Banten

Apa yang Terjadi Jika Fasilitas Nuklir Terancam? Ini Langkah Kesiapsiagaan BRIN di Serpong

Viona Sebastian Nolani | 27 Oktober 2026, 11:32 WIB
Apa yang Terjadi Jika Fasilitas Nuklir Terancam? Ini Langkah Kesiapsiagaan BRIN di Serpong
BRIN Uji Kesiapsiagaan Kedaruratan Nuklir di KST B.J. Habibie - BRIN

AKURAT BANTEN - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar latihan terpadu untuk menguji kesiapan menghadapi keadaan darurat di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J. Habibie, Serpong, Kamis (22/10).

Latihan ini meliputi keamanan, keselamatan dan kesehatan kerja (K3), serta kesiapsiagaan nuklir dengan sejumlah skenario, mulai dari gangguan keamanan, kebakaran, sabotase, pencurian zat radioaktif, hingga kedaruratan radiologi.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan di KST B.J. Habibie yang berstatus sebagai salah satu Objek Vital Nasional (Obvitnas) dan memiliki fasilitas nuklir.

Baca Juga: Limbah Bunga Pala Selama Ini Terabaikan, BRIN Melihat Potensinya untuk Melindungi Logam

Direktur Pengelolaan Fasilitas Ketenaganukliran BRIN, R. Mohammad Subekti, menjelaskan bahwa latihan ini bertujuan menguji standar operasional prosedur (SOP) sekaligus menilai kesiapan personel dalam menghadapi keadaan darurat.

Pengujian mencakup koordinasi antartim, efektivitas sistem proteksi kebakaran, penerapan manajemen K3 dan pengamanan, kesiapan tim medis, serta pelaksanaan program kesiapsiagaan dan penanggulangan kedaruratan nuklir.

Menurut Subekti, latihan terpadu diperlukan agar setiap personel memahami prosedur penanganan darurat sesuai potensi risiko di masing-masing area fasilitas.

Baca Juga: Keamanan Nuklir Bukan Sekadar Penjagaan, BRIN Ungkap Ancaman yang Tak Terlihat

Evaluasi menyeluruh juga dilakukan untuk meningkatkan kemampuan mitigasi sehingga dampak keadaan darurat dapat dikendalikan dan tidak meluas ke masyarakat sekitar.

“Melalui kegiatan ini, kami tidak hanya menguji SOP, tetapi juga mengevaluasi kesiapan secara menyeluruh agar seluruh tim selalu siap menghadapi kemungkinan terjadinya keadaan darurat, meskipun kita tentu tidak mengharapkannya,” ujar Subekti.

Ia menambahkan bahwa manajemen risiko berperan penting dalam mencegah penyalahgunaan bahan nuklir dan radioaktif.

Upaya tersebut terutama diperlukan di area terproteksi dan fasilitas yang menggunakan bahan radioaktif, termasuk uranium.

Menurutnya, kepatuhan terhadap prosedur menjadi kunci untuk menjaga keamanan fasilitas sekaligus mempertahankan kepercayaan masyarakat terhadap BRIN.

Latihan ini turut melibatkan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) dan pengamat internal BRIN, termasuk para periset.

Hasil pengamatan dan penilaian akan dirangkum dalam laporan untuk kemudian disampaikan kepada Bapeten.

Ketua Tim Pengelolaan Reaktor Serbaguna G.A. Siwabessy (RSG GAS) sekaligus Ketua Pelaksana Latihan, Dicky Tri Jatmiko, mengatakan kegiatan tersebut mengacu pada Peraturan Kepala Bapeten Nomor 1 Tahun 2010 tentang Kesiapsiagaan dan Penanggulangan Kedaruratan Nuklir.

Peraturan itu mengatur kewajiban pemegang izin fasilitas atau instalasi nuklir untuk melaksanakan latihan dan/atau gladi kedaruratan nuklir sesuai ketentuan yang berlaku.

Dicky menjelaskan bahwa latihan tersebut melibatkan empat skenario utama.

Skenario pertama adalah gangguan keamanan dan pengendalian massa.

Skenario kedua mencakup kebakaran fasilitas dan penghentian operasi reaktor.

Skenario ketiga berupa sabotase dan pencurian zat radioaktif.

Sementara itu, skenario keempat adalah lepasan zat radioaktif yang membutuhkan dekontaminasi lingkungan dan penanganan korban medis.

Menurut Dicky, keempat skenario tersebut dirancang untuk menguji kemampuan personel dalam menangani berbagai kondisi darurat.

Latihan ini sekaligus mengevaluasi efektivitas komunikasi, koordinasi, dan kolaborasi antartim selama maupun setelah keadaan darurat berlangsung.

Selain menguji respons terhadap keadaan darurat, Dicky mengingatkan pentingnya menjaga fasilitas, sistem, struktur, dan komponen di lingkungan kerja agar tetap berfungsi optimal.

Pemeliharaan fasilitas secara berkala dan kepatuhan terhadap prosedur menjadi bagian penting dalam mencegah kecelakaan maupun keadaan darurat.

Wakil Kepala BRIN, Amarulla Octavian, dalam evaluasi setelah latihan menekankan pentingnya memastikan kesiapan sarana pemadam kebakaran, menyempurnakan SOP, serta memperkuat koordinasi dengan aparat keamanan dan masyarakat sekitar.

Salah satu aspek yang menjadi perhatian ialah kesiapan hidran sebagai sarana pendukung pemadaman kebakaran.

Amarulla meminta pemeriksaan rutin dilakukan untuk memastikan pasokan air, aliran, dan jaringan pipa berfungsi dengan baik.

Ia juga menekankan perlunya menambah ketersediaan alat pemadam api ringan (APAR) secara bertahap sesuai karakteristik risiko kebakaran di setiap fasilitas, termasuk kebakaran yang melibatkan bahan kimia.

Selain ketersediaan peralatan, personel juga harus memahami cara menggunakan APAR dan sarana pemadam lainnya dengan benar.

Amarulla turut menyoroti perlunya penyempurnaan SOP untuk menangani korban luka maupun korban yang diduga terkontaminasi zat radioaktif.

Prosedur menghadapi berbagai ancaman keamanan juga perlu diperkuat agar personel mampu merespons situasi secara tepat.

Menurutnya, peningkatan kemampuan personel harus dilakukan secara bertahap, seiring dengan pengembangan skenario latihan yang semakin kompleks, termasuk menghadapi ancaman spionase.

“Kalau sudah menghadapi spionase, ada prosedur yang lebih tinggi lagi. Kita akan bertahap. Nanti latihan lokasinya di depan lagi, prosedurnya ditambah, kemudian tingkat ancamannya meningkat dari sekadar pencurian menjadi spionase,” jelasnya.

Untuk memperkuat penanganan keadaan darurat, Amarulla menegaskan pentingnya koordinasi dengan kepolisian, TNI, pemerintah daerah, pemadam kebakaran, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Kerja sama lintas instansi diperlukan agar penanganan keadaan darurat dapat berlangsung cepat, tepat, dan terkoordinasi.

Ia menambahkan bahwa latihan selanjutnya direncanakan mencakup area di luar garis kuning, termasuk skenario ancaman keamanan dan kebakaran yang melibatkan bahan kimia.

Koordinator kawasan juga diminta menyusun jadwal latihan secara berkala di berbagai laboratorium agar personel memahami prosedur darurat sesuai karakteristik fasilitas masing-masing.

Pelaksana Tugas Direktur Keteknikan dan Kesiapsiagaan Nuklir Bapeten, Agus Yudhi Pristianto, mengapresiasi latihan BRIN yang menggabungkan aspek keamanan (security) dan keselamatan (safety).

Menurutnya, skenario gangguan keamanan, kebakaran, dan kontaminasi radioaktif menunjukkan bahwa berbagai unsur penanggulangan kedaruratan telah diintegrasikan dalam satu kegiatan.

“Kami melihat skenario ini telah mengintegrasikan unsur security dan safety, mencakup kejadian nonnuklir seperti kebakaran dan kontaminasi. Koordinasi antartim serta dukungan infrastruktur dan fungsi penanggulangan juga berjalan dengan baik,” ujarnya.

Agus juga menekankan perlunya pemeriksaan dan latihan berkala untuk memastikan sarana pemadam kebakaran selalu siap digunakan.

Dalam penanganan korban yang berpotensi terkontaminasi zat radioaktif, penyelamatan jiwa harus tetap menjadi prioritas.

Namun, risiko kontaminasi terhadap petugas penyelamat dan tenaga medis juga harus diperhitungkan selama proses penanganan.

Ia turut mendorong pelaksanaan latihan rutin dan koordinasi dengan Bapeten apabila ditemukan indikasi atau kejadian radiasi yang tidak semestinya.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.