Banten

Jokowi Berpotensi Berbalik Melawan Prabowo? Akademisi Singapura Soroti Skenario Politik Ini

Aullia Rachma Puteri | 21 Oktober 2026, 16:02 WIB
Jokowi Berpotensi Berbalik Melawan Prabowo? Akademisi Singapura Soroti Skenario Politik Ini
JOKOWI MAU LAWAN PRABOWO PILPRES NANTI?

AKURAT BANTEN – Peta politik nasional berpotensi mengalami perubahan seiring berkembangnya hubungan antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).

Sosiolog sekaligus akademisi yang berkiprah di Nanyang Technological University (NTU), Singapura, Prof. Sulfikar Amir, memperkirakan Jokowi berpeluang mengambil sikap berlawanan dengan Prabowo apabila dinamika politik ke depan semakin memanas.

Prediksi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai keberlanjutan hubungan kedua tokoh yang sebelumnya berada dalam satu barisan politik pada Pemilihan Presiden 2024.

Meski demikian, kemungkinan terjadinya konfrontasi terbuka masih sebatas analisis dan belum menjadi kepastian.

Baca Juga: Bikin Heboh! Greenpeace Bentangkan Spanduk di Patung Selamat Datang, Pesannya Menohok Prabowo-Gibran

Dalam pandangan Sulfikar, pergantian kepemimpinan nasional tidak otomatis mengakhiri persaingan pengaruh di antara tokoh-tokoh besar.

Jokowi memang tidak lagi menjabat sebagai presiden, tetapi pengaruh politiknya masih menjadi bagian dari perhitungan dalam membaca perkembangan kekuatan politik Indonesia.

Di sisi lain, Prabowo kini memegang kendali pemerintahan dengan kewenangan menentukan arah kebijakan nasional.

Perbedaan posisi dan kepentingan di antara keduanya dinilai dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi hubungan politik pada masa mendatang.

Baca Juga: Prabowo Bikin Geger? Pengamat Soroti Pidato Spontan dan Komunikasi Menteri yang Tak Sinkron

Hubungan Jokowi dan Prabowo tidak cukup dinilai hanya melalui pertemuan, komunikasi, ataupun pernyataan dukungan di hadapan publik.

Menurut analisis Sulfikar, perkembangan di balik dinamika politik juga penting diperhatikan untuk melihat apakah kedekatan keduanya akan tetap terjaga.

Aktivitas politik Jokowi, termasuk keterkaitannya dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI), menjadi salah satu aspek yang ikut diperbincangkan.

Langkah politik tersebut berpotensi memengaruhi konfigurasi kekuatan di tingkat nasional, meskipun dampak akhirnya masih perlu dilihat dari perkembangan nyata.

Baca Juga: Besok Jadi Sorotan! BEM UI Siapkan Demo 2 Tahun Prabowo-Gibran, Tugu Tani hingga Tugu Proklamasi Disorot

Selain itu, perubahan susunan kabinet dan pergantian pejabat pemerintahan kerap menjadi bahan analisis mengenai distribusi pengaruh di lingkar kekuasaan.

Kendati demikian, perombakan kabinet tidak bisa langsung ditafsirkan sebagai bukti adanya perselisihan antara Jokowi dan Prabowo.

Kemungkinan Jokowi mengambil sikap lebih keras terhadap pemerintahan Prabowo tetap merupakan prediksi yang perlu diuji melalui peristiwa dan pernyataan politik berikutnya.

Perkembangan politik tersebut juga berlangsung ketika Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, putra Jokowi, menghadapi sorotan terkait persoalan dokumen pendidikan dan proses hukum yang berkaitan dengannya.

Baca Juga: Disetujui Prabowo, Siswa Tak Bisa Otomatis Naik Kelas Mulai 2027/2028! Ini Aturan Barunya

Isu tersebut menjadi perhatian masyarakat dan turut mewarnai diskusi mengenai posisi politik keluarga Jokowi.

Namun, menghubungkan polemik Gibran secara langsung dengan dugaan konflik antara Jokowi dan Prabowo memerlukan bukti yang lebih jelas.

Pada Pilpres 2024, Prabowo dan Gibran maju sebagai pasangan calon presiden dan wakil presiden.

Jokowi juga menjadi salah satu tokoh yang berpengaruh dalam dinamika politik menjelang pergantian pemerintahan tersebut.

Baca Juga: Putusan MK soal Gibran Berujung Desakan ke KPU, Relawan Prabowo Soroti Proses Verifikasi Dokumen

Perkembangan setelah pemilu akan menentukan bagaimana hubungan politik para tokoh itu bergerak.

Dukungan pada masa lalu tidak menjamin kesamaan kepentingan akan terus bertahan, tetapi perbedaan pandangan juga tidak otomatis berarti munculnya permusuhan terbuka.

Di tengah berbagai spekulasi mengenai hubungan elite, perhatian masyarakat dinilai perlu tetap diarahkan pada persoalan yang berdampak langsung terhadap kehidupan sehari-hari.

Kondisi ekonomi, akses pendidikan, kualitas pelayanan publik, dan efektivitas program pemerintah merupakan sejumlah hal yang perlu mendapat perhatian.

Baca Juga: Gibran Bisa Tergusur? Nama Mayor Teddy Muncul sebagai Kandidat Pendamping Prabowo di 2029

Persaingan politik seharusnya tidak menutupi kebutuhan masyarakat untuk memperoleh kebijakan yang tepat dan hasil pembangunan yang nyata.

Prediksi Sulfikar Amir mengenai kemungkinan Jokowi berseberangan dengan Prabowo menambah wacana tentang arah politik Indonesia.

Namun, apakah skenario tersebut benar-benar terjadi masih bergantung pada keputusan, pernyataan, serta langkah nyata kedua tokoh.

Dengan demikian, publik perlu membedakan antara analisis pengamat dan fakta politik yang telah terkonfirmasi.

Baca Juga: Prabowo Pilih Suyudi Jadi Kapolri, Bukan Sembarangan! Ini Rekam Jejak yang Jadi Sorotan

Perkembangan hubungan Jokowi dan Prabowo ke depan akan menjadi penentu apakah keduanya tetap sejalan atau justru mengambil jalur politik yang berbeda.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.