit dan bensin masing-masing sebesar 0,04 persen, daging ayam ras (0,03 persen), serta tarif pulsa ponsel dan transportasi seperti angkutan antarkota dan angkutan udara yang menyumbang deflasi masing-masing 0,02 persen.
Kondisi ini menunjukkan adanya tekanan inflasi yang cukup tinggi di ibu kota, yang perlu diantisipasi oleh pemangku kebijakan, terutama terkait kebijakan energi dan stabilisasi harga pangan.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Bikin Geger! MK Segera Sidangkan Gugatan Gibran, Ini Isi Permohonannya hingga Nasib Kursi Wakil Presiden
- 2Pendidikan Gibran di Australia Disorot Lagi, Sosok Ini Ungkap Temuan Mengejutkan soal UTS Insearch
- 3Surat Kesetaraan Gibran Digugat, Muncul Tawaran Tak Terduga, Ikut Paket C?
- 4Makin Panas! Ijazah Gibran Masuk MK, Bisakah Berujung pada Pemakzulan Wakil Presiden?
- 5Mantan Kapolsek Pinang Iptu Adityo Wijanarko Resmi Jabat Kanit Reskrim Polsek Kelapa Dua
- 6Truk Air Damkar Tertahan di Tol Janger Gara-gara E-Tol, Pemadaman TPS Pinang Sempat Terhambat
- 7Gibran Ditantang Hentikan MBG Usai Kasus Keracunan, Langkah Pemerintah Jadi Sorotan
- 8Heboh Suahasil Nazara Dituding Korupsi Rp500 Triliun, Ternyata Judul Beritanya Dipalsukan
- 9Bahlil Bikin Kejutan Jelang 2029, Bukan Nyapres Malah Pilih Bertarung dari Papua
- 10Gibran Digadang Capres 2029, Pernyataan Ali Syarief soal Prabowo Bikin Wacana Makin Panas









