Limbah Bunga Pala Selama Ini Terabaikan, BRIN Melihat Potensinya untuk Melindungi Logam

AKURAT BANTEN - Limbah perkebunan pala (Myristica fragrans) memiliki potensi pemanfaatan yang lebih luas daripada sekadar bahan kompos.
Selama ini, limbah pala umumnya dibiarkan menumpuk atau diolah menjadi pupuk organik.
Padahal, sisa bunga pala mengandung senyawa alami yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku inhibitor korosi.
Senyawa tersebut dapat membentuk lapisan pelindung pada permukaan logam untuk menghambat korosi dan mencegah kerusakan material.
Baca Juga: Keamanan Nuklir Bukan Sekadar Penjagaan, BRIN Ungkap Ancaman yang Tak Terlihat
Periset Pusat Riset Metalurgi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang berfokus pada korosi dan teknologi mitigasi, Ahmad Royani, menjelaskan pentingnya inhibitor korosi bagi berbagai sektor industri.
Menurutnya, degradasi material, terutama logam besi, menjadi masalah serius karena dapat memicu kebocoran pipa, kerusakan tangki, penurunan keandalan mesin, hingga kegagalan struktur yang membahayakan keselamatan.
“Kerusakan akibat korosi memerlukan biaya perawatan maupun penggantian material yang sangat besar. Kondisi ini menjadi tantangan terutama bagi industri manufaktur, pembangkit listrik, transportasi, dan infrastruktur kelautan,” ujarnya.
Korosi terjadi akibat reaksi elektrokimia antara permukaan logam dan lingkungan di sekitarnya.
Inhibitor berfungsi menghambat reaksi tersebut yang dapat dipicu oleh oksidasi, kelembapan, zat asam, maupun ion klorida.
Penggunaannya dilakukan dengan menambahkan inhibitor dalam jumlah relatif kecil ke lingkungan korosif untuk mencegah interaksi yang merusak permukaan baja.
Efektivitas inhibitor dipengaruhi oleh jenis logam, konsentrasi bahan, temperatur, tingkat keasaman, serta karakteristik lingkungan.
Selama ini, inhibitor korosi konvensional banyak menggunakan senyawa kromat, seperti kromat heksavalen dan seng kromat, yang efektif melindungi logam dari korosi.
Selain memiliki daya rekat yang baik antara permukaan logam dan lapisan cat, senyawa tersebut mampu membentuk perlindungan yang kuat.
Keduanya juga memiliki sifat self-healing, yaitu kemampuan memperbaiki lapisan pelindung secara mandiri.
Namun, senyawa kromat bersifat toksik, karsinogenik bagi manusia, dan sulit terurai ketika mencemari lingkungan.
Karena itu, BRIN mengembangkan riset untuk menghasilkan alternatif inhibitor korosi yang diharapkan memiliki efektivitas serupa dengan tingkat toksisitas lebih rendah.
Dalam penelitian ini, BRIN bekerja sama dengan Universitas Indonesia untuk mengembangkan inhibitor alternatif berbahan limbah biomassa dari perkebunan pala.
“Ekstrak tumbuhan dan limbah biomassa seperti pala mengandung senyawa alami penting, antara lain fenolik, flavonoid, dan tanin. Senyawa tersebut berpotensi berinteraksi dengan permukaan logam apabila dipadukan dengan nanopartikel seng oksida (ZnO) untuk membentuk lapisan pelindung pada baja,” ujarnya.
Ahmad menambahkan bahwa ketersediaan bahan baku dari limbah biomassa menjadi salah satu keunggulan pengembangan inhibitor korosi berbasis pala.
Meski demikian, ketersediaan bahan baku tidak otomatis menjamin keamanan, biaya produksi yang murah, maupun efektivitas produk yang dihasilkan.
Variasi kandungan senyawa alami dalam biomassa juga menjadi tantangan untuk menjaga konsistensi konsentrasi dan dampak penggunaannya.
“Kendati demikian, pemanfaatan limbah biomassa pala sebagai sumber daya terbarukan menjadi salah satu bentuk penerapan ekonomi sirkular yang turut mendukung pengembangan teknologi berkelanjutan. Selain itu, penelitian ini membuka peluang baru dalam pemanfaatan limbah biomassa yang selama ini belum banyak dieksplorasi, khususnya sebagai bahan baku inhibitor untuk melindungi logam dari korosi,” ujar Ahmad.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Ballon d’Or 2026 Segera Terjawab! Ini Jadwal Pengumuman, Jam Tayang WIB, dan Kandidat yang Berebut Trofi
- 2Haaland Semprot Donnarumma di Tengah Laga, Blunder Sang Kiper Bikin Man City Tumbang!
- 3Jusuf Kalla Heran Ditantang Buka Buku Nikah, Padahal Hanya Minta Jokowi Tunjukkan Ijazah Asli!
- 4Uang Pelicin Rp338 Juta di Balik Kredit Fiktif Bank BJB: Polda Banten Bongkar Modus Licik Rekayasa Dokumen, Negara Boncos Rp8,7 Miliar!
- 5PILPRES 2029 Pecah Kongsi! Pengamat Cium Isyarat Jokowi-Prabowo Bukan Lagi Sejalan, Diduga Saling Berhadapan, Alasannya Begini
- 6Rizal Fadillah Desak Prabowo Bersikap soal Gibran, Benarkah Wacana Pemakzulan Makin Panas?
- 7Bakar Mesin di 'Kandang' Prabowo, Manuver Tersembunyi Jokowi Isyaratkan Persiapan PILPRES 2029
- 8Kekeringan Landa Cipete, PMI Pinang Salurkan Air Minum Bersih untuk Warga
- 9Reaksi Kylian Mbappe dan Lamine Yamal Saat Harry Kane Menang Ballon d'Or 2026 Jadi Sorotan
- 10PSG Pertahankan Gelar Klub Terbaik Ballon d'Or 2026 Setelah Raih Lima Trofi








