Suahasil Nazara Jadi Menkeu, 4 PR Berat Ini Sudah Menanti, 'APBN hingga Utang Negara'

AKURAT BANTEN – Suahasil Nazara resmi dipercaya Presiden Prabowo Subianto untuk mengisi posisi Menteri Keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa.
Penunjukan tersebut berlangsung ketika pemerintah tengah menghadapi sejumlah tantangan dalam menjaga kesehatan fiskal dan memastikan program prioritas tetap berjalan.
Suahasil bukan sosok baru di lingkungan Kementerian Keuangan.
Sebelum menduduki kursi menteri, ia telah menjalankan tugas sebagai Wakil Menteri Keuangan.
Baca Juga: Suahasil Nazara Jadi Menkeu, Pramono Anung Buka Suara, 'Ada Pesan Penting untuk Pemerintah'
Pengalaman tersebut menjadi bekal penting karena dirinya telah memahami berbagai proses pengelolaan keuangan negara.
Meski demikian, tanggung jawab sebagai Menteri Keuangan tentu jauh lebih besar.
Sejumlah pekerjaan rumah langsung menanti Suahasil, salah satunya memastikan pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 berjalan sesuai dengan target yang telah ditetapkan pemerintah.
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menilai pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara penerimaan dan belanja negara hingga penghujung tahun.
Baca Juga: Profil Chatib Basri yang Katanya Jadi Menteri Keuangan yang Baru Gantikan Purbaya Yudhi Sadewa
Penerimaan harus tetap diperkuat, sementara belanja untuk program prioritas perlu dilakukan secara terukur agar tidak memberikan tekanan berlebihan terhadap kondisi fiskal.
Pengelolaan APBN menjadi penting karena pemerintah perlu mempertahankan kepercayaan terhadap kemampuan negara dalam mengelola anggaran.
Apabila penerimaan tidak sesuai dengan perkiraan, ruang fiskal dapat menjadi lebih terbatas dan berpotensi memengaruhi target defisit.
Selain menyelesaikan pelaksanaan APBN 2026, Suahasil juga harus mengawal persiapan RAPBN 2027.
Baca Juga: Siapa Sebenarnya Chatib Basri? Ekonom Nonpartai yang Mendadak Diisukan Jadi Menteri Keuangan Baru
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sekitar 6 persen pada tahun tersebut.
Namun, Permata Institute for Economic Research atau PIER memperkirakan pertumbuhan ekonomi yang lebih realistis berada di sekitar 5,22 persen.
Perbedaan proyeksi tersebut menjadi salah satu tantangan bagi pemerintah.
Asumsi pertumbuhan ekonomi akan berpengaruh terhadap penerimaan negara, belanja, serta kemampuan pemerintah menjaga defisit dalam batas yang ditetapkan.
Suahasil juga dituntut memastikan anggaran negara tidak hanya terserap, tetapi memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Program yang berkaitan dengan peningkatan produktivitas, penciptaan lapangan kerja, pendidikan, kesehatan, serta daya beli masyarakat perlu menjadi perhatian.
Di sisi lain, potensi risiko fiskal juga tidak bisa diabaikan.
Pemerintah perlu mengawasi berbagai kewajiban yang berkaitan dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), proyek infrastruktur, hingga investasi strategis agar tidak berubah menjadi beban bagi APBN.
Koordinasi dengan Danantara juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan.
Pengelolaan perusahaan negara dan berbagai penugasan pemerintah harus dilakukan dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan negara serta risiko yang mungkin muncul di masa depan.
Tantangan lain datang dari kebutuhan pembiayaan pemerintah. Dalam RAPBN 2027, penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) neto direncanakan mencapai sekitar Rp779,9 triliun.
Besarnya kebutuhan tersebut membuat pemerintah perlu menjaga kepercayaan investor terhadap kondisi fiskal Indonesia.
Pasar akan mencermati bagaimana Suahasil mengelola defisit, utang, penerimaan negara, serta risiko fiskal.
Komunikasi kebijakan yang jelas juga diperlukan agar dunia usaha dan investor memperoleh kepastian.
Masa awal kepemimpinan Suahasil diperkirakan menjadi periode penting untuk melihat arah kebijakan fiskal pemerintah.
Pengalamannya di Kementerian Keuangan menjadi modal, tetapi kemampuan menjaga APBN tetap kredibel akan menjadi tantangan utama.
Baca Juga: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa Optimistis Tekan Shortfall Penerimaan Pajak Akhir Tahun 2025
Kini, Suahasil tidak hanya dituntut melanjutkan pekerjaan yang sudah berjalan.
Ia juga harus memastikan keuangan negara tetap kuat di tengah kebutuhan belanja pemerintah dan dinamika perekonomian.
Keberhasilannya dalam mengawal APBN, meningkatkan kualitas belanja, mengantisipasi risiko fiskal, serta menjaga kepercayaan pasar akan menjadi ukuran penting dalam menjalankan amanah sebagai Menteri Keuangan baru.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1MA Batalkan Suket Ijazah Gibran, Mahfud MD Tegaskan Harus Diproses Pidana: 'Sudah Jelas!'
- 2Bukan Anies atau Ganjar, Zulhas Malah Diusulkan Jadi Pengganti Gibran, Siapa Pengusulnya?
- 3TNI AL Kerahkan KRI Brawijaya-320, Meriam 127 mm dan 25 mm Diuji di Laut Jawa
- 4Balsa Sekulic Menggila! Persib Bungkam Melbourne Victory 2-0, Maung Bandung Makin Dekat ke 16 Besar
- 5Bikin Malu! Warga Australia Mengamuk Usai Melbourne Victory Dihancurkan Persib Bandung di Kandang Sendiri
- 6Data Pelanggan Fore Coffee Bocor? CEO Imbau Pengguna Segera Lakukan Langkah Penting Ini!
- 7Lionel Messi Lolos dari Hukuman Skorsing MLS, Ini Aturan Khusus yang Menyelamatkannya
- 8Dokter Tifa Singgung Ancaman Penjara 7 Tahun di Sidang Ijazah Jokowi, Peringatan untuk Siapa?
- 9Bukan Anies atau Ganjar, Zulhas Malah Diusulkan Jadi Pengganti Gibran, Siapa Pengusulnya?
- 10PROJO Peringatkan Gerindra soal Gibran, Prabowo Disebut Bakal Jadi Target Berikutnya!








