Banten

Ngeri di Jalan Raya! Asap Karhutla Bikin Jarak Pandang Hilang, Ini yang Harus Dilakukan

Abdurahman | 17 Oktober 2026, 15:27 WIB
Ngeri di Jalan Raya! Asap Karhutla Bikin Jarak Pandang Hilang, Ini yang Harus Dilakukan
Asap kebakaran hutan dan lahan ganggu aktivitas warga/instagram @lolsptri

AKURAT BANTEN— Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya mengancam kawasan hutan, permukiman, dan lingkungan, tetapi juga dapat membahayakan pengendara yang melintas di jalan raya.

Kepulan asap pekat yang menyelimuti jalan bisa membuat jarak pandang mendadak hilang, mengganggu pernapasan, hingga meningkatkan risiko kecelakaan fatal.

Situasi menjadi semakin berbahaya ketika pengemudi tidak lagi mampu melihat kendaraan di depan, marka jalan, maupun kondisi jalur yang akan dilalui.

Dalam keadaan seperti ini, keputusan untuk terus melaju atau segera menghentikan perjalanan bisa menentukan keselamatan diri dan pengguna jalan lainnya.

Karena itu, pengendara mobil maupun sepeda motor perlu memahami langkah darurat ketika terjebak di kawasan terdampak karhutla.

Kepanikan, keinginan untuk segera mencapai tujuan, atau tindakan nekat menerobos asap justru dapat memperbesar risiko.

Pengamat keselamatan berkendara dari Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, mengingatkan bahwa memaksakan perjalanan di tengah kepungan asap tebal sangat berbahaya.

Dalam keterangannya melalui sambungan telepon pada Jumat (16/10/2026), Jusri menegaskan:

Daripada memaksa menerobos, hal itu sama saja seperti berkendara dengan mata tertutup.

Peringatan tersebut menjadi pengingat bahwa keselamatan harus ditempatkan di atas keinginan untuk segera sampai ke tempat tujuan.

Ketika pandangan terhalang asap, pengendara kehilangan kemampuan untuk mengantisipasi berbagai potensi bahaya di depannya.

Lantas, apa yang harus dilakukan ketika asap karhutla mulai menutup jalan dan perjalanan tidak lagi aman?

Baca Juga: IHSG Ambruk 11,57 Persen! Penjualan Mobil dan Motor di Indonesia Terancam Terguncang?

1. Jangan Nekat Menerobos Saat Jarak Pandang Menghilang

Kesalahan yang harus dihindari ketika menghadapi asap karhutla adalah memaksakan kendaraan tetap melaju meskipun kondisi jalan sudah sulit terlihat.

Asap pekat dapat menutupi keberadaan kendaraan lain, rintangan, tikungan, hingga petugas yang sedang menangani kebakaran. Akibatnya, pengemudi memiliki waktu yang semakin sedikit untuk bereaksi apabila terjadi keadaan darurat.

Jika mulai memasuki kawasan berasap, kurangi kecepatan secara bertahap dan tingkatkan kewaspadaan. Hindari pengereman mendadak, menyalip, atau melakukan manuver yang berisiko.

Apabila jarak pandang terus memburuk, carilah lokasi aman untuk menghentikan perjalanan sebelum kondisi menjadi semakin berbahaya.

Jangan berhenti sembarangan di tengah jalur lalu lintas karena kendaraan yang tidak terlihat dapat menjadi pemicu tabrakan beruntun. Jika petugas melakukan penutupan jalan atau mengarahkan pengendara untuk berbalik, ikuti instruksi tersebut.

Ingat, memaksakan perjalanan bukan keberanian jika kondisi jalan sudah tidak memungkinkan untuk dilalui dengan aman.

Baca Juga: Geger! Tong Biru Berisi Rp934 Juta Disita KPK dari Kasus Bupati Klaten, Uang Diduga Terkait Penerimaan Korupsi

2. Nyalakan Lampu Kendaraan, tetapi Jangan Mengandalkannya untuk Terus Melaju

Saat asap mulai menyelimuti jalan, lampu kendaraan dapat membantu pengguna jalan lain mengenali keberadaan kendaraan.

Pengemudi mobil sebaiknya menggunakan lampu utama dengan sorotan rendah dan lampu kabut apabila tersedia. Hindari penggunaan lampu jauh karena pantulan cahaya dari partikel asap dapat membuat pandangan semakin terganggu.

Namun, lampu kendaraan bukan solusi untuk menembus asap yang sangat tebal. Jika jalan di depan tidak lagi terlihat dengan jelas, pengemudi tetap harus mencari tempat aman untuk berhenti.

Jangan pula menganggap lampu hazard sebagai pengganti lampu utama ketika kendaraan masih bergerak. Gunakan lampu tersebut sesuai fungsinya, terutama ketika kendaraan berhenti dalam keadaan darurat, dengan tetap memperhatikan aturan dan kondisi lalu lintas setempat.

Langkah terpenting adalah memastikan kendaraan tidak menjadi hambatan atau sumber bahaya bagi pengguna jalan lainnya.

Baca Juga: Suket Gibran Masuk Ranah Hukum! Laporan Khozinudin Cs dan Pandangan Pakar Jadi Sorotan

3. Pengemudi Mobil Wajib Mewaspadai Asap Beracun

Bahaya karhutla bukan hanya terletak pada api yang dapat menjalar ke jalan, tetapi juga pada asap hasil pembakaran yang mengandung partikel halus dan berbagai polutan berbahaya.

Bagi pengendara mobil, langkah awal untuk mengurangi paparan adalah menutup seluruh jendela dan mengaktifkan mode resirkulasi udara pada sistem AC.

Fitur ini membantu mengurangi masuknya udara dari luar ke dalam kabin. Jika tersedia, filter udara kabin yang terawat juga dapat membantu mengurangi partikel tertentu.

Meski demikian, sistem AC dan filter kabin tidak menjamin perlindungan penuh dari seluruh gas berbahaya. Karena itu, jangan menganggap berada di dalam mobil selalu berarti aman ketika api atau asap pekat mengepung kendaraan.

Jika kendaraan berada di lokasi yang terancam kebakaran, segera ikuti petunjuk petugas untuk menuju tempat perlindungan yang lebih aman.

Hindari menyalakan mesin di ruang tertutup atau lokasi dengan ventilasi buruk karena gas buang kendaraan juga dapat membahayakan keselamatan.

Baca Juga: Suket Gibran Masuk Ranah Hukum! Laporan Khozinudin Cs dan Pandangan Pakar Jadi Sorotan

4. Pengendara Motor Lebih Rentan, Jangan Abaikan Perlindungan Pernapasan

Pengendara sepeda motor menghadapi risiko tambahan karena tubuh dan saluran pernapasan terpapar langsung oleh udara di sekitarnya.

Asap karhutla dapat menyebabkan iritasi mata, batuk, sesak napas, serta memperburuk kondisi kesehatan tertentu. Paparan juga dapat mengganggu konsentrasi saat berkendara.

Jika memungkinkan, segera hentikan perjalanan di lokasi aman dan menjauh dari kawasan yang dipenuhi asap.

Masker respirator yang pas di wajah, seperti N95, dapat membantu mengurangi paparan partikel halus. Kacamata pelindung juga dapat membantu mengurangi iritasi mata.

Namun, masker N95 tidak melindungi pemakainya dari semua gas beracun atau kondisi kekurangan oksigen. Perlengkapan pelindung bukan alasan untuk terus melaju di tengah kepungan asap.

Apabila mengalami sesak napas, pusing, kebingungan, atau gangguan penglihatan, segera cari pertolongan medis setelah mencapai tempat aman.

Baca Juga: Sengketa Honor LKM Ciomas: Penagihan Kredit Tembus Rp856 Juta, Upah Tim Likuidasi Malah Menggantung

5. Jika Api Mendekat, Segera Cari Tempat Perlindungan

Situasi menjadi semakin kritis ketika titik api terlihat mendekat, asap bertambah tebal, atau kobaran mulai menjalar ke sisi jalan.

Jangan menghentikan kendaraan di dekat semak kering, padang rumput, tumpukan ranting, atau vegetasi lain yang mudah terbakar.

Jika kondisi masih memungkinkan, arahkan kendaraan menuju tempat perlindungan yang aman dan ikuti rute yang diarahkan petugas. Area dengan permukaan beton atau aspal dan minim bahan mudah terbakar dapat mengurangi risiko tertentu, tetapi tidak otomatis menjamin keselamatan dari panas maupun penyebaran api.

Apabila jalur sudah tertutup atau kendaraan terancam langsung oleh kobaran, jangan mengambil keputusan secara gegabah. Hubungi petugas pemadam kebakaran, kepolisian, atau layanan darurat setempat dan sampaikan lokasi sejelas mungkin.

Jangan mencoba menerobos jalur yang telah ditutup demi menghindari kemacetan. Penutupan jalan dapat dilakukan untuk melindungi pengguna jalan dari bahaya yang belum terlihat.

Baca Juga: Brasil Pernah Bantai Thailand dan Vietnam 9-1, Kini Timnas Futsal Indonesia Kalah 0-3!

6. Kapan Harus Meninggalkan Kendaraan?

Tidak semua keadaan mengharuskan pengendara meninggalkan kendaraan. Keputusan tersebut bergantung pada tingkat ancaman, kondisi jalur evakuasi, serta ketersediaan tempat perlindungan.

Jika kendaraan masih berada di lokasi yang aman, tetaplah mengikuti arahan petugas dan hindari bergerak menuju kawasan berbahaya.

Namun, apabila api mengancam langsung lokasi kendaraan dan petugas menginstruksikan evakuasi, segera tinggalkan kendaraan melalui jalur yang aman menuju tempat perlindungan.

Jangan berlari tanpa arah atau langsung memilih jalur hanya berdasarkan perkiraan arah angin. Perubahan angin dapat membuat asap dan api bergerak secara tidak terduga.

Pilih jalur yang menjauhi kobaran dan asap pekat, hindari vegetasi kering, serta ikuti arahan petugas yang memahami kondisi lapangan.

Bawa ponsel dan barang penting hanya jika mudah dijangkau. Jangan mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan barang berharga, dokumen, atau kendaraan.

Dalam situasi yang mengancam jiwa, keselamatan manusia harus menjadi prioritas utama.

Baca Juga: Adik Eks Kepala BNPB Diduga Gunakan Dana Bencana untuk Beli Saham, KPK Bongkar Kasusnya

7. Pantau Informasi Resmi Sebelum Melanjutkan Perjalanan

Pengendara yang hendak melintasi kawasan rawan karhutla sebaiknya memeriksa informasi terbaru mengenai kondisi jalan, titik kebakaran, dan pengalihan arus lalu lintas.

Informasi dapat diperoleh melalui kepolisian, petugas pemadam kebakaran, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta instansi resmi lainnya.

Jika jalur dinyatakan tidak aman, gunakan rute alternatif yang telah dikonfirmasi dapat dilalui. Jangan hanya mengandalkan aplikasi navigasi karena kondisi kebakaran dapat berubah lebih cepat daripada pembaruan informasi di peta digital.

Untuk perjalanan jauh, pastikan baterai ponsel mencukupi, bahan bakar tersedia, dan perlengkapan darurat mudah dijangkau.

Hindari berhenti di lokasi berbahaya hanya untuk mengambil foto atau merekam kobaran api. Selain mengancam keselamatan diri, tindakan tersebut dapat menghambat lalu lintas dan mengganggu proses penanganan kebakaran.(**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Abdurahman
Reporter
Abdurahman
Abdurahman