Banten

OPINI: Sebelumnya Prabowo Teriakan Hidup Jokowi, Kini LCJ Menuntut Prabowo Mundur, Politik Kambing Hitam?

Taufikurahman, M.Si | 31 Agustus 2025, 21:09 WIB
OPINI: Sebelumnya Prabowo Teriakan Hidup Jokowi, Kini LCJ Menuntut Prabowo Mundur, Politik Kambing Hitam?

AKURAT BANTEN - Demo yang makin memanas serta menyoroti narasi yang berkembang saat ini. Tentunya sangat membingungkan publik, apalagi setelah adanya kecurigaan sebagian orang, jika ini adalah skenario cerdas presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dan orang disekitarnya yang masih ingin berkuasa kembali serta merampungkan agendanya yang belum selesai.

Hal ini ditandai muncul Laskar Cinta Jokowi (LCJ) menuduh sebab timbulnya kegaduhan merupakan realitas kepemimpinan Prabowo Subianto yang gagal menjadi nahkoda bagi 286,7 juta jiwa rakyat Indonesia. Mereka menuntut Prabowo mundur, padahal sebelumnya Prabowo sempat menyanjung tuannya LCJ dengan "Hidup Jokowi" namun itu dianggap tidak cukup. 

Jika merujuk berdasarkan data, mulai dari utang negara, BUMN dan hutang swasta yang menjadi beban APBN, lemahnya penegakkan hukum dan korupsi yang sudah terjadi disemua lini khususnya dijalur birokrasi, justru merupakan warisan bobrok pemerintahan Jokowi yang memimpin selama 10 tahun.

Baca Juga: Rumah Puan Maharani DPR Bukan di Jakarta, 52 Properti Ternyata Ada di Daerah Ini, Mau Diserang?

Sebenarnya, Prabowo sangat memahami akar masalah atas kekacauan negeri ini, adalah geng Solo yang dipimpin Jokowi dan dibentengi para oligarki hitam yang menghisap bak lintah yang menempel akut ditubuh anak bangsa.

Lihat saja, sosok geng Solo di era Jokowi masih menempel di pemerintahan saat ini, seperti:

  • Menkopolhukam
  • Panglima TNI
  • Kapolri
  • Mendagri

Pertanyaannya adalah apakah demo yang tidak kondusif ini, merupakan kegagalan Prabowo atau sabotase halus dari dalam pemerintahan sendiri? Tidak masuk akal, Bagaimana bisa Prabowo dianggap gagal sedangkan separuh mesin negara masih dipegang dan dikendalikan jaringan lama atau dinasti Jokowi.

Baca Juga: DPRD Cimahi Renovasi Kantornya Padahal Lagi Ramai Demo DPR Sana-sini, Alasannya?

Mantan Ketua Umum Poros Wartawan Jakarta, Tri Wibowo Santoso menilai jika mesin keamanan yang diturunkan saat demo berlangsung, menembak hingga menangkap, bukan dibentuk atau berdasarkan keinginan Prabowo.

"Mesin keamanan yang menurunkan barikade Brimob, menembakkan gas air mata, dan menangkap demonstran bukan dibentuk Prabowo,” jelas Tri Wibowo dalam tulisannya yang tersebar di sejumlah Grup whatsapp, Sabtu 30 Agustus 2025.

Tri menilai tudingan bahwa Prabowo gagal menjaga keamanan adalah bentuk pengalihan isu, yaitu strategi untuk menyelamatkan Jokowi dan Gibran dari sorotan publik terkait kehancuran keuangan negara, ijazah palsu hingga akun fufu fafa yang menghina keluarga Prabowo.

Baca Juga: Puluhan Pelajar Terlibat Demo di Jakarta, KPAI Pastikan Proses Pemulangan ke Orang Tua Berjalan Lancar

"Alih-alih mengakui bahwa kericuhan akibat aparat bekerja dengan mentalitas lama, mereka malah menjadikan Prabowo kambing hitam. Strategi ini untuk menyelamatkan Jokowi dan Gibran dari sorotan publik," ungkap Tri.

Menurut Tri, "Kekecewaan rakyat selama satu dekade pemerintahan Jokowi, mulai dari korupsi, KKN di MA, pelemahan KPK, hingga politik dinasti, coba dihapuskan narasinya dengan menyalahkan presiden baru. Logikanya cacat dan munafik,” tutur dia.

Benar, bahwa “Keamanan negara memang tanggung jawab presiden, tapi juga melekat pada aktor-aktor lama yang masih bercokol. Menutup fakta ini sama saja menipu rakyat," tegas Tri.

Baca Juga: Presiden Tegaskan TNI-Polri Harus Bertindak Tegas, Publik Diminta Tenang Hadapi Aksi Rusuh

Dengan munculnya fenomena Laskar Cinta Jokowi, ibarat maling teriak maling "Rakyat muak dijadikan obyek manipulasi. Narasi pengkambinghitaman mungkin laku di kalangan relawan, tapi di mata publik yang terdampak, ini permainan murahan. Sejarah akan mencatat siapa yang sebenarnya menyalakan api, bukan siapa yang pura-pura memadamkannya," tambah Tri. (*******)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.