Banten

Keamanan Nuklir Bukan Sekadar Penjagaan, BRIN Ungkap Ancaman yang Tak Terlihat

Viona Sebastian Nolani | 27 Oktober 2026, 11:19 WIB
Keamanan Nuklir Bukan Sekadar Penjagaan, BRIN Ungkap Ancaman yang Tak Terlihat
BRIN Perkuat Budaya Keamanan Nuklir, Waspadai Ancaman Fisik hingga Siber - BRIN

AKURAT BANTEN - Keamanan nuklir tidak hanya bergantung pada penjagaan fasilitas dan kepatuhan terhadap prosedur.

Kebocoran informasi, pencurian kekayaan intelektual, serangan siber, hingga ancaman dari orang dalam juga harus diantisipasi.

Karena itu, budaya keamanan nuklir perlu diperkuat melalui kesadaran dan tanggung jawab seluruh personel.

Dany Mulyana dari Pusat Riset Teknologi Reaktor Nuklir BRIN menjelaskan pentingnya budaya keamanan dalam kegiatan Capacity Building: Budaya Keselamatan dan Keamanan Organisasi Riset Tenaga Nuklir di Jakarta, Senin (26/10).

Baca Juga: Bukan Sekadar Menopang Tulang, Implan Medis Ini Dikembangkan agar Bisa Memulihkan Lapisan Pelindungnya

Menurutnya, penguatan keamanan harus dimulai dengan mengenali ancaman, memahami kerentanan, dan memastikan setiap personel menjalankan tanggung jawabnya.

Berbagai studi kasus menunjukkan bahwa persoalan keamanan tidak selalu terbatas pada insiden yang terlihat.

Dalam pendekatan keandalan manusia, kesalahan, pelanggaran prosedur, dan insiden merupakan bagian yang tampak di permukaan.

Sementara itu, ada faktor lain yang perlu ditelusuri, seperti kelelahan, tekanan kerja, pelatihan yang belum memadai, prosedur yang tidak jelas, serta lemahnya pengawasan dan budaya organisasi.

Baca Juga: Mourinho Berlutut Rayakan Gol Mbappe di Camp Nou, Real Madrid Menang 2-1

“Yang kita lihat hanyalah sebagian kecil dari kenyataan,” ujar Dany.

Pendekatan tersebut menekankan pentingnya menelusuri faktor di balik setiap insiden untuk memahami penyebab munculnya kesalahan.

Tantangan keamanan juga semakin beragam seiring perkembangan teknologi digital dan perubahan pola kerja.

Di lingkungan kerja bersama, ancaman dapat berupa kehilangan aset, kebocoran informasi, pencurian kekayaan intelektual, phishing, rekayasa sosial, peretasan akun, hingga serangan jaringan.

Risiko juga dapat berasal dari kelalaian personel, tindakan sengaja oleh orang dalam, maupun kolusi.

Dany menegaskan bahwa budaya keamanan harus dibangun dengan melibatkan seluruh personel organisasi.

Langkah ini dapat dilakukan melalui lokakarya, pelatihan penilaian ancaman, peningkatan kesadaran terhadap ancaman internal dan eksternal, serta penguatan kesiapsiagaan dan dokumentasi penanganan insiden.

“Budaya keamanan harus terintegrasi dalam setiap proyek, menjadi salah satu pesan utama dalam materi yang disampaikan. Penerapannya perlu didukung pembagian tanggung jawab yang jelas, pelaporan, pembelajaran organisasi secara berkelanjutan, serta evaluasi dan perbaikan sistem secara berkala. Program keamanan juga perlu memperhatikan pihak ketiga, kontraktor, dan rantai pasok yang terlibat dalam kegiatan organisasi,” jelas Dany.

Melalui kegiatan peningkatan kapasitas ini, Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN mendorong peningkatan pemahaman personel agar keamanan menjadi bagian dari setiap kegiatan riset dan pengembangan teknologi nuklir.

Budaya keamanan yang kuat diharapkan membantu organisasi mendeteksi ancaman lebih awal, meningkatkan kesiapsiagaan, dan menjaga keberlangsungan kegiatan penelitian.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.