LPSK Turun Tangan: Korban Dokter Kandungan di Garut Tak Dibiarkan Berjuang Sendiri

Akurat Banten - Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) menunjukkan sikap proaktif dalam menjangkau dan melindungi korban kekerasan seksual yang diduga dilakukan oleh seorang dokter kandungan berinisial MSF (33) di Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Langkah ini diambil sebagai bentuk kepedulian negara terhadap korban yang tengah menghadapi situasi traumatis dan proses hukum yang tidak mudah.
“Kami ingin memastikan bahwa tidak ada korban yang dibiarkan berjuang sendiri,” ujar Kepala Biro Penelaahan Permohonan LPSK, M. Ramdan.
LPSK telah memulai pemetaan awal dengan berkoordinasi bersama Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Garut, UPTD PPA Kabupaten Garut, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, serta penasihat hukum salah satu korban.
Baca Juga: Mendidih! Murka Eks Kopassus Yayat Sudrajat ke Hercules: Utang Nyawa pada TNI Jangan Dilupa!
Dari penelaahan awal, diketahui bahwa terdapat lima korban yang menjadi sasaran dugaan kekerasan seksual oleh MSF.
Dua dari lima korban tersebut sudah mendapatkan pendampingan dari UPTD PPA Kabupaten Garut.
Mereka juga telah menyerahkan dokumen penting, seperti kronologi kejadian dan bukti, kepada pihak penyidik. Kini kasusnya telah masuk ke tahap penyidikan.
LPSK juga telah memberikan formulir permohonan perlindungan kepada para korban dan menjelaskan hak-hak mereka selama proses hukum berlangsung, termasuk hak atas keamanan, bantuan medis, rehabilitasi psikologis, serta pendampingan hukum.
Baca Juga: Mendidih! Murka Eks Kopassus Yayat Sudrajat ke Hercules: Utang Nyawa pada TNI Jangan Dilupa!
“Satu permohonan perlindungan dari korban sudah kami terima dan kini dalam tahap penelaahan,” tambah Ramdan.
Ia menegaskan bahwa sesuai dengan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014, korban berhak atas perlindungan maksimal dari negara, termasuk pemulihan fisik, mental, dan sosial.
Apalagi, salah satu korban diketahui sedang dalam kondisi mengandung, yang semakin memperkuat urgensi perlindungan.
Sebelumnya, MSF telah ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Garut setelah CCTV di kliniknya memperlihatkan tindakan pelecehan saat pemeriksaan USG viral di media sosial.
Baca Juga: Jembatan Kaca Seruni Point: Magnet Baru Wisata Bromo yang Mengguncang Dunia
Ia dijerat Pasal 6 huruf b dan c dan/atau Pasal 15 ayat 1 huruf b Undang-undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual dengan ancaman maksimal 12 tahun penjara dan denda hingga Rp300 juta.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini




Terpopuler
- 1Gibran Disorot soal Ijazah, Nama Anies Baswedan Muncul! Refly Harun Ungkap Sosok Pengganti Wapres
- 2Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang Perkuat Kapasitas Keluarga dan Pemasaran UMKM di Kelurahan Setu
- 3Ranking Dua Akpol 1998! Ini Perjalanan Karier Ade Ary Syam Indradi hingga Jadi Karoops Polda Metro Jaya
- 4Ubah Stigma Mahjong, Andrew Herman Gelar Turnamen Berhadiah Rp15 Juta di One District at Puri
- 5Gibran Disebut Berpotensi Diganti, 10 Nama Ini Muncul dalam Prediksi Pengamat, Ada Puan dan AHY!
- 6Bukan Sekadar Kalah! Alexander Isak Soroti Kesalahan Fatal Liverpool saat Tumbang 2-3 di Istanbul
- 7Belum Selesai Kasus 115 Pelanggaran! Manchester City Terancam Investigasi Baru dan Sanksi Tambahan
- 8Ansor Tangsel Sukses Gelar Ansor Fest Experience 2026 di Mall, Padukan Syiar dan Kreativitas Pemuda
- 9Ranking Dua Akpol 1998! Ini Perjalanan Karier Ade Ary Syam Indradi hingga Jadi Karoops Polda Metro Jaya
- 10Jokowi dan Roy Suryo Saling Sindir di Sidang Ijazah, Ending Jabat Tangan Ini Bikin Publik Terkejut!






