Banten

Bukan Lemah, Ibu Berhak Minta Bantuan: Dokter Ingatkan Bahaya Stres Pasca Melahirkan

Moehamad Dheny Permana | 26 September 2025, 18:51 WIB
Bukan Lemah, Ibu Berhak Minta Bantuan: Dokter Ingatkan Bahaya Stres Pasca Melahirkan

Akurat Banten - Menjadi seorang ibu baru sering kali diidentikkan dengan kebahagiaan tak terkira.

Namun di balik senyum manis dan pelukan hangat untuk buah hati, banyak perempuan yang justru bergulat dengan rasa lelah dan stres berkepanjangan.

Dokter spesialis anak lulusan Universitas Indonesia, dr. Dimple Nagrani, Sp.A, menegaskan bahwa kondisi ini bukan hal yang tabu untuk dibicarakan.

Menurutnya, seorang ibu seharusnya tidak ragu untuk meminta pertolongan dari orang-orang terdekat ketika merasa kewalahan.

“Kalau merasa lelah atau stres, silakan minta bantuan. Itu tidak berarti seorang ibu kurang mampu atau gagal menjalankan peran,” ujar Dimple.

Ia menambahkan, kesadaran untuk mencari dukungan justru menunjukkan bahwa seorang ibu mengenali batas dirinya sekaligus peduli pada kesehatan fisik dan mentalnya.

Bantuan tersebut bisa datang dari pasangan, orang tua, maupun mertua yang siap turun tangan meski hanya sebentar.

Salah satu bentuk dukungan yang dianggap penting adalah keterlibatan suami dalam mengasuh bayi.

Dengan berbagi peran, seorang ibu bisa memperoleh waktu istirahat sejenak yang sangat berharga, termasuk kesempatan menikmati “me time” sederhana.

“Cukup mandi sebentar atau duduk tenang sendirian, rasanya bisa membuat pikiran lebih jernih. Masalah yang tadi terasa berat bisa berkurang setelah tubuh segar kembali,” tutur Dimple.

Ruang untuk beristirahat itu bukan hanya demi kenyamanan ibu, tetapi juga berdampak langsung pada bayi.

Baca Juga: Doa Yatim Iringi Kebangkitan PWI: Akhmad Munir Resmi Bawa Rumah Lama Kembali Hidup

Ketika seorang ibu dalam kondisi tenang, ia lebih mudah menghadapi bayi yang menangis atau rewel tanpa panik.

Sebaliknya, bila ibu terlalu lelah dan emosinya tidak stabil, risikonya justru dapat membahayakan anak.

Dimple mengingatkan, kondisi stres bisa membuat seseorang refleksif mengguncang bayi terlalu keras.

Hal ini berpotensi menimbulkan shaken baby syndrome, sebuah kondisi serius yang dapat merusak otak bayi akibat guncangan berlebihan.

“Kadang tanpa sadar, kita menggendong dengan gerakan naik-turun yang terlalu kencang. Itu sangat berbahaya dan tidak sehat untuk bayi,” jelasnya.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa stres tinggi dapat mengaburkan kemampuan ibu dalam mengambil keputusan.

Dalam situasi panik, ibu kesulitan menentukan langkah tepat untuk menenangkan bayi sehingga solusi yang diambil bisa tidak sesuai.

Itulah sebabnya menjaga kesehatan mental ibu sama pentingnya dengan menjaga asupan gizi dan pola tidur bayi.

Peran keluarga besar menjadi kunci dalam fase awal kehidupan seorang anak.

Baca Juga: Momen Tegang di Bintaro: 'Mencla-Mencle' dan Protes Pajak, Drama Razia Dishub yang Menjerat Komedian Sule!

Ketika dukungan emosional dan praktis diberikan, ibu akan lebih siap menjalani perjalanan panjang sebagai pengasuh utama.

Pesan yang dibawa Dimple sederhana namun mendalam yaitu tidak ada ibu yang sempurna, dan tidak ada salahnya meminta bantuan.

Sebaliknya, mengakui bahwa diri butuh istirahat adalah langkah bijak yang menyelamatkan kesehatan ibu sekaligus tumbuh kembang anak.

Di tengah tekanan sosial yang kerap menuntut ibu untuk selalu sigap, ingatan ini penting yaitu seorang ibu juga manusia, yang berhak merasa lelah, berhak istirahat, dan berhak dibantu.***

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.