Banten

Gerakan Nasional Makan Sehat Kian Didorong, Pemerintah Siapkan Strategi Baru Hadang Lonjakan Penyakit

Moehamad Dheny Permana | 31 Oktober 2025, 22:16 WIB
Gerakan Nasional Makan Sehat Kian Didorong, Pemerintah Siapkan Strategi Baru Hadang Lonjakan Penyakit

Akurat Banten - Pemerintah kian serius menekan laju penyakit tidak menular seperti diabetes, jantung, dan hipertensi yang kian mengintai masyarakat perkotaan.

Salah satu langkah konkret yang tengah digencarkan ialah kampanye besar-besaran soal pentingnya pola makan sehat dan seimbang.

Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan, Asnawi Abdullah, menegaskan bahwa pemerintah kini berfokus pada penyadaran publik lewat sistem informasi yang mudah dipahami masyarakat.

“Salah satu terobosan yang kami dorong adalah penerapan label gizi di bagian depan kemasan, sehingga masyarakat bisa langsung tahu kandungan gula, garam, dan lemak pada setiap produk,” ujarnya.

Langkah ini disebut sebagai bagian dari implementasi sistem Nutri-Level, yang dinilai efektif membantu masyarakat menyesuaikan asupan gizi harian dengan kebutuhan tubuh masing-masing.

Tak hanya lewat pelabelan, Kementerian Kesehatan juga memperkuat sosialisasi pedoman Isi Piringku, konsep sederhana yang mengajarkan keseimbangan nutrisi dalam setiap sajian makanan.

Dalam pedoman tersebut, setengah piring dianjurkan berisi sayur dan buah, sementara sisanya diisi makanan pokok dan lauk-pauk.

Selain itu, masyarakat juga diingatkan pentingnya minum delapan gelas air setiap hari, rutin berolahraga minimal 30 menit, serta menjaga kebersihan tangan sebelum dan sesudah makan.

Baca Juga: Gelombang Optimisme dari Gyeongju, Prabowo Sambut Hangat Momen Bersejarah Pertemuan Trump dan Xi Jin Ping

Kementerian menilai, edukasi semacam ini bukan sekadar imbauan, melainkan strategi jangka panjang untuk membentuk budaya makan sehat di seluruh lapisan masyarakat.

Upaya pemerintah ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk dunia industri dan akademisi, yang ikut dibahas dalam Lokakarya Ilmiah dan Regulasi Regional bertajuk “Scientific Solutions for Public Health: Enabling Policies to Unlock Reformulation with Non-Sugar Sweeteners Science” yang diselenggarakan oleh Food Industry Asia (FIA).

Forum tersebut mempertemukan para pembuat kebijakan, peneliti, hingga pelaku industri pangan dari berbagai negara di Asia Tenggara untuk mencari jalan tengah antara inovasi produk dan kesehatan masyarakat.

Menurut Matt Kovac, Pemimpin Eksekutif Food Industry Asia, kawasan Asia Tenggara saat ini menghadapi tantangan besar akibat pola konsumsi tinggi gula yang berimbas pada peningkatan penyakit tidak menular.

“Reformulasi produk pangan dengan pemanis non-gula adalah salah satu solusi yang bisa membantu masyarakat mengurangi risiko tanpa harus kehilangan cita rasa,” ujarnya.

Ia menambahkan, perubahan perilaku konsumsi tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan kebijakan publik yang kuat dan kolaborasi lintas sektor.

FIA pun menyatakan dukungannya terhadap upaya pemerintah di kawasan untuk mendorong pengurangan kadar gula secara bertahap dalam produk-produk makanan dan minuman.

Baca Juga: Sita Aset PT Banten Inti Gasindo, KPK Telusuri Dugaan Keterlibatan Korporasi dalam Kasus Jual Beli Gas PGN

Dengan langkah bersama ini, pemerintah berharap masyarakat tak hanya sadar pentingnya makan sehat, tapi juga punya pilihan yang lebih baik di pasaran.

Jika kesadaran ini terus tumbuh, bukan tidak mungkin penyakit tidak menular yang selama ini membebani sistem kesehatan nasional dapat ditekan secara signifikan.

Pada akhirnya, pola makan sehat bukan sekadar tren, tetapi menjadi bagian dari gaya hidup baru yang menyelamatkan generasi mendatang dari ancaman penyakit kronis.***

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.