Dampak Pembangunan Jalan Tol, Warga Tak Hanya Untung tapi Juga Hadapi Perubahan Besar

AKURAT BANTEN - Pembangunan jalan tol tidak hanya memperkuat konektivitas antarwilayah dan mendorong munculnya pusat-pusat ekonomi baru, tetapi juga membawa perubahan besar terhadap struktur sosial, hubungan antarmasyarakat, serta pola kehidupan warga di daerah yang terdampak.
Dampak tersebut terlihat dari perubahan mata pencaharian, mobilitas sosial, kepemimpinan di tingkat lokal, pola interaksi masyarakat, hingga berkembangnya nilai dan norma baru sebagai bentuk penyesuaian terhadap hadirnya infrastruktur.
Perubahan sosial tersebut berlangsung secara bertahap, mulai dari tahap perencanaan, proses pembangunan, hingga jalan tol resmi beroperasi.
Di satu sisi, masyarakat menikmati akses transportasi yang lebih mudah serta terbukanya berbagai peluang ekonomi.
Baca Juga: Gila! Real Madrid Sodorkan Rp 2 Triliun Demi Jegal PSG, Wonderkid Rp 2 Triliun Ini Pilih Mana?
Namun di sisi lain, mereka juga harus menghadapi alih fungsi lahan, perubahan jenis pekerjaan, penyesuaian hubungan sosial, hingga tantangan menjaga solidaritas masyarakat dan mempertahankan nilai-nilai lokal di tengah laju pembangunan.
Fenomena tersebut terungkap dalam dua penelitian yang dilakukan Pusat Riset Kesejahteraan Sosial, Desa, dan Konektivitas (PRKSDK) BRIN. Hasil kajian itu dipaparkan dalam seminar bertajuk “Transformasi Sosial dan Ketahanan Masyarakat dalam Pembangunan Berkelanjutan: Dampak Infrastruktur, Dinamika Sosial, dan Penguatan Ketahanan Pangan Berbasis Kearifan Lokal di Kabupaten Sleman” yang diselenggarakan melalui kolaborasi BRIN bersama Pemerintah Kabupaten Sleman pada Kamis (23/7).
Kedua penelitian tersebut saling melengkapi dalam menggambarkan perubahan struktur sosial, pola hubungan masyarakat, serta perkembangan nilai dan norma yang muncul sebagai respons terhadap pembangunan jalan tol di wilayah tersebut.
Baca Juga: Belanja Tenaga Ahli Pemprov Banten Terus Naik di Tengah APBD yang Menyusut
Dalam seminar itu, Peneliti Ahli Madya PRKSDK BRIN Akhmad Purnama mengungkapkan bahwa pembangunan jalan tol di Daerah Istimewa Yogyakarta sejak awal diwarnai berbagai tantangan kebijakan, terutama yang berkaitan dengan perlindungan kawasan cagar budaya serta pemanfaatan lahan Sultan Ground dan Paku Alam Ground.
Kendati demikian, proyek strategis tersebut akhirnya dapat diwujudkan guna meningkatkan konektivitas, memperlancar arus mobilitas orang maupun barang, sekaligus membuka kesempatan ekonomi baru.
"Di balik manfaat ekonomi yang dihasilkan, pembangunan jalan tol juga membawa perubahan sosial yang berlangsung secara bertahap pada masyarakat terdampak," ujar Akhmad.
Akhmad menjelaskan, penelitian tersebut bertujuan mengidentifikasi transformasi sosial yang terjadi dalam tiga tahapan, yaitu sebelum pembangunan dimulai, selama proses konstruksi berlangsung, dan setelah jalan tol mulai beroperasi.
“Kajian difokuskan pada dua aspek utama, yaitu transformasi struktur sosial yang meliputi pekerjaan dan pendapatan, mobilitas sosial, kepemimpinan lokal, distribusi peran sosial, serta dampak lingkungan; dan transformasi pola sosial yang mencakup interaksi sosial, solidaritas, gaya hidup, partisipasi masyarakat, serta pemanfaatan dana kompensasi,” papar Akhmad.
Temuan penelitian memperlihatkan bahwa sebelum proyek jalan tol dibangun, sebagian besar masyarakat masih bergantung pada sektor pertanian sebagai sumber utama penghasilan.
“Berkurangnya lahan pertanian selama masa konstruksi mendorong sebagian warga beralih menjadi buruh proyek, petugas keamanan, maupun membuka usaha kecil,” ungkapnya.
Sesudah jalan tol mulai beroperasi, pilihan mata pencaharian masyarakat menjadi semakin beragam.
Pertumbuhan sektor perdagangan, jasa, transportasi, pariwisata, penginapan, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menciptakan kesempatan kerja baru bagi warga di sekitar kawasan terdampak.
Perubahan tersebut juga berdampak pada kondisi ekonomi masyarakat.
“Pembebasan lahan memunculkan kesenjangan antara warga yang menerima kompensasi dan mereka yang tidak memiliki aset lahan,” jelasnya.
Sementara itu, hadirnya berbagai peluang usaha baru memungkinkan sebagian warga mengalami peningkatan status sosial.
Sebaliknya, kelompok buruh tani pada umumnya hanya berpindah jenis pekerjaan tanpa mengalami perubahan status sosial yang berarti.
Penelitian tersebut juga menunjukkan semakin besarnya kontribusi perempuan dalam mendukung perekonomian keluarga.
Peran itu diwujudkan melalui pengelolaan UMKM, usaha kuliner, kerajinan tangan, hingga berbagai sektor jasa yang berkembang seiring hadirnya pembangunan jalan tol.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Begini Alasan Dedi Mulyadi Saat Dicari Prabowo di Rakornas, Lebih Baik di Kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai
- 2Kasus Korupsi Pesawat Fiktif Rp4,94 Miliar, Eks Dirut Angkasa Pura Kargo Jadi Tersangka
- 3150 Guru Besar Kirim Surat Terbuka Desak Gibran Mundur, Bareskrim Bergerak Maraton Cecar Pelapor Kasus Suket Ijazah!
- 4AC Milan Hancur Lebur di Markas Bournemouth: 4 Pemain Ini Jadi Biang Keladi Pembantaian Rossoneri!
- 5Prabowo Akhirnya Buka Kartu! Said Didu Cium Perombakan Besar Kabinet Sebelum Akhir Oktober
- 6Disaat Kumpul Keluarga Akhir Pekan, Resep Masakan Kepala Ikan Kakap jadi Primadona Keluarga
- 7Bayar 'Hutang' 16 Tahun Lalu, Skuad Emas Manchester United Resmi Bentrok Lawan Persija di SUGBK!
- 8SIAP-SIAP BORONG TIKET! Pemerintah Gratiskan PPN Pesawat 100 Persen Buat Libur Nataru, Cek Trik dan Tanggal Mainnya!
- 9BGN Sudah Kembalikan 81,75 Persen Dana Temuan BPK, Ke Mana Sisa Uangnya?
- 10Dana Operasional SPPG Tak Cair? BGN Ungkap 3 Penyebab yang Perlu Diketahui








