Paylater Dipakai untuk Beli Sembako, Pengamat Ingatkan Risiko Utang Konsumtif Masyarakat

AKURAT BANTEN – Meningkatnya penggunaan layanan buy now pay later (BNPL) atau paylater untuk membeli kebutuhan pokok seperti sembako mulai menjadi perhatian sejumlah pengamat.
Fenomena tersebut dinilai perlu diawasi agar tidak berkembang menjadi kebiasaan masyarakat membiayai kebutuhan sehari-hari dengan utang.
Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi, menilai paylater pada dasarnya merupakan fasilitas yang dirancang untuk membantu pengelolaan arus kas, bukan sebagai solusi utama dalam memenuhi kebutuhan konsumsi harian.
Karena itu, tren penggunaan layanan tersebut untuk membeli bahan pangan dinilai perlu dicermati oleh perusahaan pembiayaan maupun regulator.
Baca Juga: DC Pinjol Datangi Damkar Semarang, Minta Maaf Usai Aksi Kontroversialnya Viral
Menurut Heru, peningkatan transaksi paylater belum tentu menunjukkan daya beli masyarakat sedang melemah.
Ia menjelaskan, ada berbagai faktor yang dapat memengaruhi perilaku konsumen, termasuk promosi yang diberikan penyedia layanan seperti diskon, cashback, atau cicilan tanpa bunga.
Ia menyarankan agar perkembangan tersebut diamati dalam jangka waktu yang lebih panjang sebelum diambil kesimpulan.
Apabila transaksi tetap meningkat meski program promosi telah berakhir, kondisi itu bisa menjadi indikasi adanya perubahan pola konsumsi masyarakat.
Baca Juga: Ambulans Dijebak Debt Collector Pinjol di Sleman, Modus Panggilan Darurat Terbongkar
Sebaliknya, jika angka transaksi kembali turun, besar kemungkinan kenaikan sebelumnya hanya dipicu strategi pemasaran.
Sorotan terhadap penggunaan paylater untuk kebutuhan pokok muncul setelah salah satu perusahaan penyedia layanan BNPL melaporkan adanya kenaikan transaksi pada kategori kebutuhan sehari-hari dalam beberapa waktu terakhir.
Meski demikian, perusahaan tersebut menyatakan masih melakukan evaluasi untuk mengetahui penyebab pasti meningkatnya aktivitas belanja menggunakan fasilitas kredit digital tersebut.
Pihak perusahaan mengakui bahwa data yang tersedia saat ini belum cukup untuk memastikan apakah perubahan perilaku konsumen dipicu kondisi ekonomi atau hanya efek dari berbagai program promosi yang sedang berlangsung.
Baca Juga: Bukan Pinjol! Modal KTP Bisa Dapat Uang Ratusan Ribu Lewat Ini, Mau Coba?
Oleh karena itu, analisis lebih lanjut masih diperlukan.
Heru menambahkan bahwa penilaian terhadap tren paylater tidak dapat dilakukan hanya dengan melihat satu indikator.
Kondisi ekonomi nasional, tingkat inflasi, pendapatan masyarakat, hingga kemampuan konsumen membayar cicilan juga harus menjadi bagian dari analisis agar menghasilkan kesimpulan yang lebih akurat.
Di sisi lain, industri paylater di Indonesia masih mencatat pertumbuhan yang cukup tinggi.
Baca Juga: Coba Buka WhatsApp Sekarang, Anda Akan Menerima Pesan dari 96 Pinjol Legal yang Terdaftar di 2025
Hal ini menunjukkan layanan BNPL semakin diterima masyarakat sebagai alternatif metode pembayaran untuk berbagai kebutuhan, mulai dari belanja daring hingga kebutuhan rumah tangga.
Meski memiliki manfaat dalam memberikan fleksibilitas pembayaran, para pengamat mengingatkan bahwa penggunaan paylater harus tetap disesuaikan dengan kemampuan finansial masing-masing pengguna.
Penggunaan yang tidak terkendali dikhawatirkan dapat meningkatkan risiko gagal bayar dan memperburuk kondisi keuangan rumah tangga.
Karena itu, perusahaan pembiayaan didorong memperketat penerapan prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan fasilitas kredit digital.
Baca Juga: Pinjol Dana Cicil Lebih Aman, Langsung Cair dan Mudah, Mau Tahu Caranya?
Sementara regulator diharapkan terus memperkuat pengawasan sekaligus meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya mengelola utang secara sehat.
Dengan pengawasan yang baik, layanan paylater diharapkan tetap menjadi instrumen pendukung aktivitas ekonomi tanpa menimbulkan risiko keuangan yang lebih besar bagi masyarakat maupun industri pembiayaan.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Warga Lippo Karawaci Geruduk Menara Matahari, Selain AJB Tak Jelas Pengelola Dinilai Buruk
- 2Bawa Sabu 26 Kg, Dua Terdakwa Kasus Narkoba di Tangerang Dituntut Hukuman Mati
- 3Bukan Sekadar Menopang Tulang, Implan Medis Ini Dikembangkan agar Bisa Memulihkan Lapisan Pelindungnya
- 4Cicilan Lunas Bertahun-tahun tapi Belum SHM? Tarif Iuran Bengkak Tanpa Transparansi, Ratusan Warga Lippo Karawaci Geruduk Menara Matahari
- 5Polisi Gagalkan Peredaran 120 Cartridge Vape Mengandung Etomidate di Apartemen Pacific Garden
- 6Harry Kane Ungkap Kebahagiaan Raih Ballon d'Or 2026, Ini Rekor Golnya Bersama Bayern Munich
- 7Gerindra Bela Gibran, Prabowo Tak Bisa Pecat Wapres Sepihak! Ini Aturan yang Wajib Dipahami
- 8TNI AL Kerahkan KRI Brawijaya-320, Meriam 127 mm dan 25 mm Diuji di Laut Jawa
- 9MU Tetap Pertahankan Carrick, Gary Neville Malah Geleng-Geleng: Pemecatan Bisa Jadi Jalan Terbaik
- 10Ronald Araujo Makin Menggila di Liverpool, The Reds Siap Tebus Rp1 Triliun dari Barcelona!





