Mantan Panglima Militer Siap Tumbangkan Netanyahu: Peta Politik Israel Berubah Total Hari Ini!

Penyelamat atau Ancaman Baru?
Persaingan Sengit: Jenderal purnawirawan Gadi Eisenkot memimpin aliansi oposisi Yasar, mengungguli perolehan kursi Partai Likud pimpinan Benjamin Netanyahu dalam survei pemilu terbaru .
Penentu Arah: Pertarungan hari ini di 120 kursi parlemen Knesset menjadi pemungutan suara perdana sejak tragedi 7 Oktober 2023, di mana posisi Netanyahu di ambang kejatuhan.
Tuntutan Transparansi: Eisenkot mengusung narasi akuntabilitas dan penyelidikan resmi atas kegagalan militer-intelijen, memikat para pemilih yang murka pada Netanyahu.
AKURAT BANTEN — Dinasti politik terlama dalam sejarah modern Israel berisiko runtuh hari ini.
Pemilihan umum parlemen Knesset yang digelar Selasa (27/10) menjadi ajang pembuktian apakah sang "Raja Takhta" Benjamin Netanyahu mampu bertahan, atau justru harus berlutut di hadapan mantan panglima militernya sendiri, Gadi Eisenkot.
Sebanyak 7,3 juta pemilih—termasuk 1,2 juta warga Palestina berstatus warga negara Israel—mendatangi TPS untuk menentukan masa depan 120 kursi parlemen.
Namun tidak seperti pemilu sebelum-sebelumnya, pusat perhatian publik kini sepenuhnya tertuju pada sosok Eisenkot yang secara mengejutkan membalikkan peta kekuatan politik di negeri itu.
Baca Juga: PSG Kalahkan Lyon 2-0, Gol Mayulu dan Mika Godts Bawa Tim Paris ke Puncak Ligue 1
Sang Jenderal Mengambil Alih Kemudi: Oposisi Ungguli Partai Likud
Jajak pendapat paling krusial jelang pemungutan suara menunjukkan kejutan besar.
Partai Yasar pimpinan Gadi Eisenkot diproyeksikan meraup 22 hingga 23 kursi, secara meyakinkan menggeser posisi Partai Likud pimpinan Netanyahu yang tertahan di angka 19 hingga 21 kursi.
Fenomena melonjaknya popularitas sang jenderal purnawirawan menandai kejenuhan publik terhadap kepemimpinan Netanyahu yang telah membentang selama 18 tahun .
Eisenkot berhasil memosisikan dirinya sebagai antitesis Netanyahu. Ia hadir menawarkan akuntabilitas, stabilitas, dan pemulihan kepercayaan publik di saat masyarakat murka atas bobroknya tata kelola pemerintah sebelum dan sesudah 7 Oktober," tulis laporan media setempat.
Baca Juga: Reaksi Kylian Mbappe dan Lamine Yamal Saat Harry Kane Menang Ballon d'Or 2026 Jadi Sorotan
Gelombang Perlawanan: Kasus Hukum vs Janji Akuntabilitas
Di satu sisi, Netanyahu mencoba bertahan dengan menjual narasi pengalaman militer veteran serta klaim keteguhan dalam menjaga keamanan nasional .
Namun, perisai politik itu koyak oleh berbagai tekanan berat: tuduhan kegagalan mengantisipasi serangan Hamas 7 Oktober 2023, penolakannya membentuk Komisi Penyelidikan Independen, proses hukum kasus korupsi, hingga bayang-bayang surat perintah penangkapan dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas tuduhan kejahatan perang .
Sebaliknya, Eisenkot menohok tepat di titik lemah Netanyahu . Mantan panglima militer ini secara terbuka mendesak penyelidikan resmi atas tragedi 7 Oktober dan menentang keras Pengecualian Wajib Militer bagi kelompok pria ultra-Ortodoks—sebuah isu sensitif yang selama ini dijadikan Netanyahu sebagai alat tawar menawar koalisi.
"Meski bertolak belakang dalam tata kelola pemerintahan, Eisenkot menegaskan ia tidak akan melunak dalam isu pertahanan: menolak pembentukan negara Palestina dan tetap bertekad menumpas habis Hamas," catat pengamat politik atas garis keras sang mantan panglima
Baca Juga: PSG Pertahankan Gelar Klub Terbaik Ballon d'Or 2026 Setelah Raih Lima Trofi
Kalkulasi Angka 61: Skenario Kebuntuan atau Koalisi Baru?
Kendati aliansi oposisi berada di atas angin, jalan menuju kursi PM tidaklah mulus. Untuk membentuk pemerintahan baru, sebuah blok politik wajib mengamankan sekurang-kurangnya 61 dari 120 kursi Knesset.
Peta perolehan suara saat ini terpecah sangat rumit:
Partai Yasar (Eisenkot): Proyeksi 22 - 23 Kursi
Partai Likud (Netanyahu): Proyeksi 19 - 21 Kursi
Aliansi Beyacat (Bennett & Lapid): Proyeksi 14 - 15 Kursi
Gabungan Partai Arab-Palestina: Proyeksi 14 - 16 Kursi
"Tanpa kepiawaian merangkul faksi-faksi kecil pasca-pemilu, Israel terancam kembali terseret dalam jurang kebuntuan politik (political deadlock) tanpa pemenang mutlak," peringat para analis.
Pemungutan suara hari ini bukan sekadar pergantian wajah di parlemen. Ini adalah pertaruhan hidup-mati karier politik Netanyahu di hadapan mantan bawahannya sendiri.
Akankah sang jenderal berhasil meruntuhkan dominasi sang PM, atau Netanyahu kembali memperlihatkan keajaiban politiknya untuk lolos dari lubang jarum? Hasil perhitungan suara beberapa jam ke depan akan menentukan arah sejarah baru Israel.(**)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Ballon d’Or 2026 Segera Terjawab! Ini Jadwal Pengumuman, Jam Tayang WIB, dan Kandidat yang Berebut Trofi
- 2Haaland Semprot Donnarumma di Tengah Laga, Blunder Sang Kiper Bikin Man City Tumbang!
- 3Uang Pelicin Rp338 Juta di Balik Kredit Fiktif Bank BJB: Polda Banten Bongkar Modus Licik Rekayasa Dokumen, Negara Boncos Rp8,7 Miliar!
- 4Jusuf Kalla Heran Ditantang Buka Buku Nikah, Padahal Hanya Minta Jokowi Tunjukkan Ijazah Asli!
- 5Bakar Mesin di 'Kandang' Prabowo, Manuver Tersembunyi Jokowi Isyaratkan Persiapan PILPRES 2029
- 6PILPRES 2029 Pecah Kongsi! Pengamat Cium Isyarat Jokowi-Prabowo Bukan Lagi Sejalan, Diduga Saling Berhadapan, Alasannya Begini
- 7Rizal Fadillah Desak Prabowo Bersikap soal Gibran, Benarkah Wacana Pemakzulan Makin Panas?
- 8Kekeringan Landa Cipete, PMI Pinang Salurkan Air Minum Bersih untuk Warga
- 9Harry Kane Raih Ballon d'Or 2026, Artikel di Situs Resmi Sempat Picu Dugaan Kebocoran Hasil
- 10Kerugian Jemaah Haji dan Umrah Capai Rp 247,65 Miliar, Kemenhaj Catat 244 Aduan









