Banten

PENEMUAN GIGI PURBA di Gua Lida Ajer, Petunjuk Jejak MANUSIA MODERN PERTAMA di Indonesia

AA LaNyalla Mahmud Mattalitti | 10 September 2023, 14:02 WIB
PENEMUAN GIGI PURBA di Gua Lida Ajer, Petunjuk Jejak MANUSIA MODERN PERTAMA di Indonesia

AKURAT BANTEN - Sampel gigi dari gua Lida Ajer di Jambi memberi petunjuk tentang jejak manusia modern pertama yang menghuni Indonesia.

Studi yang telah dipublikasikan oleh jurnal Nature pada 9 Agustus 2017, mengungkapkan bahwa gigi itu merupakan milik manusia modern pertama yang menghuni wilayah Nusantara yang diperkirakan berusia antara 79.000 - 69.000 tahun lalu.

Itu berarti, manusia telah ada di nusantara tak lama setelah terjadi letusan besar Toba sekitar 80.000 tahun lalu.

"Yang jelas penemuan ini sebagai petunjuk manusia modern tertua di Indonesia," ujar EW Saptomo, arkeolog dari Pusat Arkeologi nasional yang ikut berperan dalam penelitian ini mengatakan.

Sementara itu, Kira Westaway, arkeolog dari University of Sydney yang memimpin riset, menuturkan, Gigi itu menjadi petunjuk bahwa manusia sudah bisa sintas di hutan hujan tropis lebih awal, Hutan hujan adalah lingkungan hidup yang sulit.

"Manusia modern butuh inovasi teknologi dan kemampuan berburu yang canggih untuk bisa sintas," katanya.

Kata sintas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan bentuk kata sifat yang berarti: "Terus bertahan hidup atau mampu mempertahankan keberadaannya."

Sampel gigi di Gua Lida Ajer tak sepenuhnya baru. Paleoantropolog dari Belanda, Eugene Dubois, telah menjelajah Lida Ajer dan menemukannya pada tahun 1890.

Tahun 1948, arkeolog Belanda DA Hooijer tertarik dengan fosil gigi itu dan berusaha mengidentifikasinya. Dari ukuran, gigi itu mirip milik manusia. Namun, Hooijer belum bisa memastikan.

Sejak saat itu, peneliti punya banyak dugaan. Ada yang menduga gigi tersebut milik orangutan atau primata lainnya.

KIRA dan timnya yang juga terlibat riset di Liang Bua, Flores, lantas memakai pendekatan baru untuk menganalisis sampel gigi Lida Ajer.

Mereka menganalisis enamel (lapisan pelindung gigi), ketebalan enamel, dan membandingkan sampel dengan gigi jenis lain.

Peneliti menemukan, gigi lebih kecil dari milik orangutan dan Homo erectus serta Homo sapiens dari wilayah Indonesia bagian timur, tetapi kemudian mengonfirmasi kembali bahwa gigi itu milik manusia.

Dengan menganalisis stalagtit dan melakukan penanggalan uranium, KIRA dan timnya memperkirakan, gigi itu berumur 63.000 - 73.000 tahun.

"Menemukan gigi ini seperti menemukan bagian teka-teki penyebaran manusia yang hilang di wilayah itu," kata KIRA.

Saptomo menuturkan, riset ini jika tak berujung perdebatan akan segera memperkaya pemahaman tentang penyebaran manusia di nusantara yang mendiami wilayah hutan tropis.

"Penelitian selanjutnya perlu dilakukan untuk memahami jika gigi tersebut sesuai konteksnya," pungkasnya. [rif]

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.