Banten

Luka Tertusuk Paku Berujung Pilu: Antara Penolakan Puskesmas dan Tragisnya Layanan Darurat Kosong

Saeful Anwar | 12 April 2025, 16:44 WIB
Luka Tertusuk Paku Berujung Pilu: Antara Penolakan Puskesmas dan Tragisnya Layanan Darurat Kosong

 

AKURAT BANTEN-Dunia maya baru-baru ini dihebohkan dengan curhatan seorang ayah di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Pramudia, nama ayah tersebut, harus menelan kekecewaan pahit ketika niatnya untuk mengobati sang buah hati yang berusia tujuh tahun, yang malang tertusuk paku, berujung penolakan di Puskesmas Cikarang Utara.

Video yang viral memperlihatkan bagaimana petugas Puskesmas menolak melayani dengan alasan jam pelayanan telah usai dan antrean masih panjang.

Baca Juga: Langkah Berani Prabowo: Indonesia Ulurkan Tangan Evakuasi Ribuan Warga Gaza di Tengah Konflik Berkepanjangan

Ironisnya, kejadian yang terjadi pada Rabu (9/4/2025) ini kontras dengan tujuan utama Puskesmas sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat.

Pramudia, dengan bantuan relawan, akhirnya terpaksa membawa anaknya ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan yang dibutuhkan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi, Alamsyah, bergerak cepat merespons viralnya kejadian ini.

Baca Juga: Jeratan Hukum Menanti Dokter PPDS, Polda Jabar Ungkap Deretan Korban

Evaluasi terhadap pelayanan Puskesmas Cikarang Utara pun segera dilakukan. Alamsyah memastikan bahwa sang anak telah mendapatkan penanganan medis di RSUD Kabupaten Bekasi.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Cikarang Utara, dr Novrizal, memberikan klarifikasi terkait kejadian tersebut.

Menurut dr Novrizal, pasien tiba pukul 20.37 WIB, di mana saat itu masih terdapat sekitar 20 pasien lain yang menunggu pemeriksaan.

Baca Juga: Tips dan Trik Mengelola Keuangan Usaha bagi Pengusaha Pemula

Ia juga menjelaskan bahwa Puskesmas Cikarang Utara memang melayani hingga pukul 21.00 WIB, namun berstatus non rawat inap dan tidak memiliki fasilitas Instalasi Gawat Darurat (IGD) 24 jam.

Lebih lanjut, dr Novrizal mengungkapkan bahwa kasus tertusuk paku memerlukan serum Anti Tetanus (ATS) yang tidak tersedia di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti Puskesmas.

Oleh karena itu, petugas menyarankan agar pasien langsung menuju IGD rumah sakit tanpa memerlukan surat rujukan.

Baca Juga: Bisnis Properti 2025: Masih Menguntungkan atau Mulai Kehilangan Daya Tarik?

Sayangnya, terjadi miskomunikasi yang menyebabkan pasien bersikeras untuk tetap dilayani di Puskesmas.

Pihak Puskesmas menyayangkan kesalahpahaman ini dan menekankan pentingnya komunikasi yang efektif, terutama dalam situasi darurat.

Mereka juga berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan edukasi kepada masyarakat terkait penanganan kasus kegawatdaruratan.

Baca Juga: Dampak AI terhadap Industri Bisnis: Ancaman atau Peluang yang Menguntungkan?

Tragedi di Madura: IGD Kosong Merenggut Nyawa

Di sisi lain, kabar memilukan datang dari Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur.

Pelayanan di Puskesmas Torjun menjadi sorotan tajam setelah seorang bocah berusia 9 tahun, RU, meninggal dunia diduga akibat terlambat mendapatkan penanganan medis di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) Puskesmas setempat pada Rabu (26/3/2025).

Keterangan dari paman korban, Gani, sungguh memprihatinkan. Saat RU yang sakit parah dilarikan ke IGD Puskesmas Torjun, ironisnya, tidak ada satu pun petugas medis yang berjaga.

Baca Juga: Pertarungan Investasi: Kripto vs. Saham, Siapa yang Lebih Unggul di Era Digital?

Keluarga yang panik berusaha mencari bantuan ke seluruh ruangan Puskesmas, namun tak menemukan seorang pun tenaga medis.

Setelah sekitar 30 menit berlalu, barulah seorang petugas datang dan kemudian menghubungi rekan-rekannya.

Namun, takdir berkata lain, nyawa RU sudah tidak tertolong.

Baca Juga: Megawati 'Megatron' Pamit: Air Mata Perpisahan dan Legacy yang Tak Terlupakan di Red Sparks!

Kepala Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (Dinkes KB) Sampang, dr Abdulloh Najich, telah mengetahui kejadian tragis ini dan telah berkoordinasi dengan Kepala Puskesmas Torjun.

Hasilnya, diketahui bahwa saat kejadian, petugas kesehatan sedang mengganti infus pasien lain di ruangan belakang.

Dinkes KB Sampang menyatakan akan melakukan pembinaan terhadap Puskesmas Torjun sebagai langkah tindak lanjut.

Baca Juga: GEGER BINTARO, TANGSEL: Upaya Kubur Bayi di Balik Tanggul Boulevard, Pelaku Tertangkap!

Refleksi Mendalam: Pelayanan Kesehatan Layak untuk Semua?

Dua kejadian berbeda ini, meski terpisah jarak, menyisakan pertanyaan mendasar tentang kualitas dan responsivitas pelayanan kesehatan di tingkat Puskesmas.

Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan seharusnya menjadi tempat pertama dan terpercaya bagi masyarakat untuk mendapatkan pertolongan medis.

Kasus di Bekasi menyoroti pentingnya pemahaman masyarakat akan keterbatasan layanan di Puskesmas non rawat inap, terutama terkait ketersediaan fasilitas dan obat-obatan khusus seperti serum ATS.

Baca Juga: Dari Kocar-kacir Kualifikasi hingga Sempurna di Piala Asia U-17: Kisah Heroik Garuda Muda yang Mendunia!

Namun, di sisi lain, penolakan pasien dengan alasan jam operasional dan antrean yang masih panjang tentu menimbulkan tanda tanya besar terkait prioritas dan empati petugas medis.

Sementara itu, tragedi di Madura menjadi tamparan keras bagi sistem pelayanan gawat darurat di tingkat Puskesmas.

Ketiadaan petugas medis di ruang IGD pada saat dibutuhkan adalah sebuah kelalaian fatal yang berakibat hilangnya nyawa.

Baca Juga: BOGOR BERGETAR! Gempa Dangkal M 4,1 Guncang, Belasan Bangunan Dilaporkan Rusak, Ini Daftarnya!

Alasan petugas yang sedang menangani pasien lain tidak bisa menjadi pembenaran atas kosongnya garda darurat.

Kedua kasus ini menjadi pengingat penting akan perlunya peningkatan kualitas pelayanan, komunikasi yang efektif antara petugas dan pasien, serta ketersediaan sumber daya manusia dan fasilitas yang memadai di seluruh Puskesmas.

Masyarakat berhak mendapatkan pelayanan kesehatan yang cepat, tepat, dan responsif, terutama dalam situasi darurat yang mengancam nyawa.

Baca Juga: OKNUM BRIGADIR SADIS! Nyawa Bayi Tak Berdaya Direnggut Ayah Sendiri, Karir Polisi Hancur Seketika

Evaluasi dan pembinaan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan di kedua kabupaten diharapkan tidak hanya menjadi respons sesaat, namun menjadi langkah awal perubahan sistemik yang memastikan kejadian serupa tidak terulang kembali.

Kualitas pelayanan kesehatan adalah cerminan dari hadirnya negara dalam melindungi dan melayani warganya.

Luka seorang anak tertusuk paku dan nyawa seorang bocah yang melayang seharusnya menjadi pelajaran berharga untuk perbaikan yang berkelanjutan (**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
Abdurahman