Sebanyak 276 Warga Banten Ajukan Perlindungan ke LPSK, Didominasi Kasus Kekerasan Seksual dan Pencucian Uang

AKURAT BANTEN - Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) mencatat sebanyak 276 warga Provinsi Banten mengajukan permohonan perlindungan sepanjang tahun 2024. Sebagian besar kasus yang dilaporkan berkaitan dengan tindak pidana kekerasan seksual (TPKS) dan tindak pidana pencucian uang (TPPU).
Ketua LPSK, Brigjen (Purn) Pol Achmadi, mengatakan Banten menjadi salah satu provinsi dengan jumlah kasus kekerasan seksual yang cukup tinggi. Menurutnya, penanganan kasus tersebut memerlukan proses pemulihan yang panjang bagi para korban.
"Di Provinsi Banten paling tinggi rata-rata ya tidak hanya di sini itu kasus TPKS cukup tinggi dan penderitanya sangat beragam, kemudian pemulihannya juga jangka panjang," ujar Achmadi di Tangerang, Senin (14/10/2025).
Dari total pengajuan yang masuk, 143 permohonan berhasil ditangani oleh LPSK. Rinciannya, 93 kasus TPPU, 67 kasus kekerasan seksual terhadap anak, 21 kasus kekerasan seksual terhadap orang dewasa, serta 21 kasus tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dan sejumlah kasus lainnya.
Achmadi menekankan bahwa selain memberikan perlindungan, LPSK juga fokus pada upaya pencegahan. Ia menilai tindak kekerasan seksual sudah mengakar di berbagai lapisan masyarakat.
"Jadi, bukan hanya perlindungannya, tapi pencegahan juga menjadi sangat yang penting itu yang harus digelorakan karena TPKS itu seperti mengakar kuat di berbagai lini di berbagai daerah," jelasnya.
Adapun wilayah dengan jumlah permohonan terbanyak berasal dari Kabupaten Tangerang (112 laporan), disusul Kota Tangerang (91 laporan) dan Kota Tangerang Selatan (77 laporan).
Sementara itu, Wakil Ketua LPSK Mahyudin menambahkan bahwa kasus pencucian uang yang ditangani umumnya berkaitan dengan investasi ilegal.
"Lebih ke investasi ilegal ya yang paling banyak," kata Mahyudin.
Baca Juga: Janji Jadi Polisi Berujung Penjara, Pria Ini Raup Ratusan Juta dari Modus Licik
Ia juga mencatat adanya peningkatan tren permohonan perlindungan dari korban dan saksi TPKS setiap tahun. Kondisi ini menunjukkan bahwa korban kini semakin berani melapor dan mencari keadilan.
“TPKS sekarang trennya naik. Bahkan, pelanggaran hak asasi manusia berat berada di peringkat ketiga setelah TPKS,” ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini




Terpopuler
- 1Gibran Disorot soal Ijazah, Nama Anies Baswedan Muncul! Refly Harun Ungkap Sosok Pengganti Wapres
- 2Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang Perkuat Kapasitas Keluarga dan Pemasaran UMKM di Kelurahan Setu
- 3Ranking Dua Akpol 1998! Ini Perjalanan Karier Ade Ary Syam Indradi hingga Jadi Karoops Polda Metro Jaya
- 4Ubah Stigma Mahjong, Andrew Herman Gelar Turnamen Berhadiah Rp15 Juta di One District at Puri
- 5Gibran Disebut Berpotensi Diganti, 10 Nama Ini Muncul dalam Prediksi Pengamat, Ada Puan dan AHY!
- 6Bukan Sekadar Kalah! Alexander Isak Soroti Kesalahan Fatal Liverpool saat Tumbang 2-3 di Istanbul
- 7Belum Selesai Kasus 115 Pelanggaran! Manchester City Terancam Investigasi Baru dan Sanksi Tambahan
- 8Ansor Tangsel Sukses Gelar Ansor Fest Experience 2026 di Mall, Padukan Syiar dan Kreativitas Pemuda
- 9Ranking Dua Akpol 1998! Ini Perjalanan Karier Ade Ary Syam Indradi hingga Jadi Karoops Polda Metro Jaya
- 10Jokowi dan Roy Suryo Saling Sindir di Sidang Ijazah, Ending Jabat Tangan Ini Bikin Publik Terkejut!






