Banten

Begini Alasan Dedi Mulyadi Saat Dicari Prabowo di Rakornas, Lebih Baik di Kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai

Abdurahman | 23 Oktober 2026, 20:30 WIB
Begini Alasan Dedi Mulyadi Saat Dicari Prabowo di Rakornas, Lebih Baik di Kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai
PEMADAMAN-Gubernur Jawa Barat memimpin koordinasi pemadaman Karhutla Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Kamis (22/10/2026). (BPBD Kabupaten Kuningan)

AKURAT BANTEN— Suasana Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) TPAKD di Jakarta sempat mencuri perhatian publik ketika Presiden Prabowo Subianto menyapa para kepala daerah yang hadir. Di tengah riuhnya jajaran pejabat tinggi negara, pandangan Presiden justru tertuju pada satu kursi kosong milik pimpinan wilayah yang posisinya paling dekat dengan ibu kota.

"Ke mana KDM? Yang paling dekat enggak hadir malah. Pasti sibuk," celetuk Prabowo di tengah pidatonya, merujuk pada sosok Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM).

Pertanyaan santai namun menohok itu langsung memicu rasa penasaran. Ke mana gerangan sang Gubernur Jawa Barat hingga rela absen dari agenda nasional berbobot tersebut?

Baca Juga: AC Milan Hancur Lebur di Markas Bournemouth: 4 Pemain Ini Jadi Biang Keladi Pembantaian Rossoneri!

Bukan Sekadar Sibuk, Tapi Menyabung Nyawa di Lereng Ciremai

Jawabannya terungkap tak lama kemudian. Di saat para pejabat berkumpul di ruang ber-AC Jakarta, Dedi Mulyadi justru terlihat berada di tengah kepulan asap tebal.

Ia memilih langsung turun ke lapangan memimpin pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerjang kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Bagi KDM, keputusan absen dari pengarahan Presiden bukanlah bentuk ketidakpatuhan, melainkan panggilan darurat kemanusiaan dan ekologi.

Saya sampaikan bahwa penanganan kebakaran Ciremai itu merupakan fokus prioritas yang disarankan oleh Pak Mensesneg dan saya juga sudah lapor ke Pak Seskab," ungkap Dedi Mulyadi. "Saya mengucapkan terima kasih kepada Pak Mensesneg dan Pak Seskab yang memberikan izin saya untuk tidak mengikuti kegiatan bersama Bapak Presiden di Jakarta, tapi fokus memadamkan api di Gunung Ciremai.

Baca Juga: Bayar 'Hutang' 16 Tahun Lalu, Skuad Emas Manchester United Resmi Bentrok Lawan Persija di SUGBK!

Pergerakan Cepat: Kerahkan 1.000 Personel hingga Water Bombing

Tak sekadar meninjau lokasi, aksi KDM di Gunung Ciremai terekam nyata lewat koordinasi taktis dan kebijakan tak biasa:

  1. Aksi Lapangan & Insentif Warga: KDM menggalang kekuatan lokal dan menyiagakan upah harian sebesar Rp250.000 per hari bagi warga yang bahu-membahu menaklukkan si jago merah.

  2. Kekuatan 1.000 Personel Gabungan: Sebanyak 1.000 personel dari unsur TNI, Polri, BPBD, hingga relawan dikerahkan untuk membuat kanal alamiah dan sekat bakar agar api tidak meluas ke kawasan pemukiman maupun hutan lindung lainnya.

  3. Operasi Udara (Water Bombing): Menyadari medan Ciremai yang curam, KDM berkoordinasi intensif dengan jajaran Kemenhan, Panglima TNI, hingga KSAU untuk menerjunkan helikopter Caracal guna melakukan pemadaman dari udara (water bombing) via pangkalan Lanud Sugiri Sukani, Majalengka.

Baca Juga: Disaat Kumpul Keluarga Akhir Pekan, Resep Masakan Kepala Ikan Kakap jadi Primadona Keluarga

Langkah Antisipasi Permanen

Upaya isolasi titik api tersebut terbukti membuahkan hasil. Api yang sempat mengancam kelestarian ekosistem Ciremai berhasil diisolasi agar tidak merambat ke area yang lebih luas.

KDM menegaskan bahwa keberadaannya di Gunung Ciremai bukan cuma untuk pemadaman sesaat, melainkan memastikan sistem pembuatan kanal dan sekat bakar permanen terbangun dengan sempurna.

"Sehingga ke depan kalau ada kebakaran lagi, kalau kanalnya sudah terbangun dengan baik, kanal alamiahnya dioptimalkan, maka kebakaran tidak akan menjalar ke mana-mana," pungkas KDM.

Aksi nyata Dedi Mulyadi yang memperlihatkan skala prioritas—antara menghadiri seremoni atau menyelamatkan paru-paru Jawa Barat—ini pun menuai beragam apresiasi dan simpati dari masyarakat luas.(**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Abdurahman
Reporter
Abdurahman
Abdurahman