Banten

Tangan Bengkak Setelah Operasi Kanker Payudara? Mandaya Hadirkan Limfedema Center

Handrian Setiawan | 22 Oktober 2026, 12:22 WIB
Tangan Bengkak Setelah Operasi Kanker Payudara? Mandaya Hadirkan Limfedema Center
Tangan Bengkak Setelah Operasi Kanker Payudara? Mandaya Hadirkan Limfedema Center - Istimewa

AKURAT BANTEN - Tangan atau lengan yang membengkak setelah operasi kanker payudara bisa menjadi tanda limfedema, yakni kondisi akibat penumpukan cairan getah bening di jaringan tubuh.

Untuk membantu menangani komplikasi tersebut, RS Mandaya Royal Puri menghadirkan Limfedema Center, layanan khusus bagi pasien dan penyintas kanker payudara.

Limfedema Center resmi diluncurkan pada Sabtu (17/10/2026), bertepatan dengan momentum Breast Cancer Awareness Month atau Bulan Kesadaran Kanker Payudara. Mengusung tema “Lymphedema Awareness for Breast Cancer Patients & Survivors”, layanan ini menjadi bagian dari upaya Mandaya meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus menyediakan pilihan penanganan limfedema setelah pengobatan kanker payudara.

Baca Juga: Buntut 7,5 Ribu Hektare Lahan Hangus: Izin 6 Perusahaan Dibekukan, Seret Nama Haji Isam hingga Taipan Sawit, Ini Kronologinya!

Peluncuran tersebut dihadiri sejumlah dokter spesialis RS Mandaya Royal Puri, di antaranya dr. Abdul Rachman, Sp.B (K) Onk, dokter spesialis bedah onkologi; dr. Sara Ester Triatmoko, Sp.B.P.R.E., Subsp.M.O. (K), dokter spesialis bedah plastik rekonstruksi dan estetik dengan subspesialis bedah mikro dan onkoplasti; serta Prof. Dr. dr. Soehartati A. Gondhowiardjo, Sp.Onk.Rad (K), dokter spesialis onkologi radiasi.

Diskusi dipandu dr. Andre Sugiyono, Sp.KFR, dokter spesialis rehabilitasi medik. Sejumlah penyintas kanker payudara dari komunitas Cancer Information & Support Center (CISC) Indonesia juga turut hadir untuk berbagi pengalaman dan meningkatkan pemahaman mengenai risiko limfedema setelah pengobatan kanker.

Mengenal Limfedema, Komplikasi yang Bisa Muncul Setelah Operasi Kanker Payudara

Limfedema merupakan pembengkakan yang terjadi ketika sistem limfatik tidak mampu mengalirkan cairan getah bening secara optimal. Pada pasien kanker payudara, kondisi ini dapat muncul pada lengan, tangan, payudara, dada, hingga ketiak, terutama di sisi tubuh yang menjalani pengobatan.

Salah satu faktor risikonya adalah pengangkatan kelenjar getah bening saat operasi kanker payudara. Prosedur tersebut dapat mengganggu jalur aliran cairan getah bening sehingga terjadi penumpukan di jaringan tubuh.

Baca Juga: PDIP Tegas Tolak Usulan Luhut soal Korupsi! Hasto Singgung Proyek Kereta Cepat Whoosh, Ada Apa?

Jika tidak ditangani dengan tepat, limfedema dapat mengganggu fungsi gerak dan aktivitas sehari-hari. Karena itu, deteksi dini dan penanganan yang sesuai menjadi bagian penting dalam perawatan lanjutan pasien kanker payudara.

Melalui Limfedema Center, RS Mandaya Royal Puri menyediakan sejumlah pilihan terapi yang disesuaikan dengan kondisi pasien, mulai dari tindakan bedah mikro hingga rehabilitasi.

Salah satu pilihan yang tersedia adalah Lymphaticovenular Anastomosis (LVA) atau bypass limfatik. Prosedur bedah mikro ini dilakukan dengan menghubungkan pembuluh limfatik ke pembuluh darah vena kecil untuk menciptakan jalur alternatif aliran cairan getah bening.

Selain itu, tersedia prosedur transplantasi kelenjar getah bening, yakni pemindahan kelenjar getah bening sehat dari bagian tubuh lain ke area yang mengalami limfedema. Tindakan ini bertujuan membantu memperbaiki aliran cairan limfatik pada pasien tertentu.

Baca Juga: El Clasico Makin Membara! Suporter Real Madrid Serang Barcelona dengan Spanduk Kasus Negreira

Penanganan juga dapat dilakukan melalui rehabilitasi menggunakan alat kompresi (compression devices) untuk membantu mengendalikan pembengkakan, serta manual lymph drainage (MLD), yaitu teknik pijat khusus untuk membantu mengarahkan cairan getah bening menuju jalur yang masih berfungsi.

Layanan MLD di Mandaya dilakukan oleh fisioterapis tersertifikasi. Jenis terapi yang diberikan tetap disesuaikan dengan hasil evaluasi dan kebutuhan masing-masing pasien.

Mandaya Perkuat Layanan Kanker Payudara dengan Teknologi dan Tim Multidisiplin

Public Relation Manager Mandaya Hospital Group, Erwin Suyanto, mengatakan kehadiran Limfedema Center melengkapi layanan Pusat Kanker Payudara Mandaya yang dikenal sebagai BRAVE.

Menurut dia, pengembangan layanan ini dilakukan untuk membantu mendeteksi pembengkakan limfedema setelah operasi kanker payudara sekaligus menyediakan pilihan penanganan yang lebih komprehensif.

Baca Juga: Liverpool Diam-Diam Pantau Bintang Baru Aston Villa, Calon Pengganti Alexis Mac Allister?

“Kabar gembira dari Pusat Kanker Payudara Mandaya yang bernama BRAVE. Kali ini, kami menghadirkan teknologi guna mendeteksi adanya bengkak limfedema pada pasien kanker payudara pascamastektomi,” ujar Erwin.

Dia menjelaskan, Mandaya didukung tim dokter dengan keahlian di berbagai bidang, termasuk bedah onkologi serta bedah plastik rekonstruksi, bedah mikro, dan onkoplasti.

Keahlian tersebut memungkinkan pasien mendapatkan evaluasi dan pilihan penanganan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing, termasuk untuk mengatasi limfedema setelah menjalani operasi kanker payudara.

Erwin menambahkan, Mandaya juga menghadirkan teknologi High-Intensity Focused Ultrasound (HIFU) untuk menangani tumor payudara jinak atau fibroadenoma mammae (FAM) pada pasien yang memenuhi kriteria tindakan.

Baca Juga: PSG Hancurkan Rekor Sempurna Barcelona, Respons Hansi Flick Justru Bikin Publik Heran!

“Belum lama ini, kami juga menghadirkan teknologi HIFU guna menangani tumor payudara jinak (FAM) tanpa perlu ada sayatan atau operasi, bahkan tidak ada luka sama sekali,” ujar Erwin.

Layanan Kanker Payudara dari Deteksi Dini hingga Rekonstruksi

Kehadiran Limfedema Center semakin melengkapi layanan kanker payudara di RS Mandaya Royal Puri. Layanan tersebut mencakup berbagai tahapan, mulai dari deteksi dini, diagnosis, pengobatan, rekonstruksi payudara, hingga penanganan komplikasi setelah terapi.

Untuk mendukung pemeriksaan dan evaluasi kelainan payudara, Mandaya menyediakan sejumlah fasilitas, termasuk mamografi 2D dan 3D, USG payudara, serta Digital PET/CT Scan.

Rumah sakit ini juga menyediakan Vacuum-Assisted Breast Biopsy (VABB), prosedur pengambilan sampel jaringan payudara melalui sayatan kecil. Pada kasus tertentu, teknik tersebut juga dapat digunakan untuk mengangkat tumor jinak berukuran kecil dengan sayatan minimal.

Baca Juga: Pelatih Sepak Bola Mau Dilindungi dari Pemecatan? Muncul Usulan Radikal: Klub Dilarang Pecat Sebelum Januari!

Sementara itu, pilihan pengobatan kanker payudara meliputi mastektomi atau pengangkatan seluruh payudara, serta lumpektomi endoskopi untuk mengangkat tumor dengan mempertahankan sebanyak mungkin jaringan payudara sesuai kondisi medis pasien.

Pilihan terapi lainnya mencakup radioterapi, kemoterapi, imunoterapi, terapi target, dan terapi hormon. Mandaya juga menyediakan layanan rekonstruksi payudara untuk membantu memulihkan bentuk payudara setelah operasi.

Selain pengobatan, upaya menekan risiko limfedema juga menjadi perhatian dalam penanganan kanker payudara. Salah satunya melalui Sentinel Lymph Node Biopsy (SLNB), yaitu prosedur untuk memetakan dan memeriksa kelenjar getah bening sentinel yang menjadi jalur awal penyebaran kanker dari payudara.

Baca Juga: Terungkap! Roy Suryo dan Denny Indrayana Sama-Sama Eks Demokrat, Polemik Ijazah Jokowi-Gibran Memanas

Pada pasien yang memenuhi indikasi, SLNB memungkinkan dokter mengevaluasi kelenjar getah bening secara lebih terarah sehingga tidak semua kelenjar harus diangkat. Pendekatan ini dapat mengurangi risiko limfedema dibandingkan pengangkatan kelenjar getah bening yang lebih luas, meskipun risiko tetap bergantung pada kondisi pasien dan terapi yang dijalani.

Adapun teknologi HIFU menggunakan gelombang ultrasonik berintensitas tinggi yang difokuskan pada jaringan target untuk menghancurkan tumor tertentu tanpa sayatan. Kelayakan prosedur ini perlu ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan dan evaluasi dokter.

Melalui Limfedema Center, RS Mandaya Royal Puri memperluas dukungan bagi pasien dan penyintas kanker payudara, tidak hanya selama pengobatan utama, tetapi juga pada tahap pemulihan dan penanganan komplikasi.

Dengan dukungan tim multidisiplin dan beragam pilihan terapi, layanan ini diharapkan membantu pasien memperoleh penanganan yang sesuai, menjaga fungsi tubuh, serta meningkatkan kualitas hidup setelah menjalani pengobatan kanker payudara.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.