Banten

Selama Ini Dianggap Aman, Malaria Tanpa Gejala Ternyata Menggerogoti Pertahanan Tubuh

Moehamad Dheny Permana | 9 September 2025, 19:40 WIB
Selama Ini Dianggap Aman, Malaria Tanpa Gejala Ternyata Menggerogoti Pertahanan Tubuh

Akurat Banten - Malaria selama ini dikenal sebagai penyakit mematikan yang ditandai dengan demam tinggi, menggigil, hingga komplikasi serius.

Namun, sebuah studi terbaru justru menyoroti sisi lain yang jarang disadari: infeksi malaria tanpa gejala ternyata tidak seaman yang selama ini diyakini.

Riset yang dipimpin oleh Universitas Monash, Australia, mengungkap bahwa kondisi tanpa gejala pada penderita malaria tetap berisiko mengganggu kerja sistem imun tubuh.

Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Molecular Systems Biology yang diterbitkan oleh European Molecular Biology Organization (EMBO).

Fokus utama penelitian ini adalah Plasmodium vivax, salah satu jenis parasit malaria paling banyak tersebar di dunia.

Baca Juga: Kementerian PU Pastikan Perbaikan Infrastruktur Publik Lebih Tangguh dan Tahan Lama

Parasit ini kerap menjadi tantangan besar dalam upaya global untuk menghapuskan malaria karena bisa bertahan dalam tubuh seseorang tanpa menimbulkan gejala khas penyakit tersebut.

Sebelumnya, para ahli berasumsi bahwa membawa parasit tanpa gejala justru memberi keuntungan karena diyakini dapat melatih sistem imun agar lebih tahan terhadap serangan malaria di kemudian hari.

Namun, hasil riset terbaru membantah anggapan itu.

Dengan pendekatan imunologi sistem, peneliti memeriksa sampel darah dari penderita malaria bergejala maupun yang tidak bergejala.

Mengejutkannya, kedua kelompok menunjukkan tanda gangguan pada sistem imun, khususnya pada monosit jenis sel darah putih yang berperan penting melawan infeksi.

Pada pasien yang mengalami gejala, gen yang berkaitan dengan fungsi monosit tertekan cukup signifikan.

Jumlah sel imun kunci ini juga menurun drastis.

Sementara itu, pada pasien tanpa gejala, peneliti menemukan aktivitas gen terkait monosit dan respons peradangan ikut terganggu.

Bahkan, ditemukan adanya peningkatan jalur antiperadangan dan aktivitas reseptor pengatur imun.

Hal ini menandakan bahwa tubuh justru sedang menekan respons imun secara aktif saat infeksi terjadi.

“Malaria tanpa gejala lebih berisiko dari dugaan sebelumnya karena dapat menekan fungsi kekebalan tubuh yang penting, yang berpotensi mengurangi kemampuan tubuh untuk membasmi parasit, melawan penyakit lain, atau merespons secara efektif terhadap vaksin,” ujar Diana Hansen.

Temuan ini membuat para ahli menilai ulang strategi kesehatan masyarakat di wilayah endemik malaria.

Jika sebelumnya skrining dan pengobatan lebih difokuskan pada pasien bergejala, kini penanganan terhadap penderita tanpa gejala juga menjadi pertimbangan serius.

Riset ini menegaskan bahwa meski seseorang tampak sehat, keberadaan parasit malaria tetap bisa membawa dampak negatif jangka panjang bagi sistem imun.

Baca Juga: Tak Bisa Dibendung! Air Mata Haru Ruben Onsu Saat Pertama Kali Melihat Ka'bah, Ungkap Pengalaman Tak Terduga

Dengan kata lain, infeksi diam-diam ini bukan hanya persoalan individu, tetapi juga bisa memperpanjang rantai penularan di masyarakat.

Para pakar pun mendorong peningkatan skrining dan langkah pengobatan sejak dini untuk memutus siklus penyebaran.

Malaria tanpa gejala bukanlah kondisi yang bisa dianggap remeh.

Alih-alih memberi perlindungan, justru ada risiko besar sistem imun tubuh melemah dan membuka celah bagi penyakit lain.

Studi ini menjadi pengingat penting bahwa upaya pemberantasan malaria perlu pendekatan lebih luas, mencakup semua kelompok, baik yang tampak sakit maupun yang terlihat sehat.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.