Inflasi Indonesia Mei 2026 Naik Tajam, Harga Cabai Jadi Pemicu Utama

AKURAT BANTEN - Inflasi bulanan Indonesia melonjak dua kali lipat pada Mei 2026.
Kenaikan ini terutama dipicu oleh naiknya harga bahan pangan, khususnya cabai, komoditas penting bagi masyarakat Indonesia yang dikenal gemar mengonsumsi makanan pedas.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi bulanan mencapai 0,28 persen pada Mei.
Angka tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan April, demikian disampaikan pejabat BPS Pudji Ismartini pada Selasa (2 Juni).
Baca Juga: Inflasi Indonesia Melejit di Mei 2026, Harga Makanan dan Transportasi Jadi Pemicu
Menurut Pudji, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi bulan lalu.
"Komoditas dominan yang mendorong inflasi dalam kategori ini adalah cabai merah, dengan kontribusi inflasi sebesar 0,08 persen, minyak goreng dan bawang merah, masing-masing berkontribusi 0,04 persen, tomat sebesar 0,03 persen, dan beras, 0,02 persen," katanya dalam konferensi pers.
Cabai sendiri menjadi bahan utama sambal, pelengkap makanan khas Indonesia yang hampir selalu hadir di meja makan masyarakat.
Sambal biasanya dibuat dari campuran cabai, bawang putih, bawang merah, serta berbagai rempah aromatik.
Baca Juga: Kasus Hanania Travel Meledak, Kemenhaj Siapkan Aturan Baru untuk Lindungi Dana Jemaah Umrah
"Komoditas-komoditas ini memang termasuk dalam kategori harga barang yang fluktuatif," tambah Pudji.
"Sifatnya musiman karena adanya hari raya keagamaan besar, di antara hal-hal lainnya, yang menjadi salah satu pemicu perubahan permintaan publik," imbuhnya.
Secara tahunan, tingkat inflasi Indonesia tercatat sebesar 3,08 persen. Sementara itu, inflasi tahun kalender hingga Mei berada di level 1,35 persen, kata Pudji.
Bank Indonesia sebelumnya menetapkan sasaran inflasi sebesar 2,5 persen untuk tahun ini dan tahun depan, dengan toleransi deviasi satu persen ke atas maupun ke bawah.
Di sisi lain, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan pada kuartal pertama 2026.
Berdasarkan data BPS, capaian tersebut menjadi pertumbuhan ekonomi tertinggi sejak kuartal ketiga 2022.
Meski demikian, tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih berlangsung.
Mata uang Indonesia sempat melemah hingga menembus lebih dari Rp 17.800 per dolar AS, level terendah sepanjang sejarah.
Bank Indonesia menilai pelemahan rupiah dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan global serta faktor musiman.
Faktor tersebut mencakup tingginya kebutuhan dolar AS untuk pembayaran dividen perusahaan dan meningkatnya permintaan valuta asing dari jamaah haji yang bepergian ke luar negeri.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini




Terpopuler
- 1Gibran Disorot soal Ijazah, Nama Anies Baswedan Muncul! Refly Harun Ungkap Sosok Pengganti Wapres
- 2Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang Perkuat Kapasitas Keluarga dan Pemasaran UMKM di Kelurahan Setu
- 3Ubah Stigma Mahjong, Andrew Herman Gelar Turnamen Berhadiah Rp15 Juta di One District at Puri
- 4Ranking Dua Akpol 1998! Ini Perjalanan Karier Ade Ary Syam Indradi hingga Jadi Karoops Polda Metro Jaya
- 5Ansor Tangsel Sukses Gelar Ansor Fest Experience 2026 di Mall, Padukan Syiar dan Kreativitas Pemuda
- 6Bukan Sekadar Kalah! Alexander Isak Soroti Kesalahan Fatal Liverpool saat Tumbang 2-3 di Istanbul
- 7Comeback Gila Real Madrid Bikin Bellingham Terpukau! Jude Minta Satu Hal Ini Dipertahankan Los Blancos
- 8Belum Selesai Kasus 115 Pelanggaran! Manchester City Terancam Investigasi Baru dan Sanksi Tambahan
- 9Ranking Dua Akpol 1998! Ini Perjalanan Karier Ade Ary Syam Indradi hingga Jadi Karoops Polda Metro Jaya
- 10Jokowi dan Roy Suryo Saling Sindir di Sidang Ijazah, Ending Jabat Tangan Ini Bikin Publik Terkejut!





