Banten

Indonesia Incar Lompatan Besar di Pertahanan Siber, Belajar Langsung dari Singapura

Moehamad Dheny Permana | 22 Juli 2025, 19:23 WIB
Indonesia Incar Lompatan Besar di Pertahanan Siber, Belajar Langsung dari Singapura

Akurat Banten - Dalam era digital yang semakin kompleks, ancaman tak hanya datang dari darat, laut, dan udara, tapi juga dari ruang siber.

Indonesia kini mulai melirik langkah-langkah besar untuk memperkuat lini pertahanan digitalnya.

Salah satu upaya konkret adalah menjalin kerja sama erat dengan Singapura, negara tetangga yang sudah lebih dahulu membentuk satuan siber militer khusus bernama Digital Intelligence Service (DIS).

Pertemuan strategis antara Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin dan Panglima Militer Singapura, Admiral Aaron Beng, di Jakarta, menjadi panggung awal kerja sama penting ini.

Keduanya sepakat bahwa stabilitas kawasan tak hanya bergantung pada alutsista konvensional, tetapi juga kemampuan bertahan dari serangan siber yang bisa menyerang dari jarak tak kasatmata.

Baca Juga: Dugaan Suap Proyek Pengerukan Empat Pelabuhan Terus Diusut KPK

“Kita ingin belajar dari Singapura dan Singapura juga ingin membagikan ilmunya karena mereka sudah settle sebagai sebuah matra baru,” ungkap Brigadir Jenderal TNI Frega Ferdinand Wenas Inkiriwang, Kepala Biro Informasi Pertahanan, di Kantor Kemenhan, Jakarta Pusat.

Langkah ini bukan sekadar retorika. Indonesia menyadari bahwa perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat telah membuat data menjadi aset strategis.

Serangan siber bisa melumpuhkan sistem komunikasi militer, meretas dokumen rahasia negara, bahkan mengganggu jaringan logistik militer secara masif.

Singapura sendiri telah menjadi panutan dalam pembangunan matra siber militer.

Sejak 2022, negara kota ini telah menjadikan Digital Intelligence Service sebagai matra keempat militer, setara dengan Angkatan Darat, Laut, dan Udara.

DIS dibentuk bukan hanya sebagai alat pertahanan, tetapi juga sebagai pengumpul dan pengolah intelijen siber untuk mendukung strategi militer nasional Singapura.

Baca Juga: Geger! Satpam Ditemukan Tewas di Apartemen Kemang, Polisi Selidiki Dugaan Kejanggalan

Indonesia, meski sempat menggulirkan wacana pembentukan Matra Siber di tingkat DPR dan Kemenhan saat akhir pemerintahan Presiden Joko Widodo, hingga kini belum melangkah lebih lanjut.

Padahal, gagasan itu cukup revolusioner dan menunjukkan kesadaran bahwa perang modern telah bergeser bentuknya.

Sayangnya, Brigjen Frega belum bisa membeberkan secara rinci bentuk kerja sama yang akan dijalin kedua negara.

Namun, ia menegaskan bahwa arah strategisnya adalah untuk membangun ketahanan siber nasional yang mumpuni dan siap menghadapi ancaman dunia maya.

Bagi Indonesia, kerja sama ini bisa menjadi titik balik untuk keluar dari ketertinggalan dalam pengembangan sistem pertahanan digital.

Baca Juga: Diduga Gegara Buru-buru Mau Upacara, Anggota Kodim Bantul Tabrak Pejalan Kaki hingga Tewas

Dengan belajar dari negara yang sudah matang membangun pertahanan sibernya, bukan tidak mungkin Indonesia bisa membentuk satuan militer khusus siber di masa mendatang.

Langkah ini menunjukkan bahwa pertahanan negara bukan lagi semata soal senjata dan pasukan di medan perang, tetapi juga bagaimana melindungi data, sistem, dan jaringan yang menopang pertahanan nasional.

Dunia terus berubah, dan Indonesia tampaknya tak ingin tertinggal dalam membangun kekuatan di medan pertempuran masa depan yaitu dunia maya.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.