Bunga Bangkai Raksasa Terancam Punah, BRIN Perkuat Konservasi di Kebun Raya Cibodas

AKURAT BANTEN - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat upaya konservasi flora endemik Sumatera yang kini berada dalam ancaman kepunahan, yaitu Amorphophallus titanum atau bunga bangkai raksasa.
Pelaksana Fungsi Pemrosesan Koleksi Ilmiah Hayati Hidup - KKI Kebun Raya Cibodas BRIN, Destri, menjelaskan bahwa Kebun Raya Cibodas memiliki peran sebagai institusi pelaksana konservasi ex situ tumbuhan Indonesia.
Khususnya flora yang masuk kategori endangered atau terancam punah berdasarkan Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Menurut Destri, program konservasi pada 2026 mulai diarahkan pada penelitian keragaman genetik dan pengembangan bank polen karena bibit yang selama ini dihasilkan masih memiliki hubungan kekerabatan yang dekat (*sibling*).
Baca Juga: Old Trafford Memanas! Suporter MU Kompak Serang Ratcliffe Gara-Gara Sanksi Ratusan Akun Tiket
Melalui bank polen tersebut, serbuk sari dari populasi liar yang lokasinya berjauhan, seperti Aceh, dapat disimpan untuk kemudian digunakan dalam persilangan dengan koleksi Amorphophallus titanum yang tumbuh di Pulau Jawa.
“*Pollen banking* ini sangat penting untuk mencegah persilangan antar kerabat dekat. Dengan menyimulasikan jarak populasi yang jauh, maka kita akan bisa memiliki koleksi-koleksi dengan variasi genetik yang tinggi,” jelas Destri, dalam Webinar Koleksi Ilmiah, Senin (7/9).
Upaya konservasi bunga bangkai raksasa tersebut menjadi hasil kerja sama sejumlah pusat riset di lingkungan BRIN, yaitu Pusat Riset Sistem Biota (PRSB), Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi (PRBE), Pusat Riset Botani Terapan (PRBT), serta Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah (DPKI).
Baca Juga: Indonesia Punya Modal Teknologi untuk Membangun Industri Drone Nasional
Kolaborasi tersebut juga melibatkan peneliti dari Chicago Botanic Garden dengan dukungan pendanaan dari institusi tersebut.
Destri mengatakan, salah satu kendala utama dalam konservasi bunga bangkai adalah waktu kematangan bunga jantan dan betina yang tidak terjadi secara bersamaan.
Bunga betina biasanya mencapai kematangan lebih dahulu yang ditandai dengan keluarnya aroma menyerupai bau bangkai.
Sementara bunga jantan baru melepaskan serbuk sarinya pada hari berikutnya ketika bunga betina sudah menutup, sehingga serbuk sari yang jatuh pada tanaman yang sama tidak dapat menghasilkan pembuahan.
“Karenanya, kita melakukan polinasi buatan. Polen yang kita panen dari tanaman tahun sebelumnya disimpan di freezer pakai alumunium foil. Sebulan kemudian waktu ada bunga mekar berikutnya, kita kawinkan,” paparnya.
Untuk mengurangi risiko pembusukan akibat serangan jamur selama proses persilangan tertutup, tim secara rutin memberikan cairan antijamur dan antibakteri setiap pagi.
Metode tersebut berhasil menghasilkan buah dan biji yang kemudian dapat berkecambah menjadi bibit atau seedling baru dalam waktu sekitar tiga bulan dengan menggunakan media kompos.
Destri menuturkan bahwa konservasi Amorphophallus titanum di Kebun Raya Cibodas tidak hanya bertujuan menjaga spesies dari kepunahan, tetapi juga telah menghasilkan pencapaian yang melampaui rekor dunia.
Pada 2016, salah satu spesimen Amorphophallus titanum di Kebun Raya Cibodas berhasil berbunga secara sempurna dengan tinggi mencapai 3,7 meter yang diukur dari tangkai daun.
Menurut Destri, ukuran tersebut bahkan melampaui catatan tertinggi yang tercantum dalam Guinness Book of Records, yaitu 3,1 meter.
“Tanaman ini seharusnya berbunga lagi tahun 2020, tapi dia berbunga di tahun 2017 dan masih tinggi 3,4 meter. Kemudian tahun 2020 dia secara normal berbunga lagi,” ungkap Destri.
Keberhasilan mempertahankan spesimen tersebut diperoleh setelah tim menghadapi berbagai tantangan dalam proses konservasi di lapangan.
Salah satu kendala yang dihadapi adalah serangan hama babi yang kemudian diantisipasi dengan memasang pagar kawat agar hewan tersebut tidak dapat memasuki area tanaman.
Selain itu, tim juga harus menghadapi risiko pembusukan umbi yang terjadi di dalam tanah sehingga sulit diketahui sejak awal.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Warga Lippo Karawaci Geruduk Menara Matahari, Selain AJB Tak Jelas Pengelola Dinilai Buruk
- 2Cicilan Lunas Bertahun-tahun tapi Belum SHM? Tarif Iuran Bengkak Tanpa Transparansi, Ratusan Warga Lippo Karawaci Geruduk Menara Matahari
- 3Gerindra Bela Gibran, Prabowo Tak Bisa Pecat Wapres Sepihak! Ini Aturan yang Wajib Dipahami
- 4TNI AL Kerahkan KRI Brawijaya-320, Meriam 127 mm dan 25 mm Diuji di Laut Jawa
- 5Bikin Malu! Warga Australia Mengamuk Usai Melbourne Victory Dihancurkan Persib Bandung di Kandang Sendiri
- 6Data Pelanggan Fore Coffee Bocor? CEO Imbau Pengguna Segera Lakukan Langkah Penting Ini!
- 7Balsa Sekulic Menggila! Persib Bungkam Melbourne Victory 2-0, Maung Bandung Makin Dekat ke 16 Besar
- 813 Siswa di Dramaga Bogor Masih Diobservasi, BGN Ungkap Dugaan Penyebab Gangguan Kesehatan
- 9Baru Pulih dari Cedera, Raphinha Harus Terbang ke Asia! Barcelona Khawatir Keputusan Ancelotti Jadi Petaka
- 10Man City Terancam Sanksi Berat, Eks Liverpool Justru Bela Para Pemain: Bukan Mereka yang Bersalah!







