Aksi Damai di Tengah Kota: Ketegasan Polisi dan Suara Ojol untuk Keadilan Tarif

Akurat Banten - Di kawasan Silang Selatan Monas berubah menjadi panggung demokrasi, ketika ratusan pengemudi ojek daring berkumpul menyuarakan keluh kesah mereka.
Di balik riuhnya orasi dan kibaran poster, ada pula kerja senyap namun tegas dari aparat keamanan yang berjaga demi menjaga situasi tetap kondusif.
Bukan hanya sekadar pengamanan biasa, kali ini lebih dari 1.600 personel gabungan dikerahkan untuk memastikan aksi tetap damai.
Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol Susatyo Purnomo Condro, menyampaikan pesannya dengan nada penuh harap, "Kami mohon kepada saudara-saudara yang akan berunjuk rasa agar menyampaikan pendapat dengan santun, tidak memprovokasi dan tidak melawan petugas."
Pesan tersebut bukan tanpa alasan.
Baca Juga: Aksi Pria Paruh Baya Membawa Sabu Terbongkar di Situbondo
Aksi ini membawa dua gelombang massa dari kelompok yang berbeda, namun memiliki benang merah yang sama yaitu keadilan atas sistem pembagian hasil antara aplikator dan mitra pengemudi.
Salah satu tuntutan paling menonjol adalah permintaan agar potongan dari aplikator dibatasi maksimal 10 persen.
Walaupun berbeda dari kebanyakan aksi yang biasanya diwarnai teriakan dan dorongan, suasana kali ini terasa lebih terkendali.
Di sinilah peran penting aparat terlihat. Petugas tidak hanya berdiri diam, tapi juga aktif mengingatkan peserta untuk menjaga ketertiban.
"Jangan membakar ban atau merusak fasilitas umum," ujar Susatyo dengan tegas.
Langkah-langkah pencegahan pun dilakukan.
Baca Juga: Bocah Digigit Ular Weling Meninggal Dunia Usai Jalani Perawatan Satu Bulan, Berikut Kronologinya
Tak satu pun petugas yang dibekali senjata api.
Ini bukan tanpa maksud. Pendekatan humanis diutamakan demi menjaga rasa aman di tengah masyarakat yang ingin menyampaikan aspirasi.
“Petugas akan melayani saudara-saudara kita dengan humanis dan profesional, namun tetap tegas dalam menjalankan tugas,” kata Kapolres.
Untuk warga yang tak terlibat dalam aksi, pihak kepolisian juga memberikan imbauan agar menghindari kawasan Monas dan menggunakan jalur alternatif.
Kemacetan memang tak terelakkan, namun setidaknya tidak sampai melumpuhkan aktivitas ibukota.
Di sisi lain, para pengemudi ojol menunjukkan bahwa mereka mampu menyuarakan hak tanpa harus menimbulkan kericuhan.
Poster-poster yang mereka bawa penuh dengan pesan moral. Beberapa dari mereka bahkan memilih duduk tenang sambil menunggu giliran menyampaikan orasi.
“Bukan soal uang semata, tapi soal keadilan,” ujar Rian, salah satu peserta aksi.
Momentum ini menjadi contoh nyata bahwa ketika suara rakyat disampaikan dengan tertib dan pihak keamanan hadir dengan sikap persuasif, harmoni di tengah perbedaan pun bisa tercipta.
Lebih dari sekadar unjuk rasa, hari itu menunjukkan wajah lain dari ibu kota: tempat di mana aspirasi bisa hidup berdampingan dengan keamanan, di mana tuntutan bisa disuarakan tanpa kekerasan.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1MA Batalkan Suket Ijazah Gibran, Mahfud MD Tegaskan Harus Diproses Pidana: 'Sudah Jelas!'
- 2TNI AL Kerahkan KRI Brawijaya-320, Meriam 127 mm dan 25 mm Diuji di Laut Jawa
- 3Balsa Sekulic Menggila! Persib Bungkam Melbourne Victory 2-0, Maung Bandung Makin Dekat ke 16 Besar
- 4Bikin Malu! Warga Australia Mengamuk Usai Melbourne Victory Dihancurkan Persib Bandung di Kandang Sendiri
- 5Data Pelanggan Fore Coffee Bocor? CEO Imbau Pengguna Segera Lakukan Langkah Penting Ini!
- 613 Siswa di Dramaga Bogor Masih Diobservasi, BGN Ungkap Dugaan Penyebab Gangguan Kesehatan
- 7Lionel Messi Lolos dari Hukuman Skorsing MLS, Ini Aturan Khusus yang Menyelamatkannya
- 8Amankan Terduga Pelaku Curanmor, Polsek Kelapa Dua Sita Kunci T Hingga Sajam
- 9Chelsea Bikin MU Makin Merana, Setan Merah Terancam Terjerumus ke Jurang Degradasi!
- 10MU Kembali Hancur! Martinez Kartu Merah, Chelsea Menang 2-0 dan Bikin Carrick Makin Tertekan









