Banten

Bukan Cuma Rugi Triliunan, Penyebab Del Monte Bangkrut Ternyata Mengejutkan

Andi Syafriadi | 4 Juli 2025, 14:04 WIB
Bukan Cuma Rugi Triliunan, Penyebab Del Monte Bangkrut Ternyata Mengejutkan

AKURAT BANTEN - Nama besar Del Monte yang selama ini identik dengan produk makanan dan minuman berkualitas kini tengah menjadi sorotan dunia bisnis global.

Perusahaan legendaris yang sudah berdiri lebih dari seabad ini dikabarkan mengalami kebangkrutan, dan penyebabnya bukan sekadar soal kerugian finansial semata.

Baca Juga: Mengapa Banyak Startup Bangkrut di Tahun Pertama? Ini Jawaban Mengejutkan Para Ahli!

Ada sejumlah faktor mengejutkan yang ikut mendorong runtuhnya raksasa industri makanan ini.

Dalam beberapa tahun terakhir, laporan keuangan Del Monte menunjukkan performa yang terus menurun.

Pada tahun fiskal terakhir sebelum dinyatakan bangkrut, perusahaan ini dilaporkan mengalami kerugian lebih dari USD 500 juta (setara dengan lebih dari Rp7 triliun).

Penurunan pendapatan ini dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari naiknya harga bahan baku, gangguan rantai pasok global, hingga persaingan ketat dengan produk lokal dan brand private label dari supermarket.

Namun ternyata, kerugian finansial bukanlah satu-satunya atau bahkan penyebab utama kebangkrutan Del Monte.

Salah satu penyebab yang paling mengejutkan adalah pergeseran perilaku konsumen.

Generasi milenial dan Gen Z kini lebih menyukai makanan segar, sehat, dan organik.

Produk kalengan dan olahan seperti yang dijual Del Monte mulai dianggap kuno, tinggi gula, dan kurang sehat.

Baca Juga: Sritex Bangkrut, Kurator Proses Penguasaan Semua Aset

Upaya rebranding dan diversifikasi produk Del Monte selama dekade terakhir dianggap terlalu lambat dan tidak cukup inovatif.

Citra “jadul” yang melekat kuat pada Del Monte, meskipun ikonik, justru menjadi beban di era digital saat ini.

Sementara kompetitor seperti Dole dan Campbell’s berhasil menyesuaikan diri dengan tren pasar, Del Monte justru tertinggal.

Dalam era teknologi dan e-commerce, brand yang ingin bertahan dituntut untuk aktif secara digital baik melalui pemasaran online, kolaborasi dengan influencer, maupun penjualan via marketplace.

Baca Juga: Anggota DPRD Lebak Angkat Bicara, Ambulance Tidak Bayar Parkir pun, RSUD Adjidarmo Tak Akan Bangkrut

Sayangnya, Del Monte terlambat masuk ke ekosistem digital. Produk-produknya jarang terlihat di platform media sosial, dan kampanye pemasaran digitalnya dianggap kurang menarik bagi generasi muda.

Sementara brand-brand baru bermunculan dengan strategi pemasaran agresif, Del Monte seolah terjebak pada pola lama, mengandalkan loyalitas konsumen lama yang kini semakin menipis.

Tak bisa dipungkiri, beban utang perusahaan yang besar dan keputusan manajemen yang kontroversial turut mempercepat kejatuhan Del Monte.

Beberapa akuisisi yang dilakukan ternyata tidak menghasilkan keuntungan seperti yang diharapkan.

Selain itu, penutupan beberapa pabrik dan pemutusan hubungan kerja besar-besaran malah memperburuk citra perusahaan di mata publik dan investor.

Setelah mengajukan perlindungan kebangkrutan (Chapter 11) di AS, Del Monte menyatakan akan mencoba melakukan restrukturisasi dan menjual sebagian asetnya.

Belum diketahui apakah merek ini bisa diselamatkan, atau akan menjadi bagian dari sejarah industri makanan global yang berakhir tragis.

Bagi banyak orang, Del Monte bukan sekadar brand, tapi juga bagian dari masa kecil dan kenangan di meja makan.

Baca Juga: SEJAK 2005 Sudah 120 Bank Kehilangan Ijin, Tahun 2023 Ada 2 Bank Bangkrut, Bagaimana Dengan Nasib Nasabah?

Itulah sebabnya kabar kebangkrutan ini terasa mengejutkan dan menyedihkan.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.