Banten

UGM dan Telkom Kembangkan Sensor Tsunami dari Kabel Laut, Siap Perkuat Sistem Peringatan Dini Indonesia

Andi Syafrani | 30 Mei 2025, 13:10 WIB
UGM dan Telkom Kembangkan Sensor Tsunami dari Kabel Laut, Siap Perkuat Sistem Peringatan Dini Indonesia

AKURAT BANTEN - Pemerintah Indonesia mulai melirik teknologi kabel optik bawah laut sebagai solusi untuk memperkuat sistem peringatan dini tsunami yang lebih luas dan akurat.

Inovasi ini merupakan hasil kerja sama antara Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Telkom Indonesia yang bertujuan untuk mendeteksi ancaman tsunami akibat aktivitas megathrust di bawah laut.

Baca Juga: Gletser Runtuh, Desa Blatten di Swiss Lenyap Ditelan Lumpur dan Es

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyampaikan bahwa teknologi ini akan diintegrasikan dengan sistem peringatan dini tsunami nasional yang sudah berjalan, yaitu InaTEWS. Ia menekankan pentingnya pendekatan inovatif untuk menutupi kekosongan deteksi di wilayah laut yang belum tercakup sistem sensor.

Baca Juga: AWAS KETIPU! Pemerintah Tegaskan Arab Saudi Tak Keluarkan Visa Haji Furoda Tahun Ini

“Ini bukan sekadar pengembangan teknologi, tapi bentuk adaptasi terhadap kondisi geologis Indonesia yang kompleks dan sangat aktif secara seismik,” kata Dwikorita saat ditemui di Jakarta, Jumat (30/5).

Baca Juga: Harga Tiket Konser BLACKPINK di Jakarta Resmi Dirilis, Mulai dari Rp1,4 Juta dan Ini Rinciannya!

Kabel optik selama ini memang dikenal sebagai sarana komunikasi dan pertukaran data. Namun, lewat riset ini, kabel tersebut juga bisa dimanfaatkan untuk mendeteksi perubahan tekanan dan gelombang laut sebagai indikator awal terjadinya tsunami.

Mengingat banyaknya jaringan kabel optik yang sudah tersebar di perairan Indonesia, peluang ini dinilai sangat potensial.

Baca Juga: Retreat Kepala Daerah Gelombang Kedua Digelar Juni, Bima Arya: Kali Ini di Kampus IPDN

“Kalau kabel optik bisa dimanfaatkan untuk deteksi tsunami, maka cakupan sensor bisa jauh lebih merata, bahkan di wilayah laut dalam yang selama ini belum tersentuh sistem deteksi apa pun,” lanjutnya.

Namun, Dwikorita menegaskan bahwa sebelum teknologi ini diadopsi secara penuh, uji kelayakan dan standar nasional harus dilewati. Pasalnya, keakuratan dan keandalan sistem sangat krusial dalam situasi darurat seperti potensi tsunami, yang membutuhkan respons cepat dan tepat.

Baca Juga: Israel dan Hamas Sepakat untuk Gencatan Senjata Selama 60 Hari di Gaza

Indonesia sendiri berada di zona rawan bencana gempa dan tsunami dengan 13 segmen megathrust aktif. Dua di antaranya — Selat Sunda dan Mentawai-Siberut — disebut sebagai zona merah karena sudah ratusan tahun tidak mengalami gempa besar, sehingga potensi energinya sangat besar dan berbahaya.

Baca Juga: Bea Cukai Teluk Nibung Gagalkan Penyelundupan Ribuan Belangkas, Lindungi Satwa Langka dari Eksploitasi

BMKG menyatakan dukungannya terhadap integrasi teknologi ini sebagai bagian dari kesiapsiagaan nasional menghadapi bencana. Dwikorita menyebut,

“Sistem ini bukan hanya soal alat canggih, tapi menyangkut keselamatan jutaan orang. Kami akan pastikan teknologi ini benar-benar siap sebelum digunakan secara resmi.”

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
Varin VC
Editor
Varin VC