Hutan Kalimantan Semakin Gundul, Industri Sawit dan IKN Jadi Pemicunya! Jadi Topik Hangat Dunia

AKURAT BANTEN - Hutan Kalimantan semakin gundul. Industri kepala sawit diduga jadi dalangnya. Kondisi ini diperparah dengan berdirinya IKN di wilayah itu.
Tampak dalam peta Kalimantan yang diambil sejak 1950, kawasan Borneo itu masih tampak sangat hijau dengan hutan yang lestari.
Namun, gambar yang berbeda terlihat pada peta tahun 2020, di mana kawasan hijau di Kalimantan hampir gundul. Kondisi ini diduga akan diperparah dengan pembangunan IKN di wilayah itu.
Baca juga: Penjual Nasi Padang Terpaksa Kurangi Porsi Akibat Tingginya Harga Beras, Para Pelanggan Pasrah
Hutan Kalimantan bukan hanya menjadi perhatian masyarakat dari dalam negeri, tetapi juga topik hangat masyarakat dunia.
Seperti diungkapkan akun X George Tsakraklides @99blackbaloons.
“Kami tidak sedang menuju keruntuhan. Kami sedang mengalami gejala tahap akhir dari keruntuhan yang sudah dimulai sejak lama," katanya, dikutip Akurat Banten, Sabtu (23/9/2023).
Hal senada diungkapkan Travid Vid Legradic @Travid_Legradic. Dia mengaku kaget saat terbang ke Kalimantan dan melihat pulau itu dari atas pesawat, di mana hutan telah digantikan industri sawit.
"Kalimantan. Saya kaget saat melihatnya dari pesawat pada tahun 2014. Kelapa sawit dan degradasi bentang alam di mana-mana," ungkapnya.
Akun Evon M @knowmiun mengatakan hal senada. Namun, dia menyorot keahdrian IKN sebagai aksi bunuh diri Indonesia.
"Relokasi ibu kota Indonesia, Jakarta, ke habitat hutan hujan kritis tertua di dunia, di Kalimantan, bagaikan belati yang menembus jantung dunia dan kedaulatan masyarakat adat," terangnya.
Menurutnya, IKN adalah monumen kesombongan dan keserakahan.
Baca juga: RUMAH POHON 50 M Tertinggi di Dunia Ternyata ada di PAPUA suku KOROWAI
"Setelah dua dekade terakhir #PalmOils perampasan rezim keserakahan oligarki ecocidal terhadap masyarakat adat, kini para birokrat Indonesia berencana pada tahun depan untuk menebangi DUA KOTA NEW YORK dari hutan hujan keramat primer agar tidak ada lagi pengelola adat kuno yang digusur," sambungnya.
Dikatakan, klaim tersebut mengancam spesies di wilayah tersebut.
"Meskipun klaim dari pengembang dan pejabat kota mengenai perlindungan lingkungan tidak memadai, jelas bahwa aspek hijau hanya bersifat insidental atau hanya sekedar hiasan jendela. Mereka hanya ditemukan belum merelokasi spesies yang terancam punah," jelasnya.
Pandangan kritis sejumlah masyarakat dunia, justru berbanding terbalik dengan warga Indonesia.
Seperti diungkapkan Fransiska @sisca_gd. Dia mengatakan, hal yang bertolak belakang dengan pandangan kritis di atas.
"Yang kolaps justru negara negara Eropa pak.. Indonesia baik baik aja.. ekonomi juga baik-baik aja," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini




Terpopuler
- 1Gibran Disorot soal Ijazah, Nama Anies Baswedan Muncul! Refly Harun Ungkap Sosok Pengganti Wapres
- 2Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang Perkuat Kapasitas Keluarga dan Pemasaran UMKM di Kelurahan Setu
- 3Ranking Dua Akpol 1998! Ini Perjalanan Karier Ade Ary Syam Indradi hingga Jadi Karoops Polda Metro Jaya
- 4Ubah Stigma Mahjong, Andrew Herman Gelar Turnamen Berhadiah Rp15 Juta di One District at Puri
- 5Gibran Disebut Berpotensi Diganti, 10 Nama Ini Muncul dalam Prediksi Pengamat, Ada Puan dan AHY!
- 6Bukan Sekadar Kalah! Alexander Isak Soroti Kesalahan Fatal Liverpool saat Tumbang 2-3 di Istanbul
- 7Belum Selesai Kasus 115 Pelanggaran! Manchester City Terancam Investigasi Baru dan Sanksi Tambahan
- 8Ansor Tangsel Sukses Gelar Ansor Fest Experience 2026 di Mall, Padukan Syiar dan Kreativitas Pemuda
- 9Ranking Dua Akpol 1998! Ini Perjalanan Karier Ade Ary Syam Indradi hingga Jadi Karoops Polda Metro Jaya
- 10Jokowi dan Roy Suryo Saling Sindir di Sidang Ijazah, Ending Jabat Tangan Ini Bikin Publik Terkejut!





