Abu Vulkanik Anak Krakatau Ternyata Menyebar hingga Jakarta, Ini Penjelasannya

AKURAT BANTEN - Abu vulkanik akibat erupsi Anak Krakatau pada 4–5 September 2026 terpantau menyebar hingga sejumlah wilayah di luar kawasan Selat Sunda, termasuk Lampung, Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.
Kajian awal Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebutkan bahwa jarak sebaran abu sangat berkaitan dengan ketinggian kolom erupsi saat material masuk ke atmosfer serta kondisi kecepatan dan arah angin di berbagai lapisan udara.
Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Dini Nurfiani, mengatakan abu vulkanik yang dikeluarkan saat erupsi tidak selalu bergerak mengikuti satu arah yang sama.
Material vulkanik yang berada pada ketinggian berbeda dapat dipengaruhi pola angin yang berbeda sehingga arah pergerakan dan jarak sebarannya juga dapat berubah.
Baca Juga: Bukan Sekadar Bangun Rumah, BRIN Siapkan Teknologi untuk Pulihkan Sumatera Pascabencana
“Secara keseluruhan, profil ini menunjukkan bahwa transportasi abu paling kuat terjadi ketika material erupsi mencapai lapisan sekitar 200–300 hPa, sedangkan abu pada lapisan rendah cenderung bergerak lebih lambat dan lebih terbatas secara spasial,” jelas Dini.
Sebagai gambaran, lapisan tersebut berada pada kisaran ketinggian yang juga menjadi area penerbangan pesawat komersial, yakni sekitar 9–12 kilometer.
Dini menjelaskan, kajian Kelompok Riset Vulkanologi Fisik dilakukan dengan menganalisis kondisi atmosfer di sekitar Anak Krakatau selama periode erupsi menggunakan data angin numerik.
Untuk memodelkan pola penyebaran abu vulkanik dari erupsi terbaru Anak Krakatau, tim menggunakan data angin tiga dimensi yang berasal dari NOAA GFS (Global Forecast System).
Baca Juga: Gula pada Makanan Bisa Dikurangi? Terungkap Teknologi Baru Berbasis Singkong dan Sagu
GFS merupakan sistem yang menyediakan data prakiraan cuaca serta informasi arah dan kecepatan angin secara global dan diperbarui secara berkala.
Analisis tersebut memperlihatkan adanya perbedaan kondisi angin yang cukup signifikan antara atmosfer bagian bawah dan lapisan udara yang lebih tinggi selama erupsi pada 4–5 September 2026.
Pada lapisan atmosfer bawah hingga menengah bawah, sekitar 1000–500 hPa atau setara dengan ketinggian sekitar 0,1–5,6 kilometer, kecepatan angin cenderung lemah hingga sedang dan umumnya berada di bawah 10 meter per detik.
Kondisi angin tersebut membuat abu vulkanik yang berada di dekat permukaan memiliki kemampuan transportasi yang relatif lebih terbatas.
Sebaliknya, kecepatan angin yang lebih tinggi ditemukan pada atmosfer menengah hingga atas, khususnya pada lapisan 200–300 hPa atau sekitar 9–12 kilometer dari permukaan.
Pada ketinggian tersebut, kecepatan angin tercatat sekitar 20–30 meter per detik dengan arah transportasi yang lebih dominan menuju sektor barat hingga barat daya.
“Abu dari kolom erupsi yang mencapai ketinggian menengah hingga atas berpotensi tersebar lebih jauh dibandingkan abu pada lapisan rendah. Karena itu, ketinggian injeksi abu dan kondisi angin pada setiap lapisan atmosfer menjadi parameter penting untuk memahami pola penyebarannya,” terang Dini melalui pesan tertulisnya, Kamis (17/09).
Untuk mengetahui kembali pola pergerakan abu vulkanik tersebut, tim BRIN melakukan simulasi tiga dimensi menggunakan model Ash3d melalui platform VICTOR Jupyter Notebook.
Platform berbasis cloud tersebut digunakan untuk melakukan pemodelan bahaya vulkanik dengan memanfaatkan berbagai parameter erupsi dan kondisi atmosfer.
Dalam simulasi, dinamika erupsi Anak Krakatau dibuat dalam empat skenario berdasarkan perkiraan ketinggian kolom erupsi dan durasi letusan yang diperoleh dari data citra satelit.
Keempat skenario tersebut menggambarkan sejumlah fase erupsi dengan estimasi ketinggian kolom abu mulai dari sekitar 6 hingga 16 kilometer.
Simulasi sementara selama 36 jam memperlihatkan bahwa abu vulkanik secara umum bergerak dari pusat erupsi menuju arah barat hingga barat daya.
Namun, sebagian material vulkanik juga terdispersi ke arah utara dengan jangkauan yang dalam simulasi mencapai sebagian wilayah Bandar Lampung.
"Perbedaan arah dan luas penyebaran tersebut menunjukkan kuatnya pengaruh perubahan kondisi angin terhadap ketinggian dan waktu," lanjut Dini.
Hasil pemodelan sementara juga menunjukkan adanya potensi deposisi atau pengendapan abu vulkanik di sejumlah wilayah yang berada di sekitar Anak Krakatau.
Pulau Sebesi dan Pulau Sebuku yang masing-masing berjarak sekitar 15 dan 24 kilometer dari Anak Krakatau teridentifikasi sebagai wilayah yang menerima deposisi abu berdasarkan hasil simulasi.
Sementara itu, di sejumlah wilayah Lampung, model memperkirakan ketebalan rata-rata deposit abu mencapai sekitar 12 milimeter.
Meski demikian, Dini menekankan bahwa angka tersebut masih berupa estimasi awal yang dihasilkan dari skenario pemodelan dan belum dapat dianggap sebagai kondisi aktual yang telah dikonfirmasi melalui pengukuran lapangan.
“Besaran maupun pola spasial deposisi masih memiliki ketidakpastian karena sangat bergantung pada parameter erupsi dan kondisi atmosfer yang digunakan sebagai input model. Karena itu, hasil ini perlu divalidasi dengan data lapangan dan parameter erupsi yang lebih lengkap,” ujar Dini.
Menurut Dini, salah satu kendala utama dalam merekonstruksi sebaran abu vulkanik adalah memastikan ketinggian kolom erupsi secara akurat.
Erupsi yang terjadi pada malam hari dapat menyulitkan pengamatan secara langsung karena kondisi gelap dan kemungkinan adanya kabut.
Selain itu, perkiraan ketinggian sebaran abu yang diperoleh dari citra satelit tidak selalu identik dengan ketinggian kolom erupsi atau lokasi awal material vulkanik ketika masuk ke atmosfer.
Dini mengatakan tim peneliti BRIN juga telah mengumpulkan sampel abu dari erupsi 4–5 September 2026 di sejumlah wilayah yang terdampak, termasuk Cilegon dan Lampung.
Sampel tersebut selanjutnya akan diteliti untuk mengetahui ukuran partikel, morfologi dan tekstur permukaan partikel abu, komponen penyusun, hingga komposisi mineral yang terkandung di dalamnya.
Hasil analisis material tersebut diharapkan dapat memberikan informasi lebih detail mengenai karakter abu vulkanik sekaligus membantu memahami proses transportasi dan deposisinya di atmosfer.
Dini menyebutkan bahwa penggabungan hasil pemodelan atmosfer, analisis material vulkanik, dan data lapangan diperlukan untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap mengenai karakter erupsi Anak Krakatau.
“Penyempurnaan parameter erupsi dan kondisi atmosfer diperlukan untuk memperoleh rekonstruksi sebaran abu yang lebih representatif. Informasi tersebut penting bukan hanya untuk memahami dinamika erupsi, tetapi juga untuk mendukung evaluasi bahaya abu vulkanik dan strategi mitigasi yang lebih tepat,” pungkasnya.(pur
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Bikin Geger! MK Segera Sidangkan Gugatan Gibran, Ini Isi Permohonannya hingga Nasib Kursi Wakil Presiden
- 2Pendidikan Gibran di Australia Disorot Lagi, Sosok Ini Ungkap Temuan Mengejutkan soal UTS Insearch
- 3Mantan Kapolsek Pinang Iptu Adityo Wijanarko Resmi Jabat Kanit Reskrim Polsek Kelapa Dua
- 4Truk Air Damkar Tertahan di Tol Janger Gara-gara E-Tol, Pemadaman TPS Pinang Sempat Terhambat
- 5Surat Kesetaraan Gibran Digugat, Muncul Tawaran Tak Terduga, Ikut Paket C?
- 6Gibran Ditantang Hentikan MBG Usai Kasus Keracunan, Langkah Pemerintah Jadi Sorotan
- 7Roy Suryo Tolak Restorative Justice dalam Kasus Ijazah Jokowi, Pilih Hadapi Persidangan
- 8Heboh Suahasil Nazara Dituding Korupsi Rp500 Triliun, Ternyata Judul Beritanya Dipalsukan
- 9ITS Giuseppe Garibaldi Tiba di Tanjung Priok, Menhan Sjafrie Ungkap Kondisi Kapal Hibah Italia
- 10TNI AL Temukan 3 Jenazah di KM Virgo Transport 8, Tim Kopaska Pecahkan Kaca Kapal








