Hebat! Astri Kusuma dan Misi Memperkenalkan Seni Tari Indonesia kepada Dunia

AKURAT BANTEN — Ketika seorang penari melangkah ke atas panggung, yang terlihat bukan hanya gerakan tubuh. Ada identitas, tradisi, sejarah, sekaligus cerita tentang sebuah bangsa yang ikut dibawa melalui setiap gerakan.
Hal itulah yang menarik dari perjalanan Astri Kusuma Wardani, penari dan koreografer asal Surakarta yang telah terlibat dalam berbagai ruang pertunjukan seni, termasuk membawa karya dan kekayaan seni Indonesia ke hadapan penonton internasional.
Bagi Astri, tari bukan sekadar pertunjukan. Seni menjadi medium untuk memperkenalkan Indonesia dengan cara yang lebih universal—melalui gerak, ekspresi, musik dan kekuatan tradisi.
Jejak tersebut terlihat ketika Astri bergabung bersama kelompok Solo Dance Studio dari Djawa Trails Surakarta yang tampil dalam ajang pariwisata internasional ITB Berlin di Jerman.
Baca Juga: BRIN dan Rosatom Rusia Gelar Science Festival 2026, Dorong Edukasi Nuklir Damai bagi 1.200 Pelajar
Astri Kusuma Bawa Tari Indonesia ke Jerman
Nama Astri Kusuma Wardani tercatat sebagai salah satu dari lima penari Solo Dance Studio Djawa Trails yang tampil di ITB Berlin.
Dalam penampilan tersebut, mereka membawakan sejumlah karya tari dari Indonesia, di antaranya Tari Gondang, Kepak Sayap Berzapin, Legong Kipas dan Tregel Banyumas.
Pertunjukan itu bukan hanya menjadi panggung bagi para penari untuk menunjukkan kemampuan artistik.
Ada misi budaya yang lebih besar: memperlihatkan kepada masyarakat internasional bahwa Indonesia memiliki kekayaan seni dan budaya yang begitu beragam.
Astri bahkan menyampaikan kegembiraannya dapat terlibat dalam ITB Berlin karena kesempatan tersebut menjadi ruang untuk ikut mempromosikan Indonesia, khususnya melalui seni tari.
Ketika tari Indonesia tampil di panggung dunia, yang ikut bergerak bukan hanya tubuh seorang penari, tetapi juga identitas dan cerita tentang Indonesia.
Baca Juga: 8 Tuntutan Gugatan Gibran di MK Terungkap, Ada Permintaan Batalkan Pelantikan dan Pilih Wapres Baru
Dari Solo, Menembus Batas Negara
Surakarta selama ini dikenal sebagai salah satu pusat penting perkembangan seni dan budaya Jawa.
Di kota inilah berbagai tradisi tari tumbuh dan diwariskan dari generasi ke generasi. Namun, bagi para seniman seperti Astri, tradisi tidak harus berhenti di lingkungan asalnya.
Tari justru dapat dibawa keluar, dipertemukan dengan penonton dari berbagai negara dan menjadi bahasa budaya yang dapat dipahami tanpa harus selalu menggunakan kata-kata.
Kelompok Djawa Trails sendiri disebut telah menjalankan misi budaya ke sejumlah negara, termasuk Belanda, Prancis, Serbia dan beberapa negara di Asia.
Kehadiran Astri dalam perjalanan tersebut membuat sosoknya menarik untuk diperhatikan.
Ia tidak hanya berdiri sebagai seorang penari yang mengejar keindahan gerak, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan panjang seniman Indonesia dalam memperkenalkan budaya Nusantara ke dunia.
Baca Juga: Roy Suryo Soroti Biografi Gibran di MK, Ada Perbedaan Keterangan Pendidikan yang Dipersoalkan
Ketika Tradisi Bertemu Eksplorasi
Perjalanan Astri juga menunjukkan bahwa seni tradisional dan seni kontemporer tidak selalu harus ditempatkan dalam ruang yang terpisah.
Dalam sebuah catatan mengenai kegiatan seni di kawasan Solo, The Jakarta Post menyebut Astri sebagai penari dan koreografer dari Surakarta. Dalam kegiatan tersebut, Astri terinspirasi oleh unsur feminitas yang terdapat pada Candi Sukuh.
Hal tersebut memperlihatkan bagaimana lingkungan budaya dapat menjadi sumber inspirasi bagi penciptaan karya baru.
Tradisi tidak sekadar disalin.
Ia dapat dipelajari, ditafsirkan, kemudian diterjemahkan kembali melalui tubuh seorang seniman.
Inilah salah satu kekuatan seni pertunjukan Indonesia: akar tradisional tetap dapat menjadi fondasi, sementara bentuk penyajiannya terus berkembang mengikuti zaman.
Baca Juga: Mahfud MD Soroti Prabowo, 'Pidatonya Bagus, Tapi Pelaksanaan Pemerintah Jadi Pertanyaan'
Astri dan Perjalanan Bersama Ekosistem Seni Solo
Nama Astri juga tidak dapat dilepaskan dari lingkungan seni yang membentuk perjalanan panjang para seniman di Surakarta.
Ia dikenal sebagai penari sekaligus koreografer dan merupakan bagian dari lingkungan kreatif yang mempertemukan berbagai disiplin seni.
Dalam sejumlah dokumentasi seni, nama Astri juga muncul dalam berbagai proyek pertunjukan dan dokumentasi internasional. Arsip Fondazione Giorgio Cini di Italia, misalnya, mencatat sejumlah dokumentasi pertunjukan yang menampilkan Astri Kusuma Wardani pada 2019.
Catatan tersebut menunjukkan bahwa kiprah Astri tidak hanya terdokumentasi di Indonesia.
Perjalanan seorang seniman pada akhirnya meninggalkan jejak melalui pertunjukan, kolaborasi, arsip, dan karya yang dapat ditemukan kembali bahkan bertahun-tahun kemudian.
Baca Juga: Hakim Saldi Isra Cecar Bawaslu soal Syarat Pendidikan Gibran, 'Dipantau Enggak?'
Tak Hanya Menari, Astri Juga Terlibat dalam Penciptaan Karya
Peran Astri semakin menarik ketika ia tidak hanya hadir sebagai performer.
Pada pertunjukan Kase Seka, karya yang dipentaskan di Kuala Lumpur, Malaysia, pada November 2024, Astri Kusuma Wardani tercatat sebagai salah satu costume designer dalam tim produksi.
Karya tersebut dikoreografi oleh Eko Supriyanto dan terinspirasi dari kehidupan masyarakat adat Kaimana serta tradisi Seka. Pertunjukan itu menjalani world premiere di Panggung Bandaraya, Kuala Lumpur.
Keterlibatan tersebut memperlihatkan luasnya peran seorang seniman dalam sebuah produksi.
Di balik pertunjukan yang hanya berlangsung puluhan menit, terdapat proses panjang berupa riset, penciptaan konsep, latihan, desain, koreografi hingga penampilan di atas panggung.
Astri menjadi bagian dari proses kreatif tersebut.
Baca Juga: KPU Siapkan Dokumen soal Ijazah Gibran, Jawaban Gugatan Denny Indrayana Dibuka di MK Besok
Seni Indonesia Punya Bahasa yang Bisa Menembus Dunia
Ada satu hal penting dari perjalanan Astri: seni budaya Indonesia sebenarnya memiliki ruang yang sangat luas untuk diperkenalkan kepada dunia.
Tari tidak membutuhkan penerjemah seperti bahasa percakapan.
Gerakan, musik, kostum, ekspresi dan atmosfer pertunjukan dapat langsung menghadirkan pengalaman budaya kepada penonton.
Karena itu, ketika seorang seniman Indonesia tampil di luar negeri, panggung tersebut secara tidak langsung juga menjadi ruang diplomasi budaya.
Penonton mungkin datang untuk menyaksikan sebuah pertunjukan.
Namun, mereka dapat pulang dengan mengenal sedikit lebih banyak tentang Indonesia.
Baca Juga: Tragis! Siswa SD di Lampung Tengah Meninggal Tersedak Biji Kelengkeng, Bermula dari Paket MBG
Astri Kusuma dan Misi yang Lebih Besar
Perjalanan Astri Kusuma Wardani menjadi gambaran bahwa membawa seni Indonesia ke dunia membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan menari.
Dibutuhkan ketekunan, kreativitas, keberanian untuk tampil di ruang yang berbeda dan kemampuan untuk terus mengembangkan karya tanpa kehilangan akar budaya.
Dari Solo, jejak Astri bergerak menuju berbagai ruang pertunjukan.
Dari tari tradisional hingga eksplorasi seni pertunjukan, ia menjadi bagian dari generasi seniman yang menunjukkan bahwa budaya Indonesia bukan benda mati yang hanya disimpan sebagai warisan.
Budaya adalah sesuatu yang bisa terus bergerak.
Dan ketika gerakan itu sampai ke panggung internasional, nama Indonesia pun ikut hadir di dalamnya.
Kisah Astri Kusuma bukan semata tentang seorang penari yang tampil di atas panggung.
Lebih dari itu, ia adalah cerita tentang bagaimana seni Indonesia dapat melakukan perjalanan melampaui batas geografis.
Setiap panggung menjadi kesempatan untuk memperkenalkan Indonesia.
Setiap gerakan menjadi bagian dari cerita.
Dan setiap pertunjukan menjadi pengingat bahwa di balik kekayaan alam dan destinasi wisata, Indonesia juga memiliki kekayaan seni yang mampu berbicara kepada dunia.
Astri Kusuma Wardani adalah salah satu bagian dari perjalanan itu—membawa seni, tradisi dan semangat kreatif dari Solo untuk menemukan ruangnya di panggung yang lebih luas. (**)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini




Terpopuler
- 1Gibran Disorot soal Ijazah, Nama Anies Baswedan Muncul! Refly Harun Ungkap Sosok Pengganti Wapres
- 2Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang Perkuat Kapasitas Keluarga dan Pemasaran UMKM di Kelurahan Setu
- 3Ubah Stigma Mahjong, Andrew Herman Gelar Turnamen Berhadiah Rp15 Juta di One District at Puri
- 4Ranking Dua Akpol 1998! Ini Perjalanan Karier Ade Ary Syam Indradi hingga Jadi Karoops Polda Metro Jaya
- 5Ansor Tangsel Sukses Gelar Ansor Fest Experience 2026 di Mall, Padukan Syiar dan Kreativitas Pemuda
- 6Bukan Sekadar Kalah! Alexander Isak Soroti Kesalahan Fatal Liverpool saat Tumbang 2-3 di Istanbul
- 7Comeback Gila Real Madrid Bikin Bellingham Terpukau! Jude Minta Satu Hal Ini Dipertahankan Los Blancos
- 8Belum Selesai Kasus 115 Pelanggaran! Manchester City Terancam Investigasi Baru dan Sanksi Tambahan
- 9Ranking Dua Akpol 1998! Ini Perjalanan Karier Ade Ary Syam Indradi hingga Jadi Karoops Polda Metro Jaya
- 10Jokowi dan Roy Suryo Saling Sindir di Sidang Ijazah, Ending Jabat Tangan Ini Bikin Publik Terkejut!


