Banten

MIRIS! Pedagang Mie Ayam Keliling di Blora Masuk Desil 8, KIS Tak Aktif karena Data Keluarga Tercatat

Abdurahman | 11 September 2026, 14:45 WIB
MIRIS! Pedagang Mie Ayam Keliling di Blora Masuk Desil 8, KIS Tak Aktif karena Data Keluarga Tercatat
PEDAGANG MI AYAM - Puji Lestari (53) dan Surono (53), pedagang mi ayam, saat ditemui di rumahnya, di RT 04/RW 06, Kelurahan Ngawen, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora, Jawa Tengah (dok tribun.com)

AKURAT BANTEN— Kisah seorang pedagang mie ayam keliling di Blora, Jawa Tengah, menjadi perhatian setelah kondisi kehidupannya dikaitkan dengan status kepesertaan Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang tidak lagi aktif.

Pedagang tersebut disebut harus berhenti berjualan karena kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan untuk terus berkeliling menjajakan mie ayam.

Persoalan semakin rumit karena ketika membutuhkan layanan kesehatan, kartu KIS miliknya ternyata sudah tidak aktif.

Dalam informasi yang beredar, kondisi tersebut berkaitan dengan perubahan data kesejahteraan keluarganya. Pedagang mie ayam keliling itu tercatat dalam desil 8, sementara keluarganya juga disebut tercatat dalam data kependudukan yang memengaruhi status kepesertaan bantuan kesehatan.

Baca Juga: Gerakan Massa Warga Bukit Nusa Indah: Banjiri Jalan dengan Spanduk Dukungan SMPN 25 Tangsel

Tak Bisa Lagi Berjualan karena Kondisi Kesehatan

Aktivitas sebagai pedagang mie ayam keliling selama ini menjadi salah satu sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Namun, kondisi kesehatan membuat aktivitas tersebut harus dihentikan.

Bagi pekerja sektor informal seperti pedagang keliling, berhenti bekerja bukan sekadar kehilangan rutinitas. Penghasilan harian yang biasanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga ikut terhenti.

Situasi menjadi semakin berat ketika kebutuhan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan justru muncul pada saat kemampuan ekonomi keluarga sedang terbatas.

Berhenti berjualan karena sakit sudah menjadi beban berat. Ketika akses layanan kesehatan juga terkendala karena status KIS tidak aktif, persoalan yang dihadapi keluarga tersebut menjadi berlapis.

Baca Juga: Bikin Arsenal Makin Pede! Kevin De Bruyne Akui The Gunners sebagai Tim Terkuat di Dunia Saat Ini

Masuk Desil 8, Mengapa KIS Bisa Terkendala?

Istilah desil digunakan dalam pendataan sosial ekonomi untuk mengelompokkan kondisi kesejahteraan masyarakat.

Dalam kasus ini, pedagang mie ayam tersebut disebut masuk desil 8. Posisi tersebut menjadi sorotan karena berkaitan dengan proses penentuan penerima berbagai program bantuan sosial dan perlindungan sosial.

Namun, status desil seharusnya tidak serta-merta dipahami sebagai ukuran tunggal mengenai kemampuan seseorang membayar biaya kesehatan.

Kondisi ekonomi keluarga dapat berubah sewaktu-waktu. Begitu pula keadaan kesehatan dan kemampuan seseorang untuk bekerja.

Karena itu, persoalan data menjadi penting agar kondisi nyata masyarakat dapat tercermin secara tepat.

Baca Juga: Chelsea Dapat Harta Karun Murah! Peter Schmeichel Prediksi Bintang Argentina Ini Jadi Transfer Terbaik Musim Ini

Data Keluarga Jadi Sorotan

Informasi yang beredar menyebut persoalan KIS tersebut juga berkaitan dengan data keluarga yang tercatat pada sistem administrasi kependudukan.

Artinya, persoalan bukan hanya mengenai kartu yang tidak aktif, tetapi juga bagaimana data keluarga terhubung dengan sistem pendataan kesejahteraan dan kepesertaan program kesehatan.

Perubahan atau ketidaksesuaian data dapat berdampak langsung kepada masyarakat yang membutuhkan layanan.

Terlebih bagi pekerja informal yang tidak memiliki penghasilan tetap dan sangat bergantung pada kemampuan fisik untuk bekerja.

Baca Juga: Bukan Real Madrid atau PSG, Gary Lineker Pilih Arsenal! Barcelona Disebut Bisa Jadi Batu Sandungan

Kisah Pedagang Mie Ayam Ini Buka Persoalan Lebih Besar

Kasus tersebut menjadi gambaran bahwa akurasi data sosial ekonomi memiliki dampak nyata bagi kehidupan masyarakat.

Di satu sisi, pemerintah membutuhkan sistem pendataan yang akurat agar bantuan benar-benar diterima masyarakat yang memenuhi kriteria.

Di sisi lain, masyarakat yang mengalami perubahan kondisi ekonomi maupun kesehatan membutuhkan mekanisme pembaruan data yang mudah dan cepat.

Terlebih bagi masyarakat berpenghasilan tidak tetap.

Ketika seseorang masih mampu bekerja, kebutuhan kesehatan mungkin dapat dipenuhi dari penghasilan sehari-hari. Tetapi ketika sakit dan tidak bisa bekerja, kebutuhan terhadap jaminan kesehatan justru semakin besar.

Baca Juga: Barcelona Punya Mesin Gol Baru? Raphinha Cetak 8 Gol dalam 5 Pertandingan dan Bikin Rekor!

Harapan agar Kondisi Warga Bisa Ditinjau Kembali

Kisah pedagang mie ayam keliling di Blora tersebut pada akhirnya bukan hanya tentang satu kartu KIS yang tidak aktif.

Lebih jauh, kasus ini menyentuh persoalan penting mengenai akurasi data, kondisi ekonomi keluarga, kesehatan, dan perlindungan masyarakat pekerja informal.

Masyarakat tentu berharap setiap perubahan kondisi dapat diikuti dengan pembaruan data yang akurat sehingga warga yang benar-benar membutuhkan tidak kehilangan akses terhadap layanan dasar.

Apalagi ketika kondisi kesehatan sudah membuat seseorang tidak mampu lagi mencari nafkah seperti sebelumnya.

Kisah pedagang mie ayam keliling di Blora ini menjadi pengingat bahwa di balik angka dan kategori desil dalam sebuah sistem pendataan, ada kehidupan manusia yang bergantung pada keputusan tersebut(**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Abdurahman
Reporter
Abdurahman
Abdurahman