Banten

Bukan Main Padat! Cerita Mengerikan, Satu Gerbong KRL JABOTABEK Bisa Diisi 480 Orang, Rela Berdesakan Demi Hemat

Abdurahman | 29 September 2026, 00:08 WIB
Bukan Main Padat! Cerita Mengerikan, Satu Gerbong KRL JABOTABEK Bisa Diisi 480 Orang, Rela Berdesakan Demi Hemat
PADAT-Cerita Mengerikan, Padatnya penumpang dalam satu Gerbong KRL JABOTABEK bisa diisi 480 Orang, rela berdesakan demi hemat (dok Istimewa)

AKURAT BANTEN– Bayangkan harus berdiri berdesakan bersama ratusan orang di dalam satu gerbong kereta setiap pagi, ketika sebagian besar penumpang sedang mengejar waktu masuk kerja.

Bagi sebagian pengguna KRL Jabodetabek, kondisi seperti itu bukan sekadar bayangan.

Mereka mengalaminya dalam perjalanan sehari-hari.

Yang membuat publik kembali tercengang, satu gerbong KRL dalam kondisi sangat padat dapat diisi hingga sekitar 480 penumpang.

Angka tersebut menggambarkan betapa padatnya transportasi massal yang menjadi tumpuan mobilitas masyarakat Jabodetabek.

Ironisnya, meski harus berdesakan dan kehilangan ruang gerak, sejumlah penumpang tetap memilih KRL.

Alasannya sederhana: lebih hemat dan waktu perjalanan lebih terukur dibandingkan harus menghadapi kemacetan menggunakan kendaraan pribadi.

Baca Juga: Spanyol Juara Piala Dunia Wanita U-20 2026! Laia Lopez Jadi Pahlawan, Korea Utara Tumbang Dramatis

Satu Gerbong, Ratusan Penumpang

Kepadatan KRL paling terasa ketika memasuki jam sibuk.

Pagi hari menjadi waktu yang paling berat bagi para “anker”, sebutan populer bagi pengguna kereta yang bepergian menggunakan KRL secara rutin.

Pada jam berangkat kerja, penumpang mulai memenuhi stasiun sejak pagi.

Begitu rangkaian datang, penumpang yang sudah menunggu berusaha masuk ke gerbong yang tersedia.

Tidak jarang, kondisi di dalam kereta sudah penuh sejak stasiun awal.

Semakin banyak stasiun yang dilewati, semakin banyak pula penumpang yang naik.

Akibatnya, ruang kosong di dalam gerbong semakin menyempit.

Bangku terisi penuh.

Area dekat pintu dipadati penumpang.

Bahkan untuk sekadar mengubah posisi berdiri pun terkadang sulit dilakukan.

Bagi penumpang yang sudah terbiasa, kondisi tersebut menjadi bagian dari rutinitas.

Namun bagi orang yang baru mengalaminya, suasana gerbong yang sangat padat tentu bisa terasa mengejutkan.

Baca Juga: Eks Kepala BPN Kota Serang Didakwa Korupsi, Pungutan Pengurusan Dokumen Bikin Geger

Angka 480 Orang Bukan Sekadar Statistik

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI, Bobby Rasyidin, sebelumnya mengungkapkan bahwa tingkat kepadatan KRL pada kondisi tertentu dapat mencapai sekitar delapan orang per meter persegi.

Dengan luas gerbong sekitar 60 meter persegi, kondisi tersebut membuat jumlah penumpang dalam satu gerbong dapat mencapai kisaran 480 orang.

Angka tersebut menjadi gambaran ekstrem mengenai tekanan kapasitas yang dihadapi layanan KRL Jabodetabek.

Satu gerbong yang seharusnya menjadi ruang perjalanan berubah menjadi ruang yang sangat padat ketika ratusan penumpang harus berbagi tempat dalam waktu bersamaan.

Kepadatan tersebut tentu tidak terjadi sepanjang hari.

Situasi paling terasa pada periode jam sibuk ketika masyarakat berangkat dan pulang kerja.

Baca Juga: Air Menghitam serta Bau Busuk, Pendangkalan Parah Kali Sipon Resahkan Pedagang dan Warga

Rela Berdesakan Demi Hemat

Di balik angka 480 penumpang terdapat cerita masyarakat yang setiap hari harus membuat pilihan.

Naik kendaraan pribadi memang menawarkan keleluasaan lebih besar.

Namun konsekuensinya adalah kemacetan, biaya bahan bakar, parkir, serta kelelahan selama perjalanan.

Karena itu, KRL tetap menjadi pilihan bagi banyak pekerja.

Agus, salah seorang pengguna KRL dari Cilebut, mengaku kepadatan paling terasa ketika berangkat pada jam kerja.

Baginya, kondisi tersebut memang tidak nyaman.

Namun dibandingkan harus menghadapi kemacetan panjang, KRL masih dianggap lebih efisien.

Perjalanan menuju tempat kerja dengan KRL dapat ditempuh sekitar satu jam.

Sementara jika menggunakan kendaraan pribadi, waktu perjalanan bisa membengkak hingga sekitar dua jam akibat kemacetan.

Di sinilah alasan para “anker” tetap bertahan meski harus berdesakan.

Mereka menukar kenyamanan dengan efisiensi waktu dan biaya.

Baca Juga: Kenal via MiChat, Pria Asal Magetan Nekat Habisi Nyawa Wanita di Ruko Steam Tangerang

Pernah Coba Naik Motor, Tapi Kembali ke KRL

Pengalaman serupa dialami Bayu, pegawai BUMN yang pernah mencoba menggunakan sepeda motor dari Cibinong menuju Jakarta.

Bukannya mendapatkan perjalanan yang lebih nyaman, ia justru harus menghadapi kemacetan di sejumlah ruas jalan.

Perjalanan menggunakan motor juga menguras tenaga.

Pada akhirnya, KRL kembali menjadi pilihan.

Motor menurut saya sangat melelahkan karena ruas jalan yang saya lewati selalu terjebak macet. Jadi dari segi tenaga saya rasa lebih efektif naik KRL.

Bahkan ketika kereta yang datang sudah terlalu penuh, Bayu terkadang memilih menunggu perjalanan berikutnya.

Ia lebih memilih kehilangan beberapa menit daripada memaksakan diri masuk ke gerbong yang sudah terlalu padat.

Namun keputusan seperti itu tentu tidak selalu mudah.

Bagi pekerja yang harus mengejar jam masuk kantor, menunggu kereta berikutnya juga berarti mengambil risiko terlambat.

Baca Juga: Gibran Terancam? Hakim MK Pernah di UTS Insearch-Autralia Juga, Pertanyaan soal Pendidikan Makin Tajam

Ongkos Murah Jadi Pertimbangan

Pertimbangan biaya juga menjadi alasan kuat mengapa KRL tetap dipilih.

Gia, salah seorang pengguna KRL, memilih tetap menggunakan transportasi tersebut meskipun harus menghadapi kepadatan pada jam sibuk.

Ia sempat membandingkan biaya perjalanan dengan pilihan tinggal di indekos dekat tempat kerja di kawasan Palmerah.

Namun menggunakan KRL pulang-pergi masih dianggap lebih efisien.

Selain menghemat biaya, ia juga tetap bisa pulang dan bertemu keluarga setiap hari.

“Jadi meski harus desak-desakan di KRL, masih sebanding sama efisiensinya, dan bisa ketemu tiap hari sama keluarga.”

Bagi sebagian pekerja, pilihan tersebut terasa masuk akal.

Berdesakan selama perjalanan beberapa saat dianggap lebih baik daripada harus menanggung biaya tempat tinggal tambahan di dekat kantor.

Baca Juga: Sinar Mas Land Perkuat Ekosistem Pendidikan BSD City, ILON Academy Buka Jenjang SMP

Lintas KRL Mana yang Paling Padat?

Kepadatan KRL tidak sama di setiap lintasan.

Data yang disampaikan KAI menunjukkan tingkat kepadatan berbeda-beda.

Lintas Tanah Abang–Rangkasbitung disebut mencapai sekitar 160 persen dari kapasitas.

Sementara lintas Bekasi berada di sekitar 120 persen dan lintas Bogor sekitar 130 persen.

Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan kepadatan bukan hanya terjadi pada satu jalur.

Namun terdapat lintasan tertentu yang menghadapi tekanan kapasitas lebih besar.

Salah satunya adalah Rangkasbitung Line.

Baca Juga: Keceplosan Soal 'Pasal Selundupan' untuk Gibran? Komisioner KPU Dicecar Hakim MK, Jawabannya Jadi Sorotan

Masalahnya Bukan Hanya Jumlah Penumpang

Kepadatan KRL tidak semata-mata disebabkan semakin banyaknya masyarakat yang menggunakan transportasi publik.

Ketersediaan rangkaian dan kondisi infrastruktur juga ikut memengaruhi kapasitas layanan.

Sejumlah rangkaian KRL buatan PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA sempat menjalani perawatan.

Dari tujuh rangkaian yang ditarik untuk menjalani perawatan, tiga rangkaian telah kembali digunakan untuk membantu operasional.

Di Rangkasbitung Line, persoalan lainnya berkaitan dengan keterbatasan infrastruktur.

Lintasan tersebut belum sepenuhnya dapat mengakomodasi rangkaian 12 gerbong.

Selain itu, terdapat persoalan terkait sistem persinyalan, kapasitas listrik, hingga panjang peron yang turut memengaruhi kemampuan penambahan kapasitas perjalanan.

Baca Juga: Dari KKK ke Kebijakan Kota, Bappeda Dorong Inovasi Mahasiswa Berlanjut

KAI Siapkan Perbaikan

KAI menyatakan terus melakukan pembenahan untuk meningkatkan kapasitas layanan.

Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah jarak waktu antarperjalanan atau headway.

Pada Rangkasbitung Line, waktu tunggu KRL saat ini masih berada di kisaran 10–15 menit.

Ke depan, peningkatan sistem persinyalan ditargetkan dapat memangkas jarak antarperjalanan menjadi sekitar 4–5 menit.

Jika terealisasi, semakin banyak perjalanan dapat dilakukan dalam periode yang sama sehingga kapasitas angkut harian berpotensi meningkat.

Baca Juga: Tak Main-Main! Dua ASN Banten Dipecat, 7 Pegawai Lain Dijatuhi Hukuman Disiplin, Ini Kata Pemprov Banten

YLKI Soroti Kenyamanan Penumpang

Persoalan kepadatan juga mendapat perhatian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia atau YLKI.

Sekretaris Eksekutif YLKI Rio Priambodo menyoroti kondisi ketika jumlah penumpang dalam satu gerbong mencapai ratusan orang.

Menurut YLKI, persoalan transportasi publik tidak cukup hanya dilihat dari kemampuan mengangkut penumpang.

Kenyamanan dan keselamatan penumpang juga menjadi bagian penting dari kualitas pelayanan.

Kepadatan ekstrem membuat ruang gerak semakin terbatas.

Kondisi tersebut juga dapat menjadi persoalan apabila terjadi situasi darurat yang membutuhkan pergerakan cepat dari dalam gerbong.

Karena itu, peningkatan jumlah pengguna KRL idealnya diikuti dengan peningkatan kapasitas layanan.

Penambahan rangkaian dan pengurangan headway pada jam sibuk menjadi bagian dari solusi yang didorong untuk mengurangi kepadatan.

Baca Juga: Tak Main-Main! Dua ASN Banten Dipecat, 7 Pegawai Lain Dijatuhi Hukuman Disiplin, Ini Kata Pemprov Banten

Antara Hemat dan Nyaman

Pada akhirnya, cerita tentang KRL Jabodetabek bukan hanya cerita mengenai kereta yang penuh.

Ini adalah cerita tentang jutaan perjalanan masyarakat setiap hari.

Ada pekerja yang harus berangkat dari Bogor.

Ada yang datang dari Cibinong, Cilebut, Depok, Bekasi, hingga kawasan penyangga Jakarta lainnya.

Mereka memiliki tujuan yang sama: mencapai tempat kerja dengan biaya yang tetap terjangkau dan waktu yang tidak terlalu lama.

Namun untuk mendapatkannya, sebagian harus menerima konsekuensi berupa perjalanan dalam kondisi padat.

Satu gerbong bisa menampung hingga sekitar 480 orang dalam kondisi kepadatan ekstrem.

Bagi sebagian orang, angka tersebut mungkin terdengar mengejutkan.

Tetapi bagi para “anker”, kepadatan itu adalah bagian dari realitas perjalanan yang harus mereka hadapi.

Mereka bukan sekadar rela berdesakan. Mereka sedang memilih antara ongkos yang lebih hemat, waktu perjalanan yang lebih pasti, dan kenyamanan yang harus dikorbankan.

Dan setiap pagi, pilihan itu kembali terulang.

Kereta datang.

Pintu terbuka.

Ratusan penumpang bergerak masuk.

Lalu perjalanan menuju Jakarta dimulai—dengan ruang yang terkadang begitu sempit hingga sekadar bergeser beberapa sentimeter pun terasa sulit.

KRL bukan sekadar alat transportasi bagi mereka. KRL adalah bagian dari kehidupan sehari-hari (**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Abdurahman
Reporter
Abdurahman
Abdurahman