Banten

Bukan Cuma Salah Pelatih! Terungkap 5 Kesalahan Fatal MU dalam Memilih Manajer Setelah Sir Alex Ferguson

Aullia Rachma Puteri | 4 November 2026, 00:01 WIB
Bukan Cuma Salah Pelatih! Terungkap 5 Kesalahan Fatal MU dalam Memilih Manajer Setelah Sir Alex Ferguson
Mantan manajer Manchester United, Sir Alex Ferguson. - AFP/Ben Stansall

AKURAT BANTEN - Manchester United pernah menjadi klub yang ditakuti di Inggris dan Eropa. Di bawah kepemimpinan Sir Alex Ferguson, Setan Merah mengoleksi puluhan trofi dan menjelma menjadi salah satu kekuatan terbesar sepak bola dunia.

Namun, sejak Ferguson meninggalkan Old Trafford pada 2013, kejayaan tersebut seperti menghilang tanpa jejak.

Pergantian manajer demi manajer belum mampu mengembalikan Manchester United ke level terbaiknya.

David Moyes, Louis van Gaal, Jose Mourinho, Ole Gunnar Solskjaer, Erik ten Hag, Ruben Amorim, hingga Michael Carrick telah mengisi kursi panas tersebut. Namun, tidak satu pun berhasil membawa MU kembali menjuarai Premier League atau Liga Champions.

Baca Juga: Krisis Pemain MU Makin Parah! Rashford dan Shaw Absen, Dorgu Kembali tetapi Belum Bisa Dimainkan

Lantas, mengapa Manchester United terus kesulitan memilih manajer yang tepat?

1. Tidak Mendapatkan Kandidat Utama

Salah satu persoalan terbesar MU ternyata sudah terlihat sejak proses pencarian pengganti Ferguson. David Moyes bukan pilihan pertama klub.

Menurut laporan ESPN, sejumlah nama besar seperti Jurgen Klopp, Jose Mourinho, Carlo Ancelotti, Pep Guardiola, Diego Simeone, dan Laurent Blanc sempat masuk dalam radar.

Namun, berbagai alasan membuat MU gagal mendapatkan beberapa kandidat tersebut. Moyes akhirnya dipilih dan hanya bertahan sekitar 10 bulan sebelum dipecat pada April 2014.

Baca Juga: FIFA Uji 3 Aturan Baru di Piala Dunia U-15, Sepak Bola Bisa Berubah Total! Premier League Ikut Terdampak?

Pola serupa kembali muncul dalam proses perekrutan berikutnya. MU beberapa kali harus mengubah rencana setelah kandidat yang diinginkan tidak berhasil didatangkan.

2. Keputusan Lebih Dipengaruhi Situasi daripada Strategi

Ketika Louis van Gaal dipecat pada 2016, MU menunjuk Jose Mourinho. Pelatih asal Portugal itu sebenarnya memberikan hasil yang cukup baik dengan mempersembahkan tiga trofi, termasuk Liga Europa 2016/2017.

Namun, menurut laporan ESPN, sejumlah petinggi klub sebelumnya lebih menginginkan Mauricio Pochettino.

Keputusan akhirnya dipengaruhi pula oleh keinginan keluarga Glazer untuk menghadirkan sosok besar sebagai pesaing Pep Guardiola di Manchester City.

Baca Juga: Harga Pablo Barrios Bikin Geleng-Geleng Kepala! MU Harus Bersaing dengan PSG demi Bintang Atletico

Masalah serupa terjadi ketika Mourinho pergi. Ole Gunnar Solskjaer awalnya hanya ditunjuk sebagai manajer interim.

Performa positifnya kemudian membuat MU memberikan jabatan permanen, meskipun rekam jejak kepelatihannya belum cukup kuat untuk menjamin keberhasilan jangka panjang.

3. Terlalu Sering Mengubah Arah Proyek

Manchester United juga kesulitan mempertahankan arah pembangunan tim. Setiap manajer datang dengan filosofi berbeda, sehingga kebutuhan pemain dan pendekatan permainan ikut berubah.

Van Gaal mengusung sepak bola berbasis penguasaan bola, Mourinho lebih mengutamakan pendekatan pragmatis, sementara Ten Hag dan Amorim datang dengan gagasan taktik masing-masing.

Baca Juga: Prediksi Barcelona vs Aston Villa: Blaugrana Menang Tipis, Rekor Sempurna Villa Akhirnya Terhenti?

Pergantian filosofi yang terlalu sering membuat proses pembangunan skuad tidak berjalan konsisten.

BBC pernah menyoroti bahwa persoalan perekrutan pemain dan ketidaksesuaian antara kebutuhan manajer dengan keputusan klub menjadi salah satu kesalahan terbesar MU setelah Ferguson.

4. Trofi Tidak Cukup untuk Menyelamatkan Posisi

Ironisnya, beberapa manajer sebenarnya sempat memberikan gelar. Van Gaal memenangkan Piala FA 2016, Mourinho mempersembahkan Liga Europa dan Piala Liga, sedangkan Ten Hag meraih Piala Liga serta Piala FA.

Namun, keberhasilan tersebut tidak cukup untuk mempertahankan pekerjaan mereka. Ten Hag bahkan dipecat pada Oktober 2024, hanya beberapa bulan setelah mendapatkan perpanjangan kontrak.

Baca Juga: Cole Palmer Bikin Sejarah! Cetak Gol ke-50, Kini Sejajar dengan Legenda Chelsea Frank Lampard

Ruben Amorim kemudian ditunjuk, tetapi masa kepemimpinannya juga berakhir pada Januari 2026 setelah hasil yang mengecewakan. Ia mencatatkan persentase kemenangan sekitar 38 persen.

5. Kembali Memilih Manajer dengan Pengalaman Terbatas

Michael Carrick menjadi contoh terbaru dari pola perekrutan MU. Mantan gelandang Setan Merah itu mendapatkan kesempatan setelah menunjukkan hasil positif ketika menjalani tugas sementara.

Namun, pengalaman manajerialnya sebelum kembali ke Old Trafford masih terbatas. Ia sebelumnya menangani Middlesbrough di Championship dan tidak memiliki pengalaman panjang mengelola klub elite Premier League.

Kini, Carrick juga menghadapi tekanan setelah MU melewati sembilan pertandingan tanpa kemenangan.

Baca Juga: Prediksi Atletico Madrid vs Bayern Munchen: Duel Panas Dua Raksasa Eropa, Siapa yang Tumbang?

Situasi tersebut kembali memunculkan pertanyaan mengenai proses pengambilan keputusan di jajaran manajemen.

Masalah MU Lebih Besar daripada Sekadar Manajer

Analisis The Guardian dan BBC menyoroti persoalan yang lebih mendasar, yaitu struktur pengambilan keputusan, ketidakstabilan internal, serta ekspektasi berlebihan untuk mengulang kesuksesan era Ferguson.

Ferguson membangun standar luar biasa selama hampir 27 tahun. Namun, mencari sosok yang mampu menggantikannya dengan cara yang sama terbukti bukan strategi yang tepat.

Manchester United membutuhkan sistem perekrutan yang jelas, manajemen yang solid, serta kesabaran menjalankan proyek jangka panjang.

Baca Juga: Prediksi Skor MU vs Roma: Setan Merah Bakal Tumbang Lagi? Giallorossi Berpeluang Curi Kemenangan di Old Trafford!

Tanpa perubahan mendasar tersebut, siapa pun yang datang ke Old Trafford berisiko mengulang cerita yang sama.

Pada akhirnya, pertanyaan terbesarnya bukan lagi siapa manajer berikutnya. Melainkan apakah Manchester United sudah benar-benar belajar dari kesalahan yang terus mereka ulangi sejak 2013.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.