Banten

Bukan Cuma Pandai Bicara: Menguak Keunikan Beo Nias, Burung Endemik Paling Langka di Sumut!

Saeful Anwar | 16 Mei 2025, 10:16 WIB
Bukan Cuma Pandai Bicara: Menguak Keunikan Beo Nias, Burung Endemik Paling Langka di Sumut!

 

AKURAT BANTEN-Sumatera Utara menyimpan berbagai kekayaan alam yang menakjubkan, salah satunya adalah Beo Nias. Burung endemik ini bukan sekadar burung biasa.

Dikenal dengan kecerdasannya yang luar biasa dalam meniru suara manusia, Beo Nias adalah primadona yang memikat siapa saja yang mendengarnya.

Sayangnya, keindahan dan kepintaran Beo Nias kini terancam. Mari kita selami lebih jauh keunikan dan status konservasi burung istimewa ini!

Baca Juga: Terungkap! Inilah Alasan Beo Bisa Bicara Mirip Manusia dan Hidup Hingga 80 Tahun Lebih

Istimewa 

Kenapa Beo Nias Begitu Istimewa? Beo Nias, atau dengan nama latin Gracula religiosa robusta, memiliki daya tarik yang tak tertandingi.

Keistimewaan utamanya tentu saja kemampuan bicara. Burung ini sangat pandai mengulang perkataan manusia yang didengarnya berulang-ulang, bahkan dengan intonasi yang mirip.

Tak heran jika ia menjadi salah satu burung peliharaan yang paling dicari sejak dulu.

Baca Juga: Terungkap! Modus Pemerasan Licik Terhadap Karyawan Baru Pabrik di Cikande, Pelaku Berhasil Diciduk!

Namun, kepintaran Beo Nias bukan satu-satunya hal yang membuatnya unik. Ia juga punya ciri fisik yang membedakannya dari jenis beo lainnya:

 * Ukuran Jumbo: Dibandingkan beo pada umumnya, Beo Nias memiliki tubuh yang lebih besar dan gemuk, dengan panjang mencapai sekitar 40 cm.

 * Suara Menggelegar: Suara Beo Nias sangat khas, nyaring, dan keras. Kemampuannya meniru berbagai suara, termasuk suara manusia, membuatnya semakin menarik.

Baca Juga: Situ Gintung Bersih dari 'Pak Ogah': Dua Juru Parkir Liar Diciduk dengan Karcis Bodong!

 * Gelambir Unik: Ini dia pembeda paling mencolok! Beo Nias punya sepasang gelambir cuping telinga yang menyatu di belakang kepala. Ciri ini tidak ditemukan pada beo jenis lain.

 * Corak Khas: Tubuhnya didominasi warna hitam layaknya beo pada umumnya, namun terdapat corak kuning di sisi kepala dan corak putih di bagian sayapnya. Iris matanya coklat gelap dan paruh runcingnya berwarna oranye yang cerah.

Dihutan Rimba

Hidup di Hutan Rimba, Bersembunyi di Balik Pepohonan. Beo Nias dulunya sangat mudah ditemukan di hutan-hutan rimba di Pulau Nias dan beberapa pulau kecil di sekitarnya seperti Pulau Tuangku, Pulau Bangkaru, Pulau Babi, dan Pulau Simo.

Baca Juga: KPK Dalami Jejak Kredit Bermasalah LPEI, Aliran Dana ke Perusahaan Lain Mulai Terendus

Mereka senang hidup berpasangan atau berkelompok, membangun sarang dengan melubangi pohon-pohon yang tinggi. Makanan utamanya adalah serangga dan buah-buahan yang melimpah di habitatnya.

Alarm Bahaya

Alarm bahaya namun populasi Beo Nias kian menipis. Ironisnya, kini Beo Nias sangat sulit ditemukan, bahkan di Pulau Nias sekalipun.

Populasi mereka kian langka, dan inilah yang membuat Beo Nias ditetapkan sebagai fauna yang dilindungi di Indonesia.

Langka

Apa yang menyebabkan kelangkaan Beo Nias?

 * Perburuan Liar: Daya tarik Beo Nias yang pandai bicara menjadikannya target utama perburuan untuk diperdagangkan.

 Baca Juga: Diduga Sampul Skripsi dan Salinan Skripsi Asli Jokowi Sudah Dipegang Pihak Kepolisian

 * Kerusakan Habitat: Hutan-hutan yang menjadi tempat tinggal Beo Nias semakin tergerus akibat deforestasi dan alih fungsi lahan.

 * Tingkat Reproduksi Rendah: Beo Nias betina hanya menghasilkan 2-3 telur dalam sekali bertelung, dan telur-telur tersebut belum tentu semuanya berhasil menetas.

Baca Juga: Seorang Pejalan Kaki Tewas Tertabrak Kereta Api di Pintu Perlintasan Rawa Buaya, Cengkareng Jakarta Barat

Pemerintah Indonesia telah menetapkan Beo Nias sebagai satwa dilindungi melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 421/Kpts/Um/8/1970.

Keputusan ini bukan sekadar formalitas, melainkan seruan bagi kita semua untuk bergerak.

Melestarikan Beo Nias berarti menjaga salah satu kekayaan alam Sumatera Utara dan Indonesia (**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
Abdurahman