Banten

Bukan Sekadar Pesta! Menyingkap 7 Rahasia Magis Pernikahan Adat Aceh yang Penuh Filosofi Mendalam

Saeful Anwar | 17 Mei 2025, 10:28 WIB
Bukan Sekadar Pesta! Menyingkap 7 Rahasia Magis Pernikahan Adat Aceh yang Penuh Filosofi Mendalam

AKURAT BANTEN-Pernahkah Anda membayangkan sebuah pernikahan yang tak hanya indah, namun juga kaya akan makna, sejarah, dan nilai-nilai luhur. Hal ini bukan hanya sekadar pesta, menyingkap makna 7 rahasia magis pernikahan adat Aceh yang penuh filosofi mendalam.

Di ujung barat Indonesia, tepatnya di tanah Serambi Mekkah, tradisi pernikahan adat Aceh menawarkan pengalaman yang tak terlupakan. 

Bukan sekadar serangkaian upacara, pernikahan adat Aceh adalah perpaduan harmonis antara nilai-nilai Islam dan kearifan lokal yang telah turun-temurun. 

Baca Juga: Viral! Pengantin Ini Pakai Kalung Ular di Resepsi, Tamu dan Fotografer Langsung Kaget!

Siapkah Anda menyelami keunikan dan pesona tradisi ini?

Tahapan Pernikahan 

Lebih dari sekadar lamaran, ternyata adanya makna dibalik setiap tahapan.

Pernikahan adat Aceh bukanlah proses yang instan. Ia melibatkan serangkaian tahapan yang sarat makna, dimulai jauh sebelum ijab kabul.

1. Jak ba Ranup (Antar Sirih): Pengikat Janji yang Sarat Simbolisme

Sebelum ada janji resmi, ada Jak ba Ranup. Ini adalah prosesi awal lamaran, di mana keluarga calon mempelai pria membawa sirih.

Baca Juga: Tradisi Unik Idul Adha dari Berbagai Daerah di Indonesia yang Jarang Diketahui

Jangan salah, sirih di sini bukan sekadar oleh-oleh! Ia adalah simbol pengikat lamaran, sebuah isyarat awal dari niat baik dan keseriusan untuk meminang.

Di momen ini, suasana hangat dan penuh harapan mulai terasa, menjadi pembuka dari rangkaian acara yang lebih besar.

2. Jak ba Tanda (Antar Tanda): Menyongsong Ikatan Pertunangan

Setelah Jak ba Ranup, prosesi berlanjut ke Jak ba Tanda. Ini adalah momen formal pertunangan.

Keluarga calon mempelai pria akan membawa "tanda-tanda" berupa barang atau uang kepada keluarga calon mempelai wanita.

Baca Juga: Operasi Berantas Jaya 2025: Polres Jakut Tangkap 299 Pelaku Premanisme, 25 Ditahan

Tanda ini bukan hanya materi, melainkan sebuah janji nyata yang mengukuhkan niat baik kedua belah pihak untuk menjalin ikatan suci.

3. Boh Gaca (Malam Inai): Mempercantik Diri dengan Sunah Rasul

Sesaat sebelum hari-H, ada ritual Boh Gaca atau malam inai. Calon pengantin wanita akan dihias dengan inai atau daun pacar di tangan dan kakinya.

Tradisi ini bukan hanya tentang kecantikan, tetapi juga memiliki nilai sunah Rasul. Dipercaya bahwa inai dapat mendatangkan keberkahan dan melindungi pengantin dari hal-hal buruk.

Suasana riang dan penuh kehangatan biasanya menyelimuti malam inai, di mana calon pengantin dikelilingi oleh keluarga dan sahabat.

Baca Juga: Teror di Jalanan Jakarta Barat: Subdit Jatanras Tangkap Tiga Pemalak Sopir Truk Luar Daerah

Puncak Acara: Ijab Kabul dan Tradisi Penyambutannya

Inti dari pernikahan, tentu saja, adalah Ijab Kabul. Namun, di Aceh, setelah ikrar suci ini, ada beberapa tradisi penyambutan yang tak kalah penting.

Ijab Kabul: Ikrar Suci di Hadapan Allah

Ini adalah momen paling sakral, di mana mempelai pria dan wanita mengucapkan janji pernikahan di hadapan saksi dan Allah SWT. Dengan diucapkannya ijab kabul, kedua mempelai resmi menjadi pasangan suami istri yang sah.

Baca Juga: Gugur dalam Tugas, Dua Prajurit Satgas Damai Cartenz Disemayamkan di Mako Brimob Timika

4. Tueng Linto Baroe/Woe Linto: Sambutan Hangat untuk Pengantin Pria

Setelah ijab kabul, tiba giliran Tueng Linto Baroe atau Woe Linto. Ini adalah prosesi penyambutan bagi mempelai pria dan rombongannya di rumah keluarga mempelai wanita.

Di sinilah Linto Baroe (pengantin pria) akan diperkenalkan secara resmi kepada keluarga besar pengantin wanita. Sambutan hangat, hidangan lezat, dan suasana kekeluargaan akan menyelimuti momen ini.

Setelah Akad Nikah: Tradisi Penuh Berkah dan Doa

Pernikahan adat Aceh tidak berhenti setelah ijab kabul. Ada dua tradisi penting yang dilakukan setelah akad nikah, melengkapi rangkaian prosesi yang penuh makna.

Baca Juga: Pengedar Sabu di Matraman Diciduk Polisi, Total Barang Bukti Capai 113,46 Gram!

5. Tueng Dara Baro (Mengundang Mempelai Wanita): Memasuki Kehidupan Baru

Tujuh hari setelah akad nikah, ada prosesi Tueng Dara Baro. Ini adalah saatnya keluarga mempelai pria menjemput dan mengundang mempelai wanita (Dara Baro) beserta rombongannya ke rumah keluarga laki-laki.

Momen ini melambangkan dimulainya kehidupan baru bagi pasangan pengantin di lingkungan keluarga besar mempelai pria.

6. Peusijuek (Doa Restu): Berkah dan Harapan untuk Masa Depan

Baca Juga: 70 Rumah Dirapikan, Tanggul Anti-Rob Dibangun: Solusi Permanen Atasi Banjir di Pluit

Peusijuek adalah ritual doa restu yang paling ikonik dalam pernikahan adat Aceh. Tradisi ini dilakukan dengan menyiramkan air pandan, menaburkan tepung tawar, dan bunga rampai kepada kedua mempelai.

Ini adalah simbol doa dan harapan agar pernikahan mereka selalu diberkahi, harmonis, dan dijauhkan dari segala marabahaya.

Meskipun berakar dari budaya India, Peusijuek telah beradaptasi dengan nilai-nilai Islam, menunjukkan bagaimana budaya dapat bersinergi dengan agama.

Unsur Penting Lainnya yang Melengkapi Kemegahan Pernikahan Aceh

Tak hanya prosesi, ada beberapa unsur penting lain yang tak terpisahkan dari pernikahan adat Aceh:

Baca Juga: Jakarta Lumpuh! Setengah Juta Ojol Bersatu Padati Ibu Kota, Matikan Aplikasi & Serukan Keadilan

Jeulamee (Mahar): Syarat Penting dalam Pernikahan

Dalam budaya Aceh, Jeulamee adalah istilah untuk mahar. Ini adalah syarat mutlak dalam perkawinan, yang menunjukkan keseriusan dan kemampuan mempelai pria untuk menghidupi keluarganya kelak. Besarannya beragam, sesuai kesepakatan kedua belah pihak.

Ulee Balang (Busana Pengantin): Pesona Bangsawan Aceh

Pakaian pengantin adat Aceh disebut Ulee Balang. Busana ini melambangkan golongan bangsawan dalam masyarakat Aceh.

Dengan desain yang megah, detail yang rumit, dan warna-warna cerah, busana Ulee Balang memancarkan kemewahan dan keanggunan, membuat setiap pengantin terlihat seperti raja dan ratu di hari istimewa mereka.

Baca Juga: Demi Saluran Air, Ketua RW 02 Pondok Kopi Dianiaya Warga Sendiri: Kisah Tragis Pengabdian yang Dibalas Kekerasan

Pernikahan adat Aceh adalah sebuah mahakarya budaya yang memadukan keindahan, filosofi, dan nilai-nilai luhur.

Setiap tahapan, setiap simbol, dan setiap tradisi memiliki cerita dan makna mendalam yang patut dilestarikan. Semoga artikel ini membuka wawasan Anda tentang kekayaan budaya Indonesia yang luar biasa!

Apakah Anda tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang detail salahsatu tradisi pernikahan adat Aceh?

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
Abdurahman