Kontroversi Kylian Mbappe di China Belum Mereda, Permintaan Maaf Real Madrid Belum Cukup

AKURAT BANTEN - Permintaan maaf Kylian Mbappe, Real Madrid, dan La Liga ternyata belum mampu menghentikan gelombang kritik dari media serta masyarakat China.
Kontroversi tersebut masih menjadi perhatian selama dua hari terakhir meskipun sejumlah pihak telah menyampaikan pernyataan resmi.
Penulis Liu Xinwei melalui sebuah artikel menilai permintaan maaf Real Madrid pada 28 Oktober masih perlu dibuktikan ketulusan dan kelengkapannya.
Menurutnya, perubahan sikap Real Madrid yang sebelumnya memilih diam kemudian menyampaikan permintaan maaf kemungkinan dipengaruhi tekanan yang semakin besar.
Baca Juga: Lionel Messi Lolos dari Hukuman Skorsing MLS, Ini Aturan Khusus yang Menyelamatkannya
Tekanan tersebut mencakup potensi boikot konsumen, ancaman kehilangan pendapatan komersial, hingga desakan dari pihak penyelenggara La Liga.
Surat kabar Quang Minh menegaskan melalui komentarnya:
"Permintaan maaf hanyalah permulaan."
Artikel tersebut juga menyoroti belum adanya pengumuman dari perusahaan-perusahaan China mengenai kemungkinan menghidupkan kembali kerja sama dengan Mbappe.
Sebelumnya, beberapa merek besar telah menyatakan penghentian kemitraan mereka dengan penyerang Real Madrid tersebut.
Baca Juga: Cristiano Ronaldo Sudah Cetak 985 Gol, Tinggal 15 Gol Lagi Menuju Rekor 1.000 Gol
Penulis menilai pemulihan kepercayaan masyarakat China tidak cukup hanya melalui permintaan maaf.
Diperlukan tindakan nyata yang dapat membuktikan kesungguhan pihak-pihak terkait, dan proses tersebut membutuhkan waktu.
Pada 28 Oktober, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, turut memberikan tanggapan mengenai persoalan tersebut.
"Kami menghargai permintaan maaf yang diberikan oleh pihak yang terlibat."
Namun, Guo tidak memberikan jawaban langsung ketika ditanya mengenai kemungkinan penghentian aksi boikot.
Sikap tersebut memperlihatkan bahwa persoalan ini belum sepenuhnya selesai.
Kondisi itu juga berbeda dengan harapan komunitas sepak bola Prancis yang menginginkan kontroversi segera berakhir.
Pada 29 Oktober, Presiden Federasi Sepak Bola Prancis Philippe Diallo secara terbuka membela Mbappe.
Ia menegaskan bahwa kapten tim nasional Prancis tersebut tidak bermaksud menghina China dan telah memberikan penjelasan mengenai konteks pernyataannya.
"Saya rasa kita harus menutup pembicaraan ini sekarang, agar dia bisa melanjutkan musim dalam kondisi sebaik mungkin," kata Diallo kepada Ouest-France.
Sehari kemudian, situs China Guancha menerbitkan artikel yang menyoroti pernyataan Diallo.
Judul artikel tersebut mengisyaratkan bahwa Presiden Federasi Sepak Bola Prancis meminta masyarakat menghentikan kontroversi yang melibatkan Mbappe.
Perkembangan lain muncul pada 30 Oktober setelah Sina Finance memublikasikan tanggapan resmi dari merek olahraga asal Swiss, On.
Perusahaan tersebut diketahui menjalin kemitraan dengan Mbappe sejak September.
Perwakilan On untuk kawasan Asia-Pasifik memberikan pernyataan mengenai kontroversi tersebut.
"Setiap pernyataan yang dibuat oleh seorang atlet mencerminkan pendapat pribadi mereka. Kami menyambut baik permintaan maaf Kylian Mbappe."
On juga menegaskan penghormatan terhadap masyarakat dan budaya China.
Perusahaan tersebut menyatakan akan tetap menjaga hubungan dengan para mitranya.
Namun, ketika dimintai penjelasan oleh Sina Finance, On tidak memastikan apakah kerja sama dengan Mbappe akan dilanjutkan.
Perusahaan tersebut juga tidak menjelaskan alasan hilangnya sejumlah materi promosi yang berkaitan dengan Mbappe dari akun media sosialnya di China.
Situasi ini menarik perhatian karena Mbappe baru saja ditunjuk sebagai duta global On.
Ia juga terlibat dalam pengembangan produk sepak bola yang direncanakan meluncur pada 2027.
Sementara itu, tiga perusahaan China, yakni Mengniu, Dongpeng, dan Milkground, telah mengumumkan penghentian kemitraan dengan Mbappe mulai 27 Oktober.
Hingga perkembangan terakhir, belum ada kepastian bahwa kerja sama tersebut akan kembali dilanjutkan.
Tekanan juga mulai dirasakan La Liga akibat kontroversi tersebut.
Menurut laporan Reuters pada 29 Oktober, platform penyiaran China Migu tidak memasukkan pertandingan Racing Santander melawan Real Madrid ke dalam jadwal siaran akhir pekan.
Padahal, platform tersebut masih menayangkan sejumlah pertandingan sepak bola lainnya.
Pada 30 Oktober, Dongqiudi mengutip laporan surat kabar Spanyol Vozpopuli yang menyebut Presiden La Liga Javier Tebas mempertimbangkan perjalanan ke China untuk menyelesaikan krisis.
Bahkan, muncul kemungkinan Mbappe turut mengunjungi China sebagai bentuk itikad baik.
Namun, rencana tersebut masih sebatas opsi yang disebutkan sejumlah sumber dan belum menjadi keputusan resmi.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Warga Lippo Karawaci Geruduk Menara Matahari, Selain AJB Tak Jelas Pengelola Dinilai Buruk
- 2Cicilan Lunas Bertahun-tahun tapi Belum SHM? Tarif Iuran Bengkak Tanpa Transparansi, Ratusan Warga Lippo Karawaci Geruduk Menara Matahari
- 3TNI AL Kerahkan KRI Brawijaya-320, Meriam 127 mm dan 25 mm Diuji di Laut Jawa
- 4Gerindra Bela Gibran, Prabowo Tak Bisa Pecat Wapres Sepihak! Ini Aturan yang Wajib Dipahami
- 5Balsa Sekulic Menggila! Persib Bungkam Melbourne Victory 2-0, Maung Bandung Makin Dekat ke 16 Besar
- 6Bikin Malu! Warga Australia Mengamuk Usai Melbourne Victory Dihancurkan Persib Bandung di Kandang Sendiri
- 7Data Pelanggan Fore Coffee Bocor? CEO Imbau Pengguna Segera Lakukan Langkah Penting Ini!
- 8Bukan Sekadar Bus Baru, Uji Coba DAMRI di Serang Membuka Peluang Transportasi Masa Depan
- 9Kontroversi Kylian Mbappe di China Belum Mereda, Permintaan Maaf Real Madrid Belum Cukup
- 10Lionel Messi Lolos dari Hukuman Skorsing MLS, Ini Aturan Khusus yang Menyelamatkannya







