Banten

Rusia Perkuat Pengaruh di Asia, Indonesia Perlu Waspadai Perubahan Geopolitik Ini

Viona Sebastian Nolani | 25 September 2026, 13:19 WIB
Rusia Perkuat Pengaruh di Asia, Indonesia Perlu Waspadai Perubahan Geopolitik Ini
Perubahan Posisi Rusia di Asia Buka Dinamika Baru bagi Indonesia - BRIN

AKURAT BANTEN - Perubahan hubungan Rusia dengan berbagai negara Asia, mulai dari China dan Korea Utara hingga kawasan Asia Tenggara, memperlihatkan adanya perkembangan baru dalam peta geopolitik dan ekonomi regional.

Dinamika tersebut menjadi hal penting bagi Indonesia untuk dicermati, terutama dalam melihat peluang dan tantangan kerja sama ekonomi serta hubungan bilateral di tengah perubahan geopolitik dunia.

Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora (OR IPSH) BRIN Muhammad Najib Azca mengatakan, perubahan posisi Rusia di Asia perlu dilihat sebagai bagian dari perkembangan geopolitik internasional.

Menurut Najib, kajian mengenai Rusia diperlukan untuk memahami perubahan politik global sekaligus melihat dampaknya terhadap kepentingan Indonesia.

Baca Juga: Bukan Sekadar Perbaikan Jalan, Pemkot Tangerang Benahi Drainase hingga Sungai untuk Redam Banjir

Pemahaman tersebut juga dinilai dapat menjadi salah satu dasar untuk memperkuat hubungan bilateral antara Indonesia dan Rusia.

“Yang lebih penting, kita dapat mengembangkan hubungan yang lebih kuat, lebih dekat, dan lebih baik antara Indonesia dan Rusia,” ujar Najib dalam webinar Posisi Rusia di Asia Pasifik yang diselenggarakan Pusat Riset Kewilayahan (PRW) BRIN, Kamis (24/9).

Najib berharap forum tersebut mampu memberikan gambaran yang lebih mendalam mengenai posisi Rusia, baik dalam dinamika kawasan Asia maupun dalam politik global.

Pandangan serupa disampaikan Peneliti PRW BRIN Albert Muhammad yang menilai perubahan ekonomi dan politik Rusia di kawasan Asia-Pasifik menjadi dinamika penting untuk diperhatikan Indonesia.

Baca Juga: Dibalik Patung Ayam Besi dari Ratusan Knalpot Brong di Cianjur, Ada Pesan Humanis Kapolres AKBP Alexander

Menurut Albert, perkembangan tersebut dapat membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat peran regional melalui ASEAN sekaligus memperluas kerja sama ekonomi bilateral dengan Rusia.

“Hemat saya, diskusi webinar hari ini menegaskan betapa krusialnya dinamika posisi ekonomi dan politik Rusia di Asia-Pasifik bagi Indonesia, khususnya dalam menavigasi lanskap geopolitik yang terus berubah,” ujar Albert yang menjadi moderator dalam diskusi tersebut.

Webinar tersebut menghadirkan Artyom Lukin dari Far Eastern Federal University Rusia sebagai salah satu pembicara utama.

Dalam pemaparannya, Lukin menjelaskan bahwa kawasan Asia Timur mempunyai nilai strategis yang besar bagi Rusia.

Lukin kemudian membahas Asia Timur Laut dan Asia Tenggara secara khusus karena hubungan Rusia dengan negara-negara di kedua wilayah tersebut memiliki karakter yang berbeda.

China disebut Lukin sebagai mitra paling penting bagi Rusia di kawasan Asia.

Menurutnya, kedekatan Rusia dan China bukan hanya berkembang pada masa Presiden Vladimir Putin dan Presiden Xi Jinping, tetapi telah memiliki dasar hubungan sejak dekade 1990-an ketika Boris Yeltsin menjadi Presiden Rusia dan Jiang Zemin memimpin China.

“China saat ini merupakan mitra terpenting Rusia, bahkan mungkin dapat disebut sebagai sekutu semu,” ujar Lukin.

Hubungan antara Rusia dan China semakin intensif pada era Putin-Xi dengan kedua negara sama-sama memiliki kepentingan untuk menjaga hubungan tetap konstruktif.

Lukin menjelaskan, konflik terbuka antara Rusia dan China berpotensi menimbulkan kerugian bagi kedua pihak sehingga hubungan yang stabil menjadi kepentingan bersama.

Dalam sektor ekonomi, China juga mempunyai peran besar dalam perdagangan Rusia.

Lukin menyebut adanya tingkat ketergantungan yang tinggi antara kedua negara dalam perdagangan dan teknologi, meskipun menurutnya kondisi tersebut tidak secara otomatis menunjukkan adanya ketergantungan politik.

Di luar China, Rusia juga terus mempererat hubungan dengan Korea Utara.

Lukin menyoroti perjanjian kemitraan strategis komprehensif yang ditandatangani Presiden Vladimir Putin dan Kim Jong-un pada 2024 sebagai salah satu dasar yang memperkuat hubungan kedua negara, termasuk dalam bidang keamanan.

Sementara itu, hubungan Rusia dengan Jepang dan Korea Selatan menghadapi tekanan setelah kedua negara ikut menerapkan sanksi bersama negara-negara Barat terhadap Rusia setelah 2022.

Pemerintah Rusia kemudian memasukkan Jepang dan Korea Selatan ke dalam kategori negara tidak bersahabat.

Meski menghadapi ketegangan di tingkat politik, hubungan Rusia dan Korea Selatan di sektor pendidikan masih tetap berjalan.

“Mahasiswa Korea Selatan masih terus datang untuk belajar di Far Eastern Federal University dan sejumlah universitas Rusia lainnya,” ujar Lukin.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.