Heboh di Pati Orang Tua Murid Protes Program MBG Dibagikan Siang Hari Saat Ramadan

AKURAT BANTEN - Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, menuai perhatian publik setelah sejumlah orang tua murid menyampaikan protes.
Mereka menilai pembagian makanan yang dilakukan pada siang hari selama Ramadan kurang tepat karena berpotensi memengaruhi anak-anak yang sedang belajar berpuasa.
Keluhan muncul dari wali murid di beberapa sekolah dasar yang merasa jadwal distribusi makanan seharusnya menyesuaikan dengan suasana bulan suci.
Para orang tua mengaku tidak menolak program MBG karena manfaatnya bagi kesehatan anak-anak sangat besar.
Baca Juga: Dorongan Standar Higiene Menguat, Pemerintah Targetkan Dapur MBG Lebih Aman dan Berkualitas
Namun mereka berharap pelaksanaannya lebih bijak, terutama dalam hal waktu pembagian.
Sebagian orang tua menilai pemberian makanan saat siang hari di sekolah bisa memicu anak-anak tergoda untuk membatalkan puasa.
Mereka menganggap kebijakan tersebut kurang sensitif terhadap nilai pendidikan agama yang sedang dijalankan siswa selama Ramadan.
Beberapa wali murid bahkan mengusulkan agar makanan dibagikan mendekati waktu pulang sekolah atau dalam bentuk paket yang bisa disimpan hingga waktu berbuka.
Baca Juga: MBG Picu Ledakan Permintaan Mobil dan Motor, BGN Ungkap Dampaknya ke Petani hingga Industri Susu
Dengan cara itu, manfaat gizi tetap didapatkan tanpa mengganggu latihan ibadah anak.
Program MBG sendiri merupakan bagian dari kebijakan pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi siswa di seluruh Indonesia.
Program ini menyasar pelajar dari berbagai jenjang dengan harapan anak-anak mendapatkan nutrisi yang cukup untuk menunjang pertumbuhan dan prestasi belajar.
Di sisi lain, pihak sekolah menyebut pembagian makanan dilakukan sesuai petunjuk teknis dari pelaksana program.
Baca Juga: BNI Percepat Program Prioritas Nasional dari Dapur MBG hingga Perumahan Rakyat
Jadwal distribusi mengikuti sistem logistik dapur layanan agar makanan tetap layak konsumsi.
Jika jadwal diubah secara mendadak, dikhawatirkan akan mengganggu rantai distribusi yang sudah disusun.
Meski begitu, sekolah dan pemerintah daerah disebut tetap terbuka terhadap masukan dari masyarakat.
Evaluasi pelaksanaan program di lapangan akan dilakukan untuk memastikan kebijakan tetap berjalan efektif sekaligus diterima oleh orang tua dan siswa.
Baca Juga: Kontroversi Nanas Utuh di Paket MBG, SPPG Parung Serab Beberkan Alasannya
Kasus ini mencerminkan pentingnya komunikasi antara pihak sekolah, orang tua, dan pemerintah dalam menjalankan program nasional.
Kebijakan yang baik tetap membutuhkan penyesuaian dengan kondisi lokal agar tidak menimbulkan polemik.
Pengamat pendidikan menilai Ramadan merupakan momen penting bagi pembentukan karakter siswa.
Oleh karena itu, kebijakan sekolah perlu memperhatikan nilai-nilai keagamaan tanpa mengabaikan kebutuhan gizi anak.
Sementara itu, sebagian orang tua berharap pemerintah memberikan fleksibilitas dalam pelaksanaan MBG di daerah mayoritas muslim saat Ramadan.
Mereka menilai kebijakan tersebut dapat menjaga keseimbangan antara kesehatan dan pendidikan agama.
Hingga kini, para wali murid di Pati berharap ada solusi terbaik agar program MBG tetap berjalan, namun pelaksanaannya lebih ramah bagi siswa yang menjalankan puasa.
Mereka berharap pemerintah mendengar aspirasi masyarakat demi keberhasilan program yang benar-benar bermanfaat bagi anak-anak Indonesia.
Baca Juga: Keracunan MBG Makan Spaghetti disebut Kaget Lambung oleh Gubernur Jateng Ahmad Luthfi
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










