Banten

Sepinya Aktivitas Belanja di Lebaran 2025 Membuat Bisnis Pengusaha Terancam

Moehamad Dheny Permana | 27 Maret 2025, 04:06 WIB
Sepinya Aktivitas Belanja di Lebaran 2025 Membuat Bisnis Pengusaha Terancam

Akurat Banten - Lebaran tahun 2025 membawa perubahan signifikan bagi dunia usaha di Indonesia.

Momentum yang biasanya dinanti-nantikan oleh para pengusaha sebagai ajang kenaikan omzet justru terancam sepi, dengan daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya.

Fenomena ini membuat pengusaha putar otak untuk bertahan di tengah tantangan yang ada.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Widjaja Kamdani, menjelaskan bahwa momen Ramadan dan Lebaran merupakan salah satu waktu yang selalu ditunggu oleh para pengusaha.

Baca Juga: Muzdalifah Ungkap Bisnis Baru, King Nassar Cari Calon 'Gandengan' Baru, Yang Penting Halal!

Pada periode ini, masyarakat biasanya mengeluarkan uang lebih untuk berbelanja kebutuhan Lebaran serta melakukan perjalanan mudik, yang turut mendongkrak sektor ritel, pariwisata, makanan dan minuman, serta transportasi.

 Namun, situasi kali ini berbeda. Menurut Shinta, lemahnya daya beli masyarakat menjadi faktor utama yang menghambat aktivitas belanja dan mudik.

"Daya beli yang lemah menyebabkan masyarakat lebih memilih untuk menahan pengeluaran mereka, bahkan pada momen-momen seperti Lebaran," ujar Shinta.

Baca Juga: Semarak Ramadan Rhapsody Bersama Living World Alam Sutera, Berikut Rangkaiannya

 Kondisi ini semakin diperparah dengan data inflasi yang rendah.

Sejak Mei hingga September 2024, Indonesia tercatat mengalami deflasi, dan deflasi ini berlanjut hingga awal 2025.

Pada Februari 2025, deflasi tercatat sebesar 0,09% year on year dan 0,48% secara bulanan.

Angka-angka ini menggambarkan rendahnya daya beli masyarakat yang berdampak pada aktivitas ekonomi secara keseluruhan.

Baca Juga: Yayasan Muslim Sinar Mas Land Gelar Pelatihan Guru Ngaji Dalam Program Berantas Buta Al-Qur’an di Kota Wisata Cibubur

 Selain itu, diperkirakan jumlah pemudik tahun ini akan menurun hingga 24,33% menurut Kementerian Perhubungan, yang semakin menggerus potensi sektor transportasi dan pariwisata.

Meskipun ada data yang menunjukkan optimisme, seperti Indeks Keyakinan Konsumen yang tetap berada di level 126,4, serta Indeks Kepercayaan Industri yang mencapai 53,15, kenyataannya kondisi di lapangan berbeda.

Shinta menambahkan, meskipun beberapa indikator ekonomi masih menunjukkan angka positif, kenyataan di pusat perbelanjaan sangat berbeda.

Banyak mall di daerah yang sepi pengunjung, meskipun sudah gencar menawarkan diskon dan promosi.

Baca Juga: Melly Goeslaw Ternyata sudah Terima Royalti Lagu Hampir Rp560 Juta dari LMK

"Keadaan ini menunjukkan bahwa minat konsumen untuk berbelanja memang sedang menurun," katanya.

 Menanggapi kondisi tersebut, para pengusaha kini mulai mengubah strategi bisnis mereka. Banyak yang beralih ke efisiensi operasional untuk menjaga kelangsungan bisnis.

Pemanfaatan teknologi dan digitalisasi, terutama e-commerce, menjadi salah satu langkah adaptasi yang diambil.

Baca Juga: Kisah Sedih! Warung Oseng Nyak Kopsah yang Selalu Ramai Jadi Bangkut Hanya karena Review Food Vlogger

"Pelaku usaha kini tengah berusaha lebih efisien dalam menjalankan operasional mereka, sambil memanfaatkan peluang yang ada di dunia digital," jelas Shinta.

 Para pengusaha pun terus berharap bahwa pemerintah dapat mengeluarkan kebijakan yang dapat meningkatkan daya beli masyarakat, terutama menjelang akhir tahun yang biasa menjadi waktu puncak penjualan.

Namun, untuk saat ini, tantangan besar bagi mereka adalah bagaimana bisa bertahan dan bersaing di tengah kondisi yang kurang menguntungkan.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.