Banten

Dari Demonstrasi ke Krisis Nasional: Nepal Rugi Triliunan, PM Sharma Oli Mundur

Moehamad Dheny Permana | 12 September 2025, 20:42 WIB
Dari Demonstrasi ke Krisis Nasional: Nepal Rugi Triliunan, PM Sharma Oli Mundur

Akurat Banten - Gelombang protes besar-besaran yang mengguncang Nepal dalam sepekan terakhir meninggalkan jejak kerusakan yang tidak kecil.

Menurut laporan media setempat, nilai kerugian infrastruktur akibat kerusuhan diperkirakan mencapai 200 miliar rupee Nepal atau setara dengan Rp2,3 triliun.

Angka fantastis itu dilaporkan Khabarhub dengan mengutip keterangan dari pejabat Kementerian Pembangunan Kota.

Kerusuhan yang bermula dari protes publik terhadap kebijakan pemerintah ternyata berkembang menjadi aksi destruktif yang melumpuhkan sejumlah sektor vital.

Distribusi bahan bakar, misalnya, ikut terhenti setelah sopir-sopir truk tangki menolak beroperasi tanpa jaminan keamanan.

“Tanpa pengawalan, mereka enggan mengirim BBM ke berbagai daerah,” tulis harian The Kathmandu Post.

Situasi semakin pelik karena jalur pasokan dari India juga terblokir akibat serangan di sejumlah titik perbatasan.

Baca Juga: Tragedi Pandeglang: Dugaan Judi Online di Balik Aksi Sadis Suami Habisi Keluarga

Truk-truk tangki yang membawa bahan bakar dari negara tetangga tertahan berhari-hari, memperparah krisis energi di Nepal.

Tidak hanya itu, pemerintah sempat mengambil langkah kontroversial dengan menutup akses media sosial pada 4 September 2025.

Langkah tersebut diambil setelah berbagai platform melewati tenggat registrasi di Kementerian Komunikasi.

Namun, kebijakan itu justru memicu gelombang protes baru hingga akhirnya pemblokiran dicabut.

Ketegangan mencapai puncaknya sehari kemudian, ketika ribuan demonstran menyerbu gedung parlemen di ibu kota Kathmandu.

Massa juga membakar rumah sejumlah pejabat tinggi, membuat kota menjadi lautan api dan asap.

Polisi yang kewalahan terpaksa menurunkan meriam air, gas air mata, bahkan peluru tajam untuk membubarkan kerumunan.

Sayangnya, tindakan represif itu menelan banyak korban jiwa.

Puluhan orang dilaporkan tewas, sementara ratusan lainnya mengalami luka-luka dalam bentrokan sengit tersebut.

Kerusuhan yang meluas akhirnya mengguncang kursi kekuasaan.

Perdana Menteri Nepal, Sharma Oli, dalam pernyataannya yang disiarkan secara nasional, menyatakan mundur dari jabatannya.

“Demi meredakan krisis dan mengembalikan stabilitas negara, saya memutuskan untuk mengundurkan diri,” ujar Oli.

Baca Juga: Flashdisk Putih dan Isu Video 7 Menit, Ahmad Sahroni dan Nafa Urbach: Fakta atau Hoax Bikin Geger Dunia Maya?

Keputusan itu dianggap sebagai upaya untuk menurunkan eskalasi politik yang kian berbahaya.

Meski begitu, jalan menuju normalisasi tampaknya masih panjang.

Dengan infrastruktur rusak, pasokan energi terganggu, dan ketidakpastian politik yang membayangi, Nepal kini menghadapi ujian berat untuk bangkit dari keterpurukan.

Para pengamat menilai, kerusuhan kali ini menjadi salah satu krisis politik dan sosial paling serius yang pernah melanda negeri Himalaya tersebut dalam dekade terakhir.

Situasi keamanan masih rapuh, dan semua mata kini tertuju pada bagaimana pemerintah sementara akan merespons tuntutan rakyat serta menata ulang stabilitas negara.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.