Banten

Anak Krakatau Terus Tumbuh hingga 2026, Begini Perubahannya Setelah Runtuh pada 2018

Viona Sebastian Nolani | 22 September 2026, 12:31 WIB
Anak Krakatau Terus Tumbuh hingga 2026, Begini Perubahannya Setelah Runtuh pada 2018
Gunung Anak Krakatau. - Dok. Pemprov Lampung

AKURAT BANTEN - Anak Krakatau kini memasuki fase baru dalam perkembangan geologinya setelah sebagian tubuh gunung api tersebut longsor ke laut pada Desember 2018.

Aktivitas erupsi yang terjadi setelah peristiwa itu secara perlahan kembali membentuk dan menambah tubuh gunung.

Hasil penelitian yang melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), University of Birmingham, ITB, Penn State Univerity, British Geological Survey, University of Oxford, dan PVMBG menunjukkan proses pertumbuhan Anak Krakatau masih terus berlangsung hingga 2026.

Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Dini Nurfiani, mengatakan perkembangan Anak Krakatau menjadi gambaran bahwa gunung api merupakan sistem geologi yang terus berubah.

Baca Juga: Lawang Sewu Semarang Bukan Cuma Punya Banyak Pintu, Ini Kisah di Balik Bangunan Bersejarahnya

Sejak pertama kali muncul dari dasar laut pada akhir 1920-an, Anak Krakatau mengalami rangkaian proses panjang berupa pertumbuhan, erupsi, keruntuhan, hingga pembangunan kembali tubuh gunung.

“Sejarah erupsi Anak Krakatau menunjukkan bahwa gunung api ini berkembang melalui siklus pertumbuhan, erupsi, keruntuhan, dan pembangunan kembali. Setelah kolaps pada 2018, morfologi dan gaya erupsi berubah secara drastis, lalu diikuti fase pertumbuhan kembali melalui erupsi dan pembentukan lava baru,” jelas Dini dalam pesan tertulisnya, Senin (21/09).

Kemunculan Anak Krakatau dimulai pada 1927 sebagai bagian dari proses pembangunan kembali sistem gunung api setelah Krakatau runtuh akibat erupsi besar pada 1883.

Baca Juga: Gibran Digugat ke MK, Palti Hutabarat Tantang Wapres Buka Suara, 'Kini Waktunya Hadapi Semua Tuduhan'

Pada fase awal tersebut, titik erupsi Anak Krakatau masih berada di bawah permukaan laut atau sangat dekat dengan permukaan laut.

Pertemuan magma bersuhu tinggi dengan air laut kemudian memicu erupsi Surtseyan yang menghasilkan ledakan uap, abu, dan berbagai material vulkanik.

Material hasil erupsi yang terus menumpuk akhirnya membentuk daratan baru hingga Anak Krakatau muncul secara permanen di atas permukaan laut pada Agustus 1930.

Proses pertumbuhan Anak Krakatau kemudian berlangsung selama beberapa dekade berikutnya.

Pada rentang 1930–1959, aktivitas gunung api tersebut lebih banyak ditandai oleh erupsi freatomagmatik yang terjadi akibat pertemuan magma dengan air.

Erupsi yang berulang kali terjadi membawa material vulkanik dan kolom abu yang secara bertahap membuat tubuh Anak Krakatau semakin besar.

Memasuki periode 1959–2018, kondisi kawah yang semakin jauh dari pengaruh langsung air laut membuat karakter erupsi berubah menjadi lebih dominan Strombolian–Vulcanian dan efusif.

Letusan pada periode ini menghasilkan material pijar, bom vulkanik, abu, hingga aliran lava.

Tumpukan material erupsi yang berlangsung selama puluhan tahun membuat kerucut Anak Krakatau terus meninggi hingga mencapai sekitar 330 meter sebelum akhirnya mengalami keruntuhan pada 2018.

Perubahan besar terjadi pada 22 Desember 2018 ketika sektor barat daya Anak Krakatau runtuh dan materialnya masuk ke laut dengan volume sekitar 0,116 kilometer kubik.

Keruntuhan tersebut menghilangkan sebagian besar tubuh Anak Krakatau yang berada di atas permukaan laut.

Ketinggian puncak gunung pun turun drastis dari sekitar 330 meter menjadi hanya sekitar 120 meter dan peristiwa tersebut turut memicu tsunami di Selat Sunda.

Dampak keruntuhan 2018 tidak hanya terlihat dari perubahan bentuk fisik Anak Krakatau.

Sistem erupsi gunung api tersebut juga mengalami perubahan setelah sebagian besar tubuh gunung tiba-tiba hilang.

Berkurangnya beban tubuh gunung menyebabkan tekanan pada saluran magma menurun, sementara air laut dapat masuk ke bagian kawah yang terbuka.

Kondisi tersebut kemudian membuat karakter aktivitas erupsi berubah dengan cepat dari Strombolian menjadi Surtseyan yang lebih eksplosif.

Interaksi antara magma dan air laut kembali berperan dalam proses pembentukan serta perubahan morfologi kawah Anak Krakatau.

Perubahan tersebut dapat terlihat secara jelas melalui perbandingan kondisi morfologi Anak Krakatau sebelum dan setelah peristiwa keruntuhan 2018.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.