Banten

AHY: Bangun Infrastruktur Hijau, Selamatkan Ekonomi dan Energi Indonesia

Moehamad Dheny Permana | 23 Agustus 2025, 18:47 WIB
AHY: Bangun Infrastruktur Hijau, Selamatkan Ekonomi dan Energi Indonesia

Akurat Banten - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan bahwa arah masa depan Indonesia harus bertumpu pada infrastruktur berkelanjutan yang mampu menjawab tantangan energi sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi hijau.

Dalam PYC International Energy Conference 2025 di Jakarta, AHY menekankan bahwa pembangunan tak lagi bisa mengandalkan pola lama yang mengabaikan aspek lingkungan.

“Masa depan harus dibangun di atas infrastruktur yang berkelanjutan. Infrastruktur yang tidak hanya tangguh dan efisien, tetapi juga rendah karbon, tahan iklim, dan inklusif,” ujarnya.

Ia menambahkan, infrastruktur berkelanjutan bukan sekadar proyek fisik, melainkan fondasi penting yang akan menggerakkan transisi menuju ekonomi hijau dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Infrastruktur yang memberdayakan masyarakat kita dan menjadi jangkar transisi menuju ekonomi hijau,” kata AHY.

Baca Juga: DPRD Kabupaten Tangerang Pastikan Tidak Ada Pembahasan Kenaikan PBB-P2

Meski begitu, ia mengakui jalan menuju target ambisius ini tidaklah mudah.

Indonesia masih menghadapi tantangan serius dalam pemenuhan bauran energi terbarukan.

Hingga 2024, porsi energi bersih baru menyentuh angka 14 persen, jauh di bawah target 23 persen pada 2025.

Di sisi lain, akses listrik sudah mencapai 99,83 persen populasi. Namun, kualitas layanan dinilai belum merata.

“Rumah tangga masih mengalami pemadaman listrik lebih dari lima jam setiap tahun dan beberapa kali gangguan layanan,” ungkapnya.

Menurut AHY, rendahnya produktivitas sektor listrikyang hanya menyumbang kurang dari 2 persen terhadap pertumbuhan PDB menjadi sinyal bahwa sistem energi nasional belum bekerja optimal.

Tekanan juga muncul dari besarnya subsidi energi yang terus membebani anggaran negara.

“Angka-angka ini bukan sekadar data, melainkan ajakan untuk bertindak,” katanya.

AHY menilai, transisi energi tidak lagi bisa dianggap pilihan, melainkan sudah menjadi keharusan ekonomi, sosial, bahkan geopolitik.

Tantangan terbesar, menurutnya, terletak pada skema pembiayaan.

“Singkatnya, kita membutuhkan arsitektur keuangan baru yang mengubah ambisi iklim menjadi kenyataan yang dapat diinvestasikan,” tuturnya.

Baca Juga: Diiming-imingi Rujuk: Pengakuan Korban Terduga Pelaku Pelecehan di SMP Kota Tangerang yang Bikin Merinding!

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, pemerintah telah memasukkan aspek keberlanjutan ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029.

Perencanaan infrastruktur dan investasi publik kini diarahkan agar ramah lingkungan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.

Sejumlah langkah nyata mulai terlihat, terutama di sektor transportasi, maritim, hingga perumahan.

Pendekatan yang terintegrasi ini disebut AHY sebagai kunci agar pembangunan tidak sekadar mengejar pertumbuhan, melainkan juga menjaga kelestarian lingkungan.

“Pendekatan terpadu ini menegaskan prinsip penting bahwa transisi energi dan infrastruktur berkelanjutan harus berkembang bersama. Keduanya harus saling memperkuat untuk memastikan pertumbuhan ekonomi kita tumbuh, alih-alih mengikis lingkungan kita,” jelasnya.

Dengan pernyataan ini, AHY ingin menegaskan bahwa keberlanjutan bukan lagi jargon, melainkan arah pembangunan yang harus segera diwujudkan.

Indonesia dituntut untuk bergerak cepat, agar transformasi energi dan ekonomi hijau tidak hanya menjadi wacana, tetapi benar-benar menjadi fondasi masa depan bangsa.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.