Banten

Viral Drama Malaysia 'Bidaah' Picu Kontroversi: Benarkah Meminum Air Bekas Cuci Kaki Dibolehkan dalam Islam? Ini Kata Buya Yahya dan UAS!

Saeful Anwar | 10 April 2025, 11:28 WIB
Viral Drama Malaysia 'Bidaah' Picu Kontroversi: Benarkah Meminum Air Bekas Cuci Kaki Dibolehkan dalam Islam? Ini Kata Buya Yahya dan UAS!

 

AKURAT BANTEN- Jagat maya tengah dihebohkan dengan serial drama asal Malaysia berjudul 'Bidaah'.

Bukan sekadar alur cerita yang menarik namun sejumlah adegan kontroversial dalam drama tersebut menjadi perbincangan hangat di kalangan warganet.

Salah satu adegan yang paling menuai pro dan kontra adalah praktik meminum air bekas cucian kaki seorang pemimpin sekte keagamaan bernama Walid Muhammad.

Baca Juga: Polisi Ungkap Motif Dokter Residen yang Bius dan Perkosa Keluarga Pasien RSHS Bandung

Sosok Walid yang digambarkan karismatik berhasil menghimpun banyak pengikut, meskipun tak sedikit pula yang menentang ajarannya dan menganggapnya sesat.

Potongan video yang memperlihatkan adegan pengikut mencium dan bahkan meminum air bekas cucian kaki Walid dengan cepat menyebar luas di media sosial.

Fenomena ini pun tak luput dari sorotan warganet di Indonesia, yang kemudian mengaitkannya dengan tradisi serupa yang ada di Tanah Air.

Baca Juga: Tandai Akun Medsos Atalia Praratya, Begini Isi Pesan Permintaan Maaf Lisa Mariana

Menanggapi hal ini, Lora KH Muhammad Ismail Al-Kholili, seorang keturunan Syaikhona Kholil Bangkalan, memberikan penegasan.

Beliau menjelaskan bahwa mencium tangan, kepala, dan kaki orang saleh memang dianjurkan dalam Islam sebagai bentuk penghormatan.

Namun, terkait dengan praktik meminum air bekas cucian kaki, Lora Ismail mengaku tidak menemukan adanya anjuran dari ulama Indonesia mengenai hal tersebut.

Baca Juga: Ray Dalio Pernah Beri Peringatan ke Presiden Prabowo Soal Danantara

Di sisi lain, tradisi meminum air bekas cuci kaki ibu juga masih ditemukan di beberapa daerah di Indonesia.

Tradisi ini biasanya dilakukan ketika seorang anak memiliki suatu hajat atau keinginan tertentu.

Lantas, muncul pertanyaan mendasar: Apakah tradisi meminum air bekas cuci kaki ibu ini dibenarkan dalam ajaran Islam?

Baca Juga: Kebijakan Trump Ternyata Berpotensi Naikkan Permintaan Batubara, Indonesia Bisa Raup Untung Besar

Untuk menjawab pertanyaan krusial ini, mari kita simak penjelasan dari dua ulama kondang Indonesia, KH Yahya Zainul Ma’arif alias Buya Yahya dan Ustadz Abdul Somad (UAS):

Penjelasan Tegas Buya Yahya: Tidak Ada Anjuran Minum Air Bekas Cuci Kaki Ibu

Buya Yahya dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada anjuran dalam Islam untuk meminum air bekas basuhan kaki ibu.

Beliau justru menekankan anjuran untuk mencium kaki ibu sebagai wujud bakti dan penghormatan.

Baca Juga: Soal Kemacetan di Kota Tangerang, Sachrudin Ngarep Transportasi Publik DKJ Diperpanjang

"Gak tau dari mana cerita itu. Gak ada pendidikan semacam itu. Mencium kaki ibunda dicuci, lalu airnya diminum," ujar Buya Yahya dalam tayangan YouTube Al Bahjah TV, Rabu (9/4/2025).

Lebih lanjut, Buya Yahya menjelaskan bahwa meskipun kaki seorang ibu adalah mulia, air bekas cuciannya tetaplah air yang telah menginjak berbagai kotoran.

Oleh karena itu, meminumnya tidak diperkenankan. Beliau lebih menganjurkan umat Islam untuk menunjukkan kasih sayang dan hormat kepada ibu dengan cara mencium kaki, tangan, kening, atau pipi, serta berakhlak lembut kepadanya.

Baca Juga: Kisah Cinta Tak Lekang Waktu: Ahmad Albar Kembali Jadi Ayah di Usia Senja dan Harmoni Keluarga yang Menginspirasi

"Mencium bekas cucian air (kaki ibu) tidak, kotor itu. Bukan kaki ibu Anda yang kotor, tapi kaki ibu Anda menginjak sesuatu yang kotor di bawah. Tidak diperkenankan meminum air bekas cuci kaki ibu, tapi kalau mencium kaki ibu ada, dicontohkan oleh sahabat nabi bersama baginda Nabi Muhammad SAW," tegas Buya Yahya.

Pandangan Ustadz Abdul Somad: Fokus pada Esensi Berbakti, Bukan Ritual Semata

Senada dengan Buya Yahya, Ustadz Abdul Somad (UAS) juga memberikan penjelasannya terkait pertanyaan serupa.

Baca Juga: Dedi Mulyadi Gubernur Jabar: Dari Teguran Pedas Bupati, hingga Raja Konten YouTube dengan Penghasilan Fantastis, Melebihi Gaji Gubernur!

Beliau mengutip sebuah percakapan antara Rasulullah SAW dengan seorang sahabat yang ingin ikut berperang dengan harapan masuk surga jika gugur.

"Ya Rasulullah, aku mau ikut perang, karena kalau aku mati saat perang, aku masuk surga," kata sahabat tersebut, seperti yang disampaikan UAS melalui kanal YouTube Nderek UAS.

Rasulullah SAW kemudian bertanya, "'Emak (ibu) kau masih hidup?' Kata dia, 'Ada di rumah'. Kata nabi, 'Kau urus telapak kakinya maka kau dapat surga'."

Baca Juga: Sistem IT Amburadul, Berakibat Fitur Transfer Antarbank dan QRIS Sementara Ditiadakan, Pengamat: Ada Kesengajaan?

UAS menjelaskan bahwa perintah untuk "mengurus telapak kaki ibu" dalam hadis tersebut bukanlah makna literal.

Menurutnya, ini adalah sebuah kiasan yang berarti memperlakukan ibu dengan sebaik-baiknya, penuh hormat, berakhlak mulia, dan tidak membantah perkataannya selama tidak bertentangan dengan ajaran agama.

"Urus telapak kakinya maksudnya dia kasih belanja, senangkan hatinya. Banyak orang sekarang pas mau tes P3K (pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja) diminumnya air (bekas cuci kaki) emaknya. Pas udah menang, duit gajinya dikasih ke bininya. Emaknya seperak pun tak dapat. Ini terjebak pada ritual," tutur UAS.

Baca Juga: Biaya USG di Bidan Kota Cilegon, Bisa Gratis Pakai BPJS Kesehatan?

UAS dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada perintah langsung dari Rasulullah SAW untuk meminum air bekas cuci kaki ibu.

Beliau mengingatkan umat Islam untuk tidak terjebak pada ritual-ritual yang tidak memiliki dasar kuat dalam agama dan melupakan kewajiban yang sesungguhnya seorang anak kepada orang tuanya.

Dari penjelasan kedua ulama terkemuka ini, dapat disimpulkan bahwa tradisi meminum air bekas cuci kaki, baik dari orang saleh maupun ibu, tidak memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Kamis 10 April 2025 Provinsi Banten, Waspada Hujan hingga Angin Kencang

Islam lebih menekankan pada esensi penghormatan, kasih sayang, dan bakti yang tulus kepada orang tua dan para ulama melalui tindakan yang lebih mulia dan sesuai dengan tuntunan agama, seperti mencium tangan, kaki, atau bersikap lembut dan penuh perhatian.

Fenomena yang diangkat dalam serial 'Bidaah' ini menjadi pengingat penting bagi umat Islam untuk senantiasa berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW, serta merujuk pada pemahaman para ulama yang terpercaya dalam mengamalkan ajaran agama.

Wallahu a'lam bishawab (**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
Abdurahman