Banten

Kisruh Wukuf di Arafah: Ribuan Jemaah Haji Indonesia Terlantar Tanpa Tenda, Ini Biang Keroknya

Andi Syafrani | 9 Juni 2025, 14:22 WIB
Kisruh Wukuf di Arafah: Ribuan Jemaah Haji Indonesia Terlantar Tanpa Tenda, Ini Biang Keroknya

AKURAT BANTEN - Puncak ibadah haji, wukuf di Arafah, yang seharusnya menjadi momen penuh khusyuk bagi jemaah Indonesia, justru diwarnai kekacauan pada 6 Juni 2025. Ribuan jemaah terlantar, tak kebagian tempat di tenda yang disediakan untuk beristirahat.

Banyak di antara mereka terpaksa berdesakan di luar tenda atau numpang di tenda kelompok lain, padahal wukuf adalah inti dari ibadah haji yang dinanti-nantikan. Kejadian ini memicu kekecewaan dan memunculkan tanda tanya besar soal pengelolaan haji oleh penyelenggara.

Baca Juga: Ketua DPD Hanura Jateng Jadi Tersangka Kasus Bisnis Karaoke Striptis, Partai Pasang Badan

Proses keberangkatan jemaah dari hotel di Makkah menuju Arafah dimulai sejak 4 Juni, namun situasi di lapangan jauh dari harapan. Banyak jemaah yang tiba di Arafah mendapati tenda mereka sudah penuh atau malah tidak sesuai dengan jadwal.

Ketua Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, Muchlis M. Hanafi, tak menampik adanya masalah serius dalam pengaturan ini. Ia blak-blakan mengakui bahwa sistem penempatan tenda menjadi salah satu penyebab utama kekisruhan.

Baca Juga: Dokter PAP Tersandung Kasus Pemerkosaan Pasien: Fantasi Menyimpang Terkuak, Polisi Siap Limpahkan ke Kejaksaan

“Ada tenda yang sebenarnya masih kosong, tapi karena sistemnya kaku, jemaah dari kelompok lain tidak bisa masuk,” ungkap Muchlis, seperti dikutip dari laman Kementerian Agama pada Minggu, 8 Juni 2025.

Baca Juga: Heboh! Video Anjing Dikuliti Hidup-hidup Bikin Murka Warganet, Polisi Ungkap Bukan di Sragen dan Bukan Kejadian Baru

Salah satu akar masalahnya adalah skema keberangkatan yang berdasarkan hotel, bukan markaz atau syarikah seperti praktik sebelumnya. Akibatnya, ada tenda yang langsung penuh sesak karena kedatangan jemaah dari satu hotel secara serentak, sementara tenda lain kosong menunggu giliran jemaah dari hotel berbeda.

Misalnya, tenda berkapasitas 350 orang hanya terisi 325 jemaah, tetapi aturan ketat mencegah jemaah lain mengisi kekosongan itu. Ditambah lagi, banyak jemaah yang pindah tenda tanpa koordinasi, entah untuk bersama keluarga atau rombongan bimbingan, membuat distribusi semakin kacau.

Baca Juga: Waduh! Eks Ketua DPRD Jatim Hilang Usai Jadi Tersangka Kasus Suap Dana Hibah, KPK Turun Tangan

“Perpindahan jemaah tanpa izin ini bikin petugas kewalahan. Kami harus urus lebih dari 203 ribu jemaah di 60 markaz,” keluh Muchlis.

Kondisi ini diperparah oleh terbatasnya jumlah petugas dan pembagian tugas yang rumit. Petugas dibagi ke tiga wilayah: Daker Bandara untuk Arafah, Daker Makkah untuk Muzdalifah, dan Daker Madinah untuk Mina.

Dengan jumlah personel yang tidak sebanding dengan jumlah jemaah, koordinasi menjadi tantangan besar. Banyak petugas yang kelelahan karena harus menangani situasi yang terus berubah di lapangan, mulai dari mengatur penempatan hingga memastikan kebutuhan dasar jemaah terpenuhi.

Baca Juga: Heboh! Nama Muhammad Musofa Terukir Misterius di Paru-Paru Sapi Kurban Pondok Aren

Masalah penempatan tenda juga berdampak pada distribusi logistik, terutama makanan. Karena data markaz dan syarikah tidak sinkron dengan kondisi riil, banyak jemaah yang tidak kebagian jatah makan tepat waktu. Sebaliknya, ada pula yang mendapat porsi ganda karena perpindahan yang tak terdeteksi.

“Sistem distribusi makanan kami mengacu pada data awal, tapi kenyataannya banyak jemaah berpindah tanpa laporan,” jelas Muchlis.

Kekacauan ini membuat beberapa jemaah harus menjalani wukuf dalam kondisi lapar dan lelah, mengurangi kekhusyukan momen sakral tersebut.

Baca Juga: AI Bukan Ancaman! Ini Cara Digital Marketer Cerdas Manfaatkan Kecerdasan Buatan untuk Cuan

Kejadian ini bukan sekadar masalah teknis, tetapi juga mencerminkan kelemahan dalam perencanaan dan koordinasi. Aktivis dan pengamat haji menilai bahwa penyelenggaraan ibadah haji Indonesia perlu evaluasi menyeluruh, terutama dalam hal manajemen jemaah dan fleksibilitas sistem.

Beberapa jemaah yang ditemui di lapangan menyampaikan kekecewaan mereka, menyebut pengalaman ini sebagai pengurang kenyamanan dalam menjalani ibadah.

Baca Juga: Rahasianya Bukan Algoritma, Tapi Data! Strategi Data-Driven Marketing Paling Efektif

Ada pula yang meminta pemerintah lebih transparan soal anggaran haji, yang seharusnya cukup untuk memastikan fasilitas memadai bagi semua jemaah.

Publik kini menanti langkah konkret dari Kementerian Agama dan PPIH untuk memastikan musim haji berikutnya tidak mengulang kesalahan yang sama. Wukuf di Arafah seharusnya menjadi pengalaman spiritual yang mendalam, bukan malah penuh drama logistik.

Baca Juga: Penemuan Menggemparkan! Mayat Bayi Laki-laki Ditemukan di Depan Asta Mall SCBD

Evaluasi sistem penempatan, pelatihan petugas, dan sinkronisasi data menjadi pekerjaan rumah besar yang harus segera diselesaikan.

Jika tidak, kepercayaan jemaah terhadap penyelenggara haji Indonesia bisa terus terkikis, dan momen suci seperti wukuf justru jadi kenangan pahit bagi mereka yang telah menabung bertahun-tahun untuk beribadah.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
Varin VC
Editor
Varin VC