Waspada! Rupiah Tertekan, Dolar AS Menggeliat Jelang Data Inflasi Amerika

Akurat Banten - Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan gejala pelemahan di tengah kondisi global yang tidak menentu.
Kali ini, sentimen pasar didominasi oleh ekspektasi kenaikan inflasi Amerika Serikat (AS) yang diperkirakan akan memicu penguatan dolar secara global.
Bukan tanpa alasan, mata uang Garuda terlihat goyah sejak pembukaan perdagangan.
Rupiah dibuka melemah 21 poin atau sekitar 0,13 persen ke level Rp16.271 per dolar AS, turun dari posisi sebelumnya di Rp16.250.
Tren ini diprediksi masih bisa berlanjut apabila inflasi AS benar-benar naik lebih tinggi dari prediksi.
Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyampaikan bahwa tekanan terhadap rupiah saat ini berasal dari ekspektasi kuat bahwa inflasi di Negeri Paman Sam akan naik.
Baca Juga: Waspada Jerat Digital! TASPEN Ingatkan Modus Penipuan yang Mengincar Pensiunan ASN
“Rupiah diperkirakan berpotensi melemah terhadap dolar AS yang menguat oleh antisipasi naiknya inflasi AS yang dimana datanya kan dirilis malam ini,” ujar Lukman.
Inflasi AS diprediksi akan naik 0,3 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Jika prediksi itu terbukti, maka inflasi tahunan (year on year/YoY) AS bisa melonjak dari 2,4 persen menjadi 2,7 persen.
Lonjakan ini dinilai akan memperkuat ekspektasi pasar bahwa The Fed tidak akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat, bahkan bisa menahannya lebih lama dari perkiraan.
Salah satu faktor yang memperburuk situasi ini adalah kebijakan tarif impor yang sebelumnya dicanangkan oleh Presiden AS Donald Trump.
Kebijakan tersebut memberikan tekanan tambahan terhadap harga barang, dan mempercepat laju inflasi di AS.
Dalam konteks ini, rupiah menjadi korban dari efek domino kebijakan global yang sedang berlangsung.
Baca Juga: Marak Akun Buzzer! DPR Desak YouTube, Meta, dan TikTok Batasi Pembuatan Akun Ganda
Namun, tidak semua kabar buruk. Data ekonomi dari China yang dirilis baru-baru ini memberi sedikit angin segar.
Meskipun ekonomi China masih menunjukkan pelemahan, data yang keluar ternyata lebih baik dari ekspektasi sebelumnya.
Hal ini memberikan sedikit bantalan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
“Rilis data ekonomi dari China yang beragam, yang walau masih menunjukkan pelemahan namun lebih baik dari perkiraan, ini dapat sedikit mendukung rupiah dari pelemahan yang lebih besar,” kata Lukman.
Dengan mempertimbangkan semua faktor tersebut, rupiah diproyeksikan akan bergerak di kisaran Rp16.200 hingga Rp16.300 per dolar AS dalam jangka pendek.
Baca Juga: Aksi Preman Bersenjata di Lampu Merah Pulomas Gegerkan Warga, Polisi Bergerak Cepat
Situasi seperti ini menjadi pengingat penting bagi pelaku pasar, pengusaha, dan masyarakat luas bahwa faktor global dapat memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas mata uang nasional.
Bagi masyarakat yang memiliki keperluan transaksi dalam dolar, bijaklah dalam merencanakan pembelian valas dan tetap pantau kondisi pasar agar tak terjebak di saat nilai tukar tak bersahabat.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Terungkap Gugatan Surat Kesetaraan Pendidikan Gibran Ternyata Berawal dari Keluhan Calon Murid
- 2Mahfud MD Bongkar Sorotan ke Prabowo, 'Sekarang Saya Percaya Dia Tidak Berdaulat'
- 3Surat Kesetaraan Gibran Digugat, Muncul Tawaran Tak Terduga, Ikut Paket C?
- 4Hakim Saldi Isra Cecar Bawaslu soal Syarat Pendidikan Gibran, 'Dipantau Enggak?'
- 5Denny Indrayana Bongkar Suket Gibran, 'Diajukan dan Terbit di Hari yang Sama, Kok Bisa?'
- 6Makin Panas! Ijazah Gibran Masuk MK, Bisakah Berujung pada Pemakzulan Wakil Presiden?
- 7Gibran Digadang Capres 2029, Pernyataan Ali Syarief soal Prabowo Bikin Wacana Makin Panas
- 8Pendidikan Gibran Jadi Sorotan, Agus Yunanto Bongkar Pertanyaan Besar soal SMK Akuntansi
- 98 Tuntutan Gugatan Gibran di MK Terungkap, Ada Permintaan Batalkan Pelantikan dan Pilih Wapres Baru
- 10Roy Suryo Soroti Biografi Gibran di MK, Ada Perbedaan Keterangan Pendidikan yang Dipersoalkan







