Ruwahan Malam Nisfu Sya'ban, Kearifan Lokal Masyarakat Betawi

AKURAT BANTEN- Indonesia, dengan keberagaman budaya dan tradisinya, memiliki kekayaan yang tak ternilai harganya. Salah satu tradisi yang masih hidup dan dilestarikan oleh masyarakat Betawi adalah Ruwahan.
Tradisi ini bukan sekadar perayaan, namun juga mengandung nilai-nilai luhur yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Menurut kepercayaan masyarakat Betawi, Ruwahan penting dilakukan guna mendoakan arwah leluhur dengan mengaji bersama.
Salah seorang sesepuh Betawi Depok, Buang Jayadi mengatakan Ruwahan merupakan akar kata dari 'arwah', atau roh leluhur.
Baca Juga: Mengungkap Misteri Malam Nisfu Sya'ban: Tradisi dan Spiritualitas Di Malaysia dan Singapura
Sehingga di bulan ke-8 tahun Hijriah itu masyarakat Betawi mengumpulkan warga untuk mengaji bersama. "Biasanya disebut "mapagin bulan rowah"," kata Buang Jayadi di rumahnya, Jalan Tanah Baru, Depok, Selasa, (12/2/2025)
Selain mengaji bersama, Engkong Buang mengatakan dalam menjalankan tradisi tersebut, si empunya hajat juga menyediakan beberapa makanan khas Betawi sebagai sajian.
Penganan yang biasa disuguhkan di antaranya tape uli ketan, kue cincin, dan kue geplak. Sementara, tape uli ketan terdiri dari dua macam hidangan; uli atau gemblong, dan ketan hitam.
Adapun makna dari uli ketan, kata Engkong Buang, melambangkan keeratan hubungan emosional kekerabatan masyarakat Betawi yang sangat tulus.
Sedangkan ketan hitam mengartikan karakter masyarakat Betawi yang terkesan galak dan kasar, namun manis hatinya. "Semua ada maknanya, gak sembarang gitu aja," katanya.
Asal-usul dan Makna Ruwahan
Ruwahan berasal dari kata "arwah" yang berarti roh. Secara etimologis, Ruwahan merupakan tradisi ziarah kubur yang dilakukan oleh masyarakat Betawi menjelang bulan Ramadan.
Tradisi ini menjadi momentum bagi masyarakat untuk mengenang dan mendoakan leluhur serta sanak saudara yang telah meninggal dunia. Selain itu, Ruwahan juga menjadi simbol ungkapan rasa syukur atas rezeki yang telah diberikan oleh Allah SWT.
Pelaksanaan Ruwahan
Tradisi Ruwahan biasanya dimulai dengan membersihkan makam keluarga dan menaburkan bunga di atasnya. Setelah itu, masyarakat akan membaca doa-doa dan ayat suci Al-Quran.
Baca Juga: Keajaiban Malam Nisfu Sa'ban: Jangan Lewatkan Kesempatan Emas Ini!
Tak hanya itu, Ruwahan juga diisi dengan kegiatan makan bersama atau yang disebut dengan "nyorog". Makanan yang disajikan biasanya berupa hidangan khas Betawi, seperti nasi uduk, sate, dan kue-kue tradisional.
Nilai-nilai Luhur dalam Ruwahan
Ruwahan bukan sekadar tradisi, namun juga mengandung nilai-nilai luhur yang patut dilestarikan. Beberapa nilai yang terkandung dalam tradisi ini antara lain:
* Penghormatan kepada leluhur: Ruwahan menjadi momentum untuk mengenang dan mendoakan leluhur serta sanak saudara yang telah meninggal dunia.
Hal ini menunjukkan betapa masyarakat Betawi sangat menghormati dan menghargai jasa-jasa leluhur mereka.
* Kebersamaan dan gotong royong: Ruwahan melibatkan seluruh anggota keluarga dan masyarakat sekitar.
Kegiatan membersihkan makam, menyiapkan makanan, dan makan bersama menjadi wujud kebersamaan dan gotong royong yang erat.
* Syukur atas rezeki: Ruwahan juga menjadi simbol ungkapan rasa syukur atas rezeki yang telah diberikan oleh Allah SWT.
Masyarakat Betawi percaya bahwa rezeki yang mereka dapatkan tidak lepas dari doa dan restu leluhur.
Melestarikan Tradisi Ruwahan
Baca Juga: Ramadhan 2025 Sebentar Lagi, Ini 7 Ide Munggahan yang Bukan Sekadar Kumpul-Kumpul, Tapi Penuh Makna
Di era modern ini, tantangan melestarikan tradisi Ruwahan semakin besar. Namun, semangat masyarakat Betawi untuk menjaga warisan budaya ini patut diacungi jempol.
Berbagai upaya dilakukan untuk memperkenalkan Ruwahan kepada generasi muda, seperti mengadakan festival budaya, workshop, dan seminar.
Ruwahan adalah tradisi yang kaya akan makna dan nilai-nilai luhur. Tradisi ini tidak hanya menjadi warisan budaya yang patut dilestarikan, tetapi juga menjadi identitas dan kebanggaan masyarakat Betawi.
Dengan melestarikan Ruwahan, kita turut menjaga keberagaman budaya Indonesia dan memperkuat nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya (**)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Geger! Survei SMRC Ungkap Skor Kepemimpinan Tokoh Nasional, Mahfud MD di Puncak, Gibran Terbawah
- 2Mahfud MD Soroti OTT KPK di BNPB, Dana Bencana Diduga Bermasalah saat Warga Butuh Bantuan
- 3Tiga Hari Lagi! Wajib Halal Berlaku 18 Oktober 2026, Ini Daftar Produk yang Harus Punya Sertifikat
- 4Singgung Asap dan Oksigen, Syahganda Dikritik Pejabat Malaysia! Indonesia Didesak Minta Maaf
- 5Bikin Bangga! Persib Menang atas The Cong-Viettel, Liga Indonesia Kini Tembus 16 Besar Asia
- 6Juventus Tak Terima Kalah dari Cristiano Ronaldo! Kasus Gaji Rp190 Miliar Kini Dibawa ke Pengadilan Tertinggi Italia
- 7Lille Dihajar Arsenal 0-3, tapi Calvin Verdonk Ukir Rekor Bersejarah untuk Indonesia di Liga Champions!
- 8Tangsel Rapi, DPUPR Banten Mulai Bersihkan Kabel Internet Semrawut di Jalan Aria Putra
- 9Mbappe Ukir Sejarah saat Real Madrid Comeback 4-3! Rekor Messi Resmi Terlewati, Golnya Tambah Catatan Gila
- 10Real Madrid Menang Dramatis di Markas Roma, Mourinho Malah Tak Mau Selebrasi: Alasannya Bikin Haru!









