Banten

Gunung Anak Krakatau Terus Dipantau, BRIN Ungkap Hasil Deteksi Potensi Tsunami

Viona Sebastian Nolani | 20 September 2026, 13:18 WIB
Gunung Anak Krakatau Terus Dipantau, BRIN Ungkap Hasil Deteksi Potensi Tsunami
Pantau Aktivitas Vulkanik Gunung Anak Krakatau, BRIN Tak Temukan Potensi Tsunami - BRIN

AKURAT BANTEN - Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih terus dipantau untuk memperkuat upaya mitigasi dan mengantisipasi potensi bencana.

Salah satu risiko yang menjadi perhatian dalam pemantauan tersebut adalah kemungkinan munculnya tsunami akibat perubahan aktivitas gunung api.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kebencanaan Geologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Semeidi Husrin menjelaskan bahwa pemantauan dilakukan menggunakan teknologi Inexpensive Device for Sea-Level measurement (IDSL) atau Perangkat Ukur Murah untuk Muka Air Laut (PUMMA).

Perangkat tersebut ditempatkan di sejumlah lokasi di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau, termasuk Pulau Rakata dan sebelumnya Pulau Panjang.

Baca Juga: Abu Vulkanik Anak Krakatau Ternyata Menyebar hingga Jakarta, Ini Penjelasannya

Berdasarkan hasil pemantauan, peningkatan aktivitas vulkanik pada awal September 2026 belum menunjukkan adanya anomali muka air laut yang mengarah pada pembentukan gelombang tsunami.

“Secara umum, selama meningkatnya aktivitas gunung api Anak Krakatau, kami tidak menemukan ada anomali yang berpotensi bisa membangkitkan gelombang tsunami,” terang Semeidi kepada Tim Humas, Rabu (16/9).

Meski demikian, proses pemantauan di lapangan masih menghadapi sejumlah kendala teknis akibat kondisi lingkungan di sekitar gunung api.

Material vulkanik yang keluar selama aktivitas erupsi dapat menutupi panel surya sehingga menghambat pasokan energi untuk mengoperasikan perangkat pemantauan.

Baca Juga: Bukan Sekadar Bangun Rumah, BRIN Siapkan Teknologi untuk Pulihkan Sumatera Pascabencana

Gangguan tersebut menyebabkan penerimaan data sempat terhenti selama kurang lebih 11 jam pada 6 September 2026.

“Pada hari Senin, 7 September 2026 saat peristiwa jurnalis hilang kontak, kami mendeteksi peristiwa aneh karena ada anomali tapi kami pastikan itu bukan tsunami,” tambah Semeidi.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa sistem peringatan dini tsunami tidak cukup hanya mengandalkan keberadaan sensor dan teknologi pemantauan.

Dukungan infrastruktur, perawatan perangkat secara berkala, serta sistem cadangan juga diperlukan agar data tetap dapat diterima ketika terjadi gangguan.

CCTV menjadi salah satu perangkat pendukung yang dianggap penting dalam memperkuat sistem pemantauan di kawasan Gunung Anak Krakatau.

Kamera pengawas dapat digunakan untuk melakukan verifikasi secara visual ketika sensor mendeteksi perubahan atau anomali pada muka air laut.

Melalui rekaman visual, kondisi sebenarnya di lapangan dapat diamati sehingga membantu memastikan apakah perubahan yang tercatat sensor berkaitan dengan kejadian berbahaya atau bukan.

Namun, CCTV yang berada di Pulau Rakata diketahui sudah tidak beroperasi selama lebih dari satu tahun sehingga memerlukan perbaikan.

Selain memperbaiki kamera pemantau, Semeidi juga menilai jumlah perangkat PUMMA perlu ditambah untuk meningkatkan kemampuan monitoring di kawasan tersebut.

Keberadaan satu unit PUMMA di Pulau Rakata dinilai belum memadai untuk memberikan cakupan pemantauan yang optimal.

Penambahan perangkat dibutuhkan untuk memperluas jangkauan monitoring sekaligus menjadi sistem pendukung apabila salah satu sensor mengalami gangguan.

Menurut Semeidi, jumlah ideal yang dibutuhkan setidaknya enam unit PUMMA yang dapat ditempatkan di Pulau Sertung, Pulau Panjang, dan Pulau Rakata.

Penguatan sistem peringatan dini tsunami juga membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemeliharaan perangkat hingga pembaruan data dan penyempurnaan standar operasional prosedur.

Koordinasi antara lembaga pemerintah, pihak lokal, mitra internasional, dan masyarakat juga menjadi bagian penting dalam menjaga sistem tersebut tetap berjalan.

“Kerja sama banyak pihak, ada pihak lokal, kementerian lembaga terkait, pihak internasional (JRC-EC), dan ada komponen masyarakat juga (Balawista),” tutur Semeidi.

BRIN sendiri turut berperan dalam memperkuat kemampuan deteksi melalui pengembangan dan penggunaan teknologi Inexpensive Device for Sea-Level measurement (IDSL) atau Perangkat Ukur Murah untuk Muka Air Laut (PUMMA).

Teknologi PUMMA dikembangkan untuk mendeteksi perubahan muka air laut secara cepat, termasuk anomali yang dapat berkaitan dengan potensi terjadinya tsunami.

Menurutnya, fungsi PUMMA bukan hanya untuk mencatat kondisi pasang surut air laut seperti perangkat pengukuran pada umumnya.

Sistem tersebut dirancang secara khusus untuk menangkap perubahan maupun anomali muka air laut sehingga mampu mendukung proses deteksi dini.

Karena itu, PUMMA membutuhkan pengumpulan data dengan interval waktu yang rapat serta sistem transmisi yang cepat agar perubahan kondisi muka air laut dapat segera diketahui.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.